Badung (Atnews) - Anggota MPR Utusan Daerah Bali, dan Badan Pekerja (BP) MPR 1999 - 2004 I Gde Sudibya mengunjungi Monumen Perjuangan Bangsal (MPB) di Banjar Gaji, Desa Dalung, Kuta Utara, Badung, Sabtu (11/7).
Kunjungan tersebut diterima oleh Ketua Pelaksana MPB Bagus Ngurah Rai sekaligus melihat jejak perjuangan MPB sebagai embrio perjuangan kemerdekaan rakyat Bali. Hadir pula Direktur Utama Atnews I Wayan Artaya.
Bangunan yang kini dijadikan monumen merupakan markas rahasia perjuangan bawah tanah perang kemerdekaan RI di Bali.
Tempat tersebut menjadi markas pertemuan pimpinan pemuda pejuang dalam mengatur strategi perlawanan terhadap penjajahan Jepang dan NICA.
Keberadaan markas di Bangsal ini sangat berkaitan erat dengan sejumlah perjuangan rakyat Bali di berbagai tempat.
Misalnya peperangan di Laut Gilimanuk dimana kini terdapat Monumen Perang Laut Gilimanuk Bali Barat, pendaratan pasukan I Gusti Ngurah Rai tanggal 20 November di Marga, juga perjuangan di Munduk Malang.
Monumen itu sebetulnya adalah sebuah rumah yang aslinya berlantai dua, namun kini telah berlantai tiga.
Rumah bangsal didirikan tahun 1937 secara bertahap sampai tahun 1942. Semasa perang kemerdekaan, rumah ini dijadikan sebagai markas pergerakan bawah tanah oleh pemuda-pemuda pejuang Bali. Di bagian bawah rumah ini juga dilengkapi gua yg dibuat sedemikian rupa sehingga tak diketahui musuh.
Bahkan, sehari menjelang proklamasi RI 17 Agustus 1945 para pemuda pejuang kemerdekaan RI di Bali berjumlah 35 orang melakukan pertemuan rahasia di Bangsal dengan tujuan mengatur strategi menyerang Jepang sekaligus mengambilalih pemerintahan dari Jepang.
Kini gedung bernilai historis dan sangat dikenal kalangan veteran ini dimanfaatkan sebagai perpustakaan dan berbagai kegiatan sosial.
Monumen Perjuangan Bangsal merupakan saksi bisu perjuangan bawah tanah dari masyarakat Bali.
Bangsal sendiri sebenarnya hanya merupakan sebuah gudang tempat menyimpan kopra atau gabah milik almarhum Bagus Made Wena.
Namun pada zaman penjajahan Jepang, Bangsal tersebut menjadi sebuah tempat untuk melakukan pertemuan rahasia oleh para pejuang pemuda.
Untuk itu, Sudibya meminta adanya rumusan ulang sejarah perjuangan bangsa tersebut untuk memudahkan generasi muda mempelajarinya.
Dengan membuat diorama seperti Monumen Nasional di Jakarta, sehingga pesan moral dan spirit kebangsaan dapat dimengerti oleh anak muda.
Oleh karena, anak muda zaman sekrang kurang menarik kalau disuguhkan foto dan setumpuk catatan.
Maka dari itu, diorama rangkaian sejarah MPB perlu diwujudkan sebagai bekal pembelajaran sejarah untuk masa depan bangsa.
Hal itu yang mengingatkan bahwa pemuda Bali merespon dengan cerdas dan berani setelah Amerika Serikat menjatuhkan bom atom di kota Hiroshima dan Nagasaki, Jepang, pada bulan Agustus 1945, tahap akhir Perang Dunia Kedua.
Dengan demikian memasuki usia Indonesia ke-75 tahun diharapkan Pemerintah Kabupaten Badung dan Provinsi Bali ikut memperhatikan dan mewujudkan diorama MPB pada Augustus 2020 ini.
Seharusnya Badung menjadi garda terdepan dalam meneggakan nilai -nilai luhur kebangsaaan.
"Jika bangsa lupa akan sejarah akan membahayakan bangsa itu sendiri sekarang dan yang akan datang," ujar Sudibya.
Mengingat bangsa Indonesia tengah mengalami politik identitas yang berbau SARA yang bisa membahayakan negeri ini.
Respon cepat itu perlu ditumbuhkan oleh para pemangku kebijakan dalam memperhatikan nilai-nilai sejarah yang berarti untuk bekal masa depan bangsa.
Kunjungan itu ditutup dengan mengungkap isi Prasasti Sukawana Icaka 740, Prasasti tertua di Bali: " Sakebda, Sirawani, Murti Ganitha, Masa Tetta, Palguna. Terjemahan bebasnya: kedatangan kita ke dunia ini adalah keutamaan dan kemuliaan, laksanakan keutamaan dan kemuliaan ini dalam ke seharian kehidupan. (ART/001)