Denpasar (Atnews) - Guru Besar Universitas Udayana (Unud) Prof Dr Ir I Gusti Ngurah Nitya Shantiarsa MT mengharapkan ekonomi India Indonesia kembali bangkit dengan jalur rempahnya.
Dalam catatan sejarah, India dan Indonesia, memiliki jalur ekonomi yang dikenal dengan jalur rempah menghubungkan Samudra India dan Fasifik (ASEAN dan China).
Mengingat, kawasan Nusantara telah lama dikenal sebagai penghasil rempah dan sangat terkenal di dunia.
Apalagi pada tahun 400 Masehi, seorang sastrawan India bernama Kalidasa menyebut istilah “Dvipantara” sebagai kepulauan penghasil cengkih dalam kumpulan puisinya berjudul Raghuvamsa. Para sejarawan memercayai Dvipantara adalah Nusantara atau Indonesia setelah merdeka.
Rempah seperti cengkih dan pala termasuk komoditas yang sangat berharga dan nilainya lebih dari emas, seperti pernah ditulis oleh Jack Turner, yang mengutip katalog dari saudagar Italia Francesco Balducci Pegolotti.
Cengkih dan pala sendiri hanya tumbuh di daerah barat Halmahera, yaitu Tidore, Ternate, Moti, Makian dan Bacan. Selain itu, dua tanaman tersebut juga terdapat di Pulau Banda.
Rempah-rempah dari Maluku kemudian diperdagangkan di Jawa dan Sumatera, yang membuat Kerajaan Sriwijaya hingga Banten menjadi pusat perdagangannya. Komoditas ini kemudian terkenal ke seantero dunia karena bisa menyejahterakan para pedagang.
Hal itu disampaikan usai Presiden Prabowo bersama menyambut Perdana Menteri India Narendra Modi sebagai pemimpin Hindu memiliki pengaruh global yang mengunjungi Indonesia pada 6 hingga 8 Juli 2026.
Begitu juga jalur budaya yg dirintis oleh Maharsi Agastya dan para tetua Raja - raja Dinasti Warmadewa.
Dimana Pendiri Dinasti yakni Sri Kesari Warmadewa, menurut riwayat lisan turun-temurun, yang berkuasa sejak abad ke-10.
Dalam prasasti Blanjong di Sanur dan menjadikannya sebagai Raja Bali pertama yang disebut dalam catatan tertulis. Menurut prasasti ini, Sri Kesari adalah penganut Budha Mahayana yang ditugaskan dari Jawa untuk memerintah Bali.
Dinasti itulah yang memiliki hubungan dekat dengan penguasa Kerajaan Medang periode Jawa Timur pada abad ke-10 hingga ke-11. Salah satu Dinasti kerajaan yang terbesar di Kepulauan Nusantara dan semenanjung Asia Tenggara adalah Dinasti Warman atau Warmadewa.
Warmadewa berasal dari bahasa Sansekerta secara umum berarti berarti Dewa Pelindung atau Dilindungi Dewa. Raja-Raja dari Dinasti Warmadewa ini awalnya berasal dari India (kerajaan Pallawa) 3, muncul kemudian menyebar ke Nusantara dan ke wilayah Asia Tenggara sejak abad ke-5 Masehi, mendirikan dan menguasai banyak kerajaan, seperti Kaundhiya, pengikut ajaran Maharsi Agastya, mendirikan Dinasti Warmadewa di Funan (Kamboja sekarang), kemudian kerabatnya yang lainnya bernama Kudungga, pada periode yang sama mendirikan Dinasti Warmadewa di Kerajaan Kutai atau Poli di Kalimantan Timur.
Dikatakan juga, Dalem Sri Kesari pendiri Dinasti Warmadewa di Bali. Raja Dinasti Warmadewa pertama di Bali adalah Dalem Sri Kesari Warmadewa (bermakna Yang Mulia Pelindung Kerajaan Singha) yang dikenal juga dengan Dalem Selonding, datang ke Bali pada akhir abad ke-9 atau awal abad ke-10, beliau berasal dari Sriwijaya (Sumatra) dimana sebelumnya pendahulu beliau dari Sriwijaya telah menaklukkan Tarumanegara (tahun 686) dan Kaerajaan Kalingga di pesisir utara Jawa Tengah/Semarang sekarang.
Persaingan dua kerajaan antara Mataram dengan Raja yang berwangsa Sanjaya dan kerajaan Sriwijaya dengan Raja berwangsa Syailendra (Dinasti Warmadewa) terus berlanjut sampai ke Bali.
Di Bali, Sri Ratu Ugrasena (915-942), Raja kerajaan Singhamandawa (pusat istana di Sukawana, Penulisan, Bangli) yang berkaitan dengan kerajaan Kanuruhan dan Mataram (Sanjayawangsa) bersaing dengan Dalem Sri Kesari Warmadewa yang mulanya beristana di Bhumi Kahuripan Singhadwara (dekat Pura Besakih sekarang) kemudian memindahkan ibukota ke Pejeng.
Di dalam Purana Bali Dwipa, diceritakan Dalem Sri Kesari Warmadewa menaklukkan Raja Mayadanawa yang memerintah di Bali dimana pada masanya melarang upacara Dewa Yajna di Pura Kahyangan seluruh Bali.
Oleh Dalem Sri Kesari, pura-pura yang rusak kemudian diperbaiki, setelah itu mengadakan upacara Yajna untuk memuja Tuhan dan menghormati para leluhur dilaksanakan pada hari Budha Kliwon Dunggulan yang kelak disebut hari Galungan atau hari kemenangan.
Pulau Bali kembali menjadi aman dan makmur serta wilayah kekuasaan meliputi Makasar, Sumbawa, Sasak dan Blambangan.
Rupanya persaingan ini dimenangkan oleh Dinasti Warmadewa, karena sejak tahun 942 tidak ada lagi prasasti yang dikeluarkan oleh Sri Ratu Ugrasena.
Sementara itu, monumen agung budaya bukan hanya Candi Prambanan dan Borobudur, namun juga Candi Muaro Jambi dan Muaro Takus di Sumatra.
Sesungguhnya dulu Indonesia juga sdh memberi balasan budaya berupa partisipasi membangun Universitas Nalanda.
"Apa yang terjadi hari ini merupakan kelanjutan apa yang sudah dirintis para leluhur baik di India maupun di Indonesia, dan sangat diharapkan kerja sama berkelanjutan dan bertambah erat," harapnya.
Sedangkan, Guru Besar Ilmu Bahasa Sanskerta UHN IGB Sugriwa Prof. Dr. I Made Surada, MA. merespon pernyataan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, di hadapan Perdana Menteri India Narendra Modi mengenai besarnya pengaruh bahasa Sanskerta terhadap bahasa Indonesia di Jakarta, Rabu (8/7).
Kunjungan ke Indonesia itu merupakan pembuka dari rangkaian lawatan regional PM Modi di kawasan Asia-Pasifik, di mana ia juga dijadwalkan melanjutkan perjalanan ke Australia dan Selandia Baru hingga 11 Juli 2026.
"Hal itu merupakan pengingat penting bahwa hubungan Indonesia dan India tidak hanya dibangun melalui kerja sama diplomatik masa kini, tetapi juga bertumpu pada ikatan peradaban yang telah terjalin selama lebih dari satu milenium," kata Prof Surada di Denpasar, Rabu (8/7).
Pernyataan tersebut sekaligus membuka ruang bagi masyarakat Indonesia untuk kembali mengenali akar kebudayaannya yang telah membentuk identitas bangsa sejak masa kerajaan-kerajaan Nusantara.
Sebagai profesor di bidang Bahasa Sanskerta, piahknya memandang bahwa pernyataan Presiden memiliki makna yang jauh melampaui aspek kebahasaan.
Bahasa Sanskerta merupakan salah satu fondasi utama dalam pembentukan peradaban Indonesia, terutama pada masa berkembangnya kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha seperti Kutai, Tarumanegara, Mataram Kuno, Kediri, Singhasari, hingga Majapahit.
Pada masa itu, Sanskerta bukan sekadar bahasa komunikasi, melainkan bahasa ilmu pengetahuan, filsafat, hukum, sastra, politik, dan spiritualitas yang digunakan dalam penyusunan prasasti, kitab-kitab keagamaan, serta dokumen kenegaraan.
Jejak tersebut masih dapat dibuktikan melalui berbagai prasasti tertua di Indonesia, seperti Prasasti Yupa di Kutai, Prasasti Ciaruteun di Tarumanegara, maupun prasasti-prasasti pada masa Mataram Kuno yang menggunakan bahasa Sanskerta dengan aksara Pallawa.
Hal itu menunjukkan bahwa sejak awal sejarah Nusantara, bahasa Sanskerta telah menjadi medium penyebaran ilmu pengetahuan, etika pemerintahan, dan nilai-nilai keagamaan.
Perkembangan agama Hindu di Indonesia juga tidak dapat dipisahkan dari peran bahasa Sanskerta. Kitab-kitab suci Veda, Upanisad, Purana, Itihasa, hingga berbagai teks ritual dan filsafat diwariskan dalam bahasa Sanskerta.
Ketika ajaran Hindu berkembang di Nusantara, bahasa tersebut mengalami proses adaptasi dengan budaya lokal tanpa kehilangan substansi ajarannya. Dari proses inilah lahir berbagai karya sastra Jawa Kuno dan Bali Kuno yang memperlihatkan dialog kreatif antara tradisi Nusantara dengan khazanah intelektual Sanskerta.
Bali menjadi salah satu wilayah yang berhasil menjaga kesinambungan warisan tersebut hingga saat ini.
Ribuan naskah lontar yang tersimpan di griya, puri, museum, perpustakaan, dan koleksi masyarakat memuat istilah, mantra, sloka, hingga kutipan utuh berbahasa Sanskerta.
Berbagai teks seperti Wrhaspati Tattwa, Tattwa Jnana, Ganapati Tattwa, Siwa Tattwa, Tutur, Usada, serta berbagai kakawin klasik seperti Kakawin Ramayana, Arjunawiwaha, Sutasoma, dan Bharatayuddha menunjukkan betapa kuatnya pengaruh Sanskerta dalam tradisi intelektual Nusantara.
Bahkan, hingga kini pelaksanaan upacara keagamaan Hindu di Bali masih menggunakan mantra-mantra Sanskerta yang diwariskan secara turun-temurun sebagai bagian dari tradisi liturgi Hindu.
Warisan tersebut menunjukkan bahwa bahasa Sanskerta di Indonesia bukan sekadar peninggalan sejarah, melainkan bahasa yang masih hidup dalam praktik keagamaan, pendidikan, kesusastraan, seni, dan kebudayaan.
Melalui bahasa Sanskerta, nilai-nilai universal seperti dharma (kebenaran dan kewajiban moral), satya (kejujuran), ahimsa (tanpa kekerasan), karuna (kasih sayang), dan vasudhaiva kutumbakam (seluruh dunia adalah satu keluarga) terus diwariskan kepada generasi penerus.
Dalam perspektif linguistik, pernyataan Presiden mengenai besarnya pengaruh Sanskerta perlu dipahami sebagai penegasan terhadap kontribusi luar biasa bahasa tersebut dalam membentuk kosakata Indonesia.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa Sanskerta merupakan salah satu sumber serapan terbesar dalam bahasa Indonesia, khususnya untuk istilah yang berkaitan dengan pemerintahan, pendidikan, kebudayaan, filsafat, hukum, dan agama.
Kata-kata seperti bahasa, agama, negara, desa, pustaka, karya, manusia, utama, raja, putra, putri, surya, aditya, wijaya, dharma, dan satya merupakan sebagian kecil dari warisan leksikal Sanskerta yang digunakan masyarakat Indonesia setiap hari.
Tidak hanya itu, ribuan nama masyarakat Indonesia juga menggunakan unsur-unsur Sanskerta, mencerminkan nilai-nilai luhur yang diharapkan melekat pada seseorang.
Nama seperti Aditya, Surya, Dharma, Chandra, Satya, Arya, Wijaya, Kusuma, Saraswati, Wisnu, Indra, Laksmana, Putra, dan Putri merupakan bukti bahwa bahasa Sanskerta telah menyatu dengan identitas sosial dan budaya bangsa Indonesia tanpa memandang latar belakang agama maupun etnis.
Momentum yang disampaikan Presiden Prabowo hendaknya menjadi titik awal untuk memperkuat pengkajian bahasa Sanskerta di Indonesia.
Upaya pelestarian manuskrip Nusantara, digitalisasi lontar, pengembangan filologi, kajian epigrafi, serta kerja sama akademik antara Indonesia dan India perlu terus didorong agar kekayaan intelektual tersebut dapat diwariskan kepada generasi mendatang.
Bahasa Sanskerta bukan hanya milik masa lalu, melainkan sumber inspirasi bagi pengembangan ilmu pengetahuan, kebudayaan, dan diplomasi peradaban Indonesia di tingkat global.
Sebagai bangsa yang memiliki warisan budaya yang sangat kaya, Indonesia patut berbangga karena berhasil mengadaptasi bahasa Sanskerta menjadi bagian dari identitas nasional.
Pernyataan Presiden Prabowo mengingatkan kita bahwa akar kebudayaan Indonesia dibangun melalui proses dialog antarperadaban yang menghasilkan sintesis budaya yang khas.
Oleh sebab itu, menjaga dan mengembangkan kajian bahasa Sanskerta berarti menjaga memori sejarah bangsa sekaligus merawat salah satu fondasi penting peradaban Indonesia yang tetap hidup hingga hari ini. (GAB/ART)