Denpasar, ( Atnews ) - Nikmatnya Memadukan Lima Unsur Seni Dalam Sebuah Garapan Agar Menjadi Tontonan Sekaligus Tuntunan Nemikat: Memadukan lima unsur seni dalam sebuah garapan drama tari, mampu memberikan kenikmatan tersendiri.
Itulah yang tertangkap dari kesan Gusti Ayu Eka Darmayanti, S.Pd. salah seorang dari lima pembina garapan drama tari "Sampik Ingtai" yang tergabung dalam Sanggar Eka Gita Nitya SMPN 1 Denpasar.
Selama proses penggarapan tersebut, kata Eka Darmayanti, kelima orang pembinanya masing-masing dari unsur Darna Gita dipegang Ida Bagus Alit, Sastra Teater oleh Ngurah Aryadimas, Unsur Tabuh dipegang oleh Wayan Adi Darmawan, sementara dari unsur tari, oleh Luh Armini, S.Pd., Sedangkan dari segi penggunaan Bahasa Balinya oleh Gusti Ayu Eka Darmayanti sendiri.
Ketika memodifikasikan kelima unsur tersebut menurut Eka Darmayanti, masing-masing harus punya rasa toleransi tinggi, mampu menekan rasa ego, sehingga menghasilkan sebuah garapan yang harmonis.
Dalam memadukan kelima unsur tersebut diakui memang tidak mudah; namun dengan adanya kerjasama yang baik antar penggarap , pagelaran yang berdurasi sekitar satu jam itu dapat diselesaikan dengan baik.
Ditanya soal kesulitan selama penggarapan yang melibatkan 75 siswa itu, diantaranya dalam hal mengarahkan mereka yang cenderung kurang disiplin. Disamping itu menyelaraskan kelima unsur seni itu agar benar-benar bisa menyatu dan harmonis dalam sebuah garapan karya seni pertunjukan.
Menurut Eka Darmayanti, para pembina juga berupaya untuk memodifikasi agar unsur-unsur percintaan yang terkandung dalam cerita sampik ingtai tidak terlalu menonjol, karena garapan drama tari itu didukung okeh anak-anak usia 12 - 15 tahun. Belum lagi para penontonnya yang sebagian anak berusia belasan tahun.
Pihaknya berkeinginan, drama tari yang didukung anak anak usia belasan tahun itu selain mampu menghibur menjadi sebuah tontonañ yang menarik, sekaligus menjadi tuntunan moral yang memikat, tegasnya. ( ibm/02).