Kerjasama Inovasi Desa Dalam Pengembangan Ekowisata Berbasis Budaya dan Lingkungan di Desa Sukawati Kecamatan Sukawati Kabupaten Gianyar Bali
Banner Bawah

Kerjasama Inovasi Desa Dalam Pengembangan Ekowisata Berbasis Budaya dan Lingkungan di Desa Sukawati Kecamatan Sukawati Kabupaten Gianyar Bali

Admin 2 - atnews

2026-08-05
Bagikan :
Dokumentasi dari - Kerjasama Inovasi Desa Dalam Pengembangan Ekowisata Berbasis Budaya dan Lingkungan di Desa Sukawati
Kecamatan Sukawati Kabupaten Gianyar Bali
I Wayan Sudana, I Nyoman Wiratmaja, I Wayan Gede Suacana (ist/atnews)

Oleh I Wayan Sudana, I Nyoman Wiratmaja, I Wayan Gede Suacana


Pengembangan Ekowisata Berbasis Budaya Inovasi Kolaborasi


Desa Sukawati, yang terletak di wilayah pusat kecamatan, memiliki luas wilayah 7,35 km² dan jumlah penduduk sekitar 13.658.000 jiwa. Secara administrasi Desa Sukawati terdiri dari 13 banjar definitif dan 14 banjar adat. Sukawati merupakan satu Desa Adat dan satu Desa Dinas merupakan satu kesatuan yang harmonis (dualitas).


Desa Sukawati memiliki potensi sosial, budaya, ekonomi dan lingkungan yang sangat besar untuk pengembangan ekowisata berbasis budaya dan lingkungan dengan kekayaan nilai budaya, serta sistem kehidupan masyarakat yang erat kaitannya dengan konsep Tri Hita Karana yang menjadi dasar filosofi hidup di Bali.


Konsep ini yang menjadi pondasi penting dalam mengembangkan ekowisata yang selaras dengan nilai kearifan local untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat tanpa menghilangkan identitas budaya lokal.


Namun demikian, pengembangan ekowisata berbasis budaya dan lingkungan tidak lepas dari berbagai tantangan. Beberapa permasalahan yang sering muncul meliputi kurangnya koordinasi antar pemangku kepentingan, keterbatasan kapasitas Sumber Daya Manusia dalam mengelola wisata, risiko degradasi lingkungan akibat aktivitas wisata yang tidak terkontrol, serta potensi hilangnya nilai budaya akibat komersialisasi yang berlebihan.


Selain itu, perencanaan yang belum terstruktur dan aksesibilitas infrastruktur yang masih perlu ditingkatkan juga menjadi hambatan dalam mewujudkan Desa Sukawati sebagai kawasan ekowisata yang berkualitas.


Tujuan Penelitian


Penelitian ini bertujuan untuk; mengidentifikasi bentuk kerjasama inovasi desa dalam pengembangan ekowisata, dan menganalisis peran para pemangku kepentingan dalam pengelolaan ekowisata, serta merumuskan model kolaborasi yang mendukung pengembangan ekowisata berbasis budaya dan lingkungan, menganalisis potensi lingkungan, budaya, dan ekonomi Desa Sukawati sebagai dasar pengembangan ekowisata berbasis budaya dan lingkungan, mendeskripsikan tantangan yang dihadapi dalam proses pengembangan ekowisata, dan merumuskan rencana aksi yang terstruktur dan dapat diimplementasikan berdasarkan hasil analisis potensi dan tantangan nantinya dapat memberi kontribusi melalui rekomendasi dalam membangun fondasi untuk mengembangkan dan menjadikan Desa Sukawati sebagai kawasan ekowisata berbasis budaya dan lingkungan yang berkelanjutan (sustainable).


Metode Penelitian


Penelitian ini menggunakan metode dengan pendekatan kualitatif karena penulis ingin memahami peristiwa dan kejadian yang sedang terjadi yang berkaitan langsung dengan subjek penelitian dengan teknik pengumpulan data yaitu, observasi, wawancara, dan teknik dokumentasi, Bertujuan untuk menjawab dan memberikan solusi terhadap permasalahan yang terjadi sehingga memerlukan pemahaman secara sistematis dan mendalam yang dilakukan secara wajar dan alami sesuai dengan keadaan asli serta kondisi objektif di lapangan tanpa adanya manipulasi data. Lokasi atau objek penelitian dilakukan di Desa Sukawati, Kabupaten Gianyar, Bali.


Analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara interaktif dan terus menerus sampai selesai, sehingga mendapatkan data yang lengkap. Adapun aktivitas dalam teknik analisis data kualitatif, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.


Potensi Desa Sukawati


Desa Sukawati merupakan desa tua, beberapa nilai historis yang menjadi kekuatan Desa Sukawati, antara lain: warisan sejarah Kerajaan Sukawati dan keberadaan Puri Sukawati; tradisi seni dan budaya yang berkembang turun-temurun


secara kelembagaan, keberadaan desa adat sangat berperan dan masih berfungsi kuat dalam menjaga tatanan tradisi kehidupan Masyarakat; dan keberadaan Art Market Sukawati sebagai ikon ekonomi kreatif dan pariwisata Bali.


Warisan sejarah kerajaan, tradisi seni, kelembagaan adat, dan kearifan lokal menjadi fondasi penting dalam pengembangan ekowisata yang tidak hanya berorientasi pada kunjungan wisatawan, tetapi juga pada pelestarian budaya dan lingkungan secara berkelanjutan.


Sejarah Desa Sukawati menunjukkan bahwa desa ini memiliki modal budaya (cultural as capital) yang sangat kuat.


Warisan budaya yang dimiliki, maka dapat dikatagorikan bahwa Desa Sukawati sebagai desa budaya karena memenuhi beberapa indikator utama desa budaya, antara lain: memiliki warisan budaya berwujud (tangible heritage) seperti pura, puri, pasar seni, dan karya seni; memiliki warisan budaya tak berwujud (intangible heritage) berupa adat-istiadat,


upacara keagamaan, seni pertunjukan, nilai gotong royong, kekeluargaan (ngayah), dan kearifan lokal (musyawarah, solidaritas sosial, dan pelestarian adat dan budaya), nilai-nilai budaya ini masih dipraktikkan secara aktif oleh masyarakat lintas generasi yang merupakan warisan budaya tak benda (intangible cultural heritage) yang sangat penting; kelembagaan adat yang berfungsi menjaga keberlanjutan budaya, sistem sosial adat dan banjar.


Nilai-nilai tersebut merupakan warisan budaya tak benda (intangible cultural heritage) yang sangat penting; filosofi Tri Hita Karana yang menjadi landasan dalam pembangunan desa, pelestarian budaya, dan pengelolaan lingkungan.


Warga lokal Desa Sukawati masih memegang teguh konsep Tri Hita Karana dengan tetap menjaga harmoni manusia dengan Tuhan (parahyangan), harmoni manusia dengan sesama (pawongan), harmoni manusia dengan alam (palemahan).


Potensi lingkungan merupakan salah satu modal utama yang mendukung pengembangan ekowisata di Desa Sukawati. Selain dikenal sebagai pusat seni dan budaya, Desa Sukawati juga memiliki sumber daya lingkungan yang dapat dikembangkan sebagai daya tarik wisata berkelanjutan. Potensi lingkungan tersebut antara lain: lanskap persawahan dan pertanian tradisional.


Hamparan sawah yang dikelola oleh masyarakat dengan sistem pertanian tradisional bali dengan sistem subaknya. Keberadaan persawahan tidak hanya berfungsi sebagai sumber penghidupan masyarakat, tetapi juga memiliki nilai estetika dan edukasi yang tinggi bagi wisatawan; sistem subak sebagai warisan budaya lingkungan


Subak merupakan bentuk kearifan lokal dalam pengelolaan sumber daya air dan pertanian; sungai dan sumber daya air; Daerah Aliran Sungai (DAS) Petanu dan Sungai Wos yang melalui wilayah Sukawati memiliki fungsi penting bagi kehidupan masyarakat dan kegiatan pertanian. Sungai juga memiliki potensi sebagai daya tarik wisata alam apabila dikelola secara berkelanjutan.


Kolaborasi Antar Aktor


Kolaborasi antar aktor dapat diperlihatkan dari keterlibatan aktor dalam pengembangan ekowisata berbasis budaya dan lingkungan di Desa Sukawati, antara lain: Pemerintah Desa, keterlibatan pemerintah desa dalam kerjasama inovasi pengembangan ekowisata berbasis budaya dan lingkungan di Desa Sukawati adalah dalam hal perencanaan, fasilitasi program, koordinasi dan kebijakan berupa perdes atau peraturan lainya


Desa Adat, desa adat keterlibatanya kerjasama inovasi pengembangan ekowisata berbasis budaya dan lingkungan di Desa Sukawati, yaitu pelestarian budaya dan penguatan nilai-nilai lokal serta dalam hal pembuatan payung hukum berupa perarem


Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), berperan dalam hal tata kelola atau pengelolaan kegiatan wisata; Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), erperan dalam hal penyediaan produk ekonomi kreatif; Komunitas Seni, berperan dalam hal penyuguhan dan keterlibatanya menyediakan atraksi budaya


Komunitas Lingkungan, berperan dan terlibat untuk pelestarian program-program lingkungan yang telah dituangkan dalam perencanaan oleh pemerintah desa; Akademisi, berperan melakukan fungsi pemberdayaan untuk mengedukasi melalui pendampingan atau advokasi untuk penguatan kapasitas; dan Masyarakat, ikut serta dan terlibat dalam kegiatan untuk mendukung terwujudnya kerjasama dalam pengembangan ekowisata berbasis budaya dan lingkungan di Desa Sukawati.


Bentuk Kerjasama


Kerjasama inovasi pemerintah desa dalam pengembangan ekowisata berbasis budaya dan lingkungan di Desa Sukawati, kerjasama multipihak-pemangku-pemangku kepentingan (stakeholders), dilihat dari:


1.Penyelenggaraaan kegiatan budaya seperti, atraksi budaya biasanya dilaksanakan pada kegiatan bulan bahasa dan perayaan bulan Bung Karno.
2. Pengembangan UMKM melalui berbagai produk ekonomi kreatif.
3. Promosi destinasi wisata.
4. Pelestarian lingkungan berbasis masyarakat oleh komunitas lingkungan bersama pemangku pemangku kepentingan lainya
5. Penguatan kapasitas masyarakat melalui pendampingan dan kolaborasi oleh akademesi berkolaborasi dengan stakeholders.


Tantangan Yang Dihadapi


Beberapa permasalahan yang sering muncul terkait Kerjasama inovasi pemerintah desa dalam pengembangan ekowisata berbasis budaya dan lingkungan di Desa Sukawati, meliputi; masalah koordinasi antar pemangku kepentingan masih tumpeng tindih; kapasitas sumber daya manusia Masyarakat lokal dalam pengelolaan wisata belum optimal; resiko degradasi lingkungan akibat aktivitas wisata yang tidak terkontrol, serta potensi hilangnya nilai budaya akibat komersialisasi yang berlebihan.


Selain itu, perencanaan yang belum terstruktur dan aksesibilitas infrastruktur yang masih kurang, Promosi digital belum dilakukan secara terpadu, persoalan lain yang menjadi tantangan yaitu belum tersedia model kolaborasi yang terdokumentasi secara sistematis dan juga menjadi hambatan dalam mewujudkan Desa Sukawati sebagai kawasan ekowisata yang berkualitas.


Temuan Sementara


  1. Terbangun kerjasama multipihak (stakeholders) dalam pengembangan ekowisata berbasis budaya dan lingkungan di Desa Sukawati
  2. Budaya lokal menjadi identitas/ikon (branding) utama destinasi wisata di Desa Sukawati
  3. Partisipasi aktif masyarakat dengan keterlibatanya dalam pelestarian budaya dan lingkungan.
  4. Inovasi desa mulai diarahkan pada penguatan ekonomi kreatif dan promosi digital.
  5. Sinergi antaraktor menjadi modal sosial dalam mewujudkan pembangunan pariwisata berkelanjutan (sustainable) di Desa Sukawati.


Hasil Penelitian


Berdasarkan analisis awal menunjukkan bahwa pengembangan ekowisata di Desa Sukawati menerapkan pendekatan collaborative governance, yaitu adanya keterlibatan berbagai pemangku kepentingan yang terlibat dalam proses perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, tatakelola program wisata desa. Pemerintah desa berperan sebagai koordinator utama, sementara masyarakat menjadi pelaku utama dalam pengelolaan potensi wisata.


Hasil penelitian tentang kerjasama inovasi pemerintah desa dalam pengembangan ekowisata berbasis budaya dan lingkungan di Desa Sukawati menunjukan, bahwa: Integrasi atraksi budaya dengan wisata edukasi; Pengembangan produk UMKM berbasis budaya lokal; Pemanfaatan media digital sebagai sarana promosi destinasi; dan Kegiatan pelestarian lingkungan sebagai bagian dari paket wisata.


Kesimpulan


Berdasarkan beberapa temuan dan hasil penelitian tentang; kerjasama inovasi pemerintah desa dalam pengembangan ekowisata berbasis budaya dan lingkungan di Desa Sukawatii atas, maka dapat disimpulkan sementara, bahwa Desa Sukawati memiliki modal budaya, lingkungan, dan sosial yang kuat untuk dikembangkan sebagai destinasi ekowisata berbasis budaya dan lingkungan.


Pengembangan tersebut didukung oleh kerjasama atau kolaborasi berbagai pemangku-pemangku kepentingan (stakeholders) melalui pendekatan collaborative governance.


Meskipun demikian, penguatan kapasitas kelembagaan, peningkatan koordinasi, serta inovasi dalam promosi dan pengelolaan wisata masih diperlukan agar pengembangan ekowisata berbasis budaya dan lingkungan di Desa Sukawati dapat berlangsung secara berkelanjutan.


*) I Wayan Sudana, I Nyoman Wiratmaja, I Wayan Gede Suacana, Dosen Program Studi Ilmu Pemerintahan FISIP Universitas Warmadewa


Baca Artikel Menarik Lainnya : Gubernur Otomatis Jadi Komandan Satgas Darurat Bencana

Terpopuler

Asbes dan Kanker

Asbes dan Kanker

Implementasi Kelas Virtual Bali Melajah Diperkuat, Guru SMA Negeri 1 Kintamani Siap Wujudkan Pembelajaran Digital yang Inovatif

Implementasi Kelas Virtual Bali Melajah Diperkuat, Guru SMA Negeri 1 Kintamani Siap Wujudkan Pembelajaran Digital yang Inovatif

POM MIGO KAORI

POM MIGO KAORI

Belajar dari Sejarah, Rekomendasi Seminar Nasional Seratus Tahun Rarud Batur

Belajar dari Sejarah, Rekomendasi Seminar Nasional Seratus Tahun Rarud Batur

Adi Wiryatama Fasilitasi 5 Unit Traktor Roda Empat dari Pusat diserahkan ke Petani Jembrana

Adi Wiryatama Fasilitasi 5 Unit Traktor Roda Empat dari Pusat diserahkan ke Petani Jembrana

Presiden Prabowo Perkuat Ketahanan Bangsa, Swasembada Pangan Hadapi Ketidakpastian Global

Presiden Prabowo Perkuat Ketahanan Bangsa, Swasembada Pangan Hadapi Ketidakpastian Global