Denpasar (Atnews) - Yayasan Dvipantara Samskrtam menggelar peringatan Hari Perayaan Sanskerta (Samskrta-dinotsavah) melalui zoom meeting di Denpasar, Minggu (2/8).
Dengan menghadirkan Pembicara Tokoh Spiritual dan Budayawan Sansekrta Kandjeng Pangeran Karyonagoro dan Ketua Umum Ikatan Cendiakawan Hindu Indonesia (ICHI) Dr Tri Handoko Seto Pesan Sasekerta disampaikan Sekretaris dan Dvipantara Samskrtam I Wayan Menek Astawa.
Pada kesempatan itu ditampilkan Percakapan Sanskerta (Samskrta Sambhaasanam), Cerita Sanskerta (Samskrta-Caritam), Wayang Sanskerta (Samskrta-Putalikaa-Kelii) dari Kisah Arjuna Wiwaha dan Pidato dan Pesan Sanskerta (Bhaasanaani).
Pembina Yayasan Dvipantara Samskrtam I Made Suyasa mengatakan, acara itu untuk memantapkan visi yayasan dalam mewujudkan masyarakat bijaksana berlandaskan pengetahuan luhur Sanskerta.
Dengan misi yayasan yakni (1) Menjadikan Sanskerta sebagai bahasa percakapan, (2) Mengembangkan kemampuan membaca, menulis, melantunkan dan mengerti Sastra Sanskerta serta Veda.
Kegiatan utama yayasan di bidang pembelajaran bahasa Sanskerta yang bertujuan membangkitkan (kembali) budaya Sanskerta di Nusantara karena akar kebudayaan Nusantara tidak terlepas dari budaya Sanskerta yang termuat dalam sastra-sastra kuno Nusantara.
Ia didampingi I Made Danan Jaya, S.Ds menjelaskan, Sanskerta merupakan Ibu dari segala Bahasa di dunia.
Pada tiap-tiap Bahasa pasti terdapat kata-kata serapan dari Bahasa Sanskerta. Dalam kehidupan sehari-hari pun kita tanpa disadari sudah sering mengucapkan kata-kata Sanskerta.
Sanskerta juga tidak dapat dipisahkan dari akar budaya kita di Seluruh Asia Tenggara. Berbagai peninggalan sejarah membuktikan bahwa kebudayaan Sanskerta pernah dan masih hidup di seluruh Asia Tenggara.
Khususnya di Nusantara, peninggalan sastra dan budaya Sanskerta sangatlah beragam. Mulai dari mengucapkan salam hingga slogan-slogan Lembaga pemerintah pun sebagian besar menggunakan kalimat berbahasa Sanskerta.
Maka dari itu penting sekali bagi kita untuk melestarikan kebudayaan Sanskerta ke depannya. Tidak hanya untuk dilestarikan namun juga untuk dihidupkan kembali dan jalani melalui keseharian.
Dalam rangka melestarikan dan mengembangkan kebudayaan Sanskerta di seluruh dunia merayakan Minggu Raya Sanskerta untuk kembali mengingatkan seluruh dunia terutama kalangan muda yang akan mewarisi kebudayaan kita di masa depan akan keutamaan Sanskerta.
Pada tiga hari sebelum dan setelah Śrāvaṇapūrṇimā (Sasih Karo) dikenal sebagi Saṁskṛta-saptāhaḥ (Minggu Raya Sanskerta).
Dikatakan, fenomena yang terjadi dapat diamati sendiri, di mana-mana sekarang ini banyak kerusuhan, kesulitan, dan kekacauan di mana-mana.
Pertikaian antar bangsa, agama maupun antar saudara, persaingan yang tidak sehat, konspirasi dan lain sebagainya merajalela.
Apakah sumber dari semua masalah ini?
Ini semua asal mulanya dari pikiran. Pikiran untuk memiliki sendiri, berkuasa, mementingkan diri sendiri tanpa mempedulikan perasaan orang lain inilah yang menyebabkan ketidakdamaian yang kita lihat sekarang.
Dalam Sanskerta justru terdapat pemikiran dan pandangan yang selalu mengarah kepada kedamaian. Kalimat-kalimat seperti :
·Lokasamastāḥ sukhino bhavantu
Artinya: Semoga seluruh dunia beserta isinya berbahagia.
·Parasparaṁ bhāvayantaḥ śreyaḥ paramavāpsyatha
Artinya: Saling menghormati satu sama lain, saling membantu, membahagiakan yang lain akan mendatangkan kesejahteraan bagi semuanya.
·Vasudhaiva kuṭumbakam
Artinya: Seluruh dunia sesungguhnya adalah satu keluarga.
·Sarve bhavantu sukhinaḥ
Artinya: Semoga semua (makhluk) berbahagia.
·Kṛṇvanto viśvamāryam
Artinya: Buatlah dunia menjadi lebih baik.
·Ano bhadraḥ kratavo yantu viśvataḥ
Artinya: Semoga pikiran yang baik datang dari segala penjuru.
Pemikiran-pemikiran seperti inilah yang mengarahkan kita kepada kemajuan, kebaikan, kedamaian, kemakmuran dan kebahagiaan.
Itu semua baru setetes dari pengetahuan Sanskerta yang luas dan dalam bagaikan samudera.
Jika ingin mewujudkan perdamaian dunia yang sesungguhnya maka melestarikan dan mengembangkan kebudayaan Sanskerta adalah hak dan kewajiban setiap insan.
Sedangkan, Tokoh Spiritual dan Budayawan, KPH Karyonagoro menambahkan, Yayasan Dvipantara Samskrtam merupakan salah satu Yayasan yang memiliki visi luhur yaitu menjadikan masyarakat bijaksana berlandaskan pengetahuan luhur Sanskerta.
Dengan demikian jelas bahwa Yayasan Dvipantara Samskrtam ingin menjadikan Indonesia lebih baik, bahkan mampu membawa Nusantara dalam kejayaannya di tengah-tengah peradaban dunia dengan dijiwai semangat dan nilai-nilai luhur yang digali dari keluhuran bangsanya sendiri.
Dalam perspektif historis, sejarah telah mencatat bahwa Sanskerta telah begitu mewarnai tata kehidupan Bangsa Indonesia. Sanskerta telah menjadi bagian dari kebudayaan dan peradaban dari kerajaan-kerajaan yang pernah ada di Nusantara.
Pengaruh Sanskerta dari sejak jaman kerajaan-kerajaan nusantara telah begitu lekat dengan adat-istiadat, budaya dan bahasa masyarakat di Jawa, Bali dan Sumatera bahkan masih hidup dan dipelihara hingga kini.
Budaya Sankserta begitu mengakar kuat dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat Indonesia mulai dari sejak kelahiran manusia di dunia hingga kehidupan pasca kematian, mulai dari bahasa hingga tata krama dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari cara hidup pribadi hingga adat istiadat masyarakat, mulai dari cara menghadapi realitas tentang kehidupan berupa kebahagiaan hingga kesedihan, mulai dari tata cara menyikapi persahabatan hingga perseteruan.
Bahkan Bangsa Indonesia hingga kini masih banyak menggunakan slogan-slogan dengan bahasa Sanskerta. slogan tersebut antara lain: dalam dunia pemerintahan kita mengenal “Prasetia Ulah Sakti Bhati Praja”, dalam lembaga kejaksaan menggunakan istilah “Satya Adhi Wicaksana”, dalam dunia militer kita mengenal istilah “Kartika Eka Phaksi”, dalam dunia pendidikan kita mengenal istilah “Mangesthi Luhur Ambangun Negara”, dan sebagainya.
Realitas empiric tentang pengaruh Sanskerta dalam membangun budaya Nusantara ini menunjukkan betapa luhurnya budaya Sanskerta yang menjadi salah satu pembentuk budaya Nusantara itu.
Pada saat yang bersamaan juga menunjukkan betapa budaya Sanskerta itu tidak lekang oleh jaman, bahkan selalu actual meskipun dunia sudah memasuki era digital.
Oleh sebab itu tidak berlebihan kiranya, ketika timbul kesadaran untuk kembali menggali, melestarikan dan membangun kembali budaya Sanskerta di bumi Nusantara ini.
Mencermati kembali perjalanan Bangsa Indonesia setidaknya dalam 5 (lima) tahun terakhir, khususnya dalam pelaksanaan agenda politik nasional berupa pemilihan umum baik pemilihan legislatif maupun pemilihan presiden, nampak jelas betapa ke-Indonesia-an kita benar-benar mulai terkikis.
Budaya Nusantara yang menjunjung tinggi sopan-santun, tepa selira, unggah-ungguh, penghormatan terhadap sesama, mikul duwur mendhem jero, gotong royong dan nilai-nilai kearifan lokal yang selama ini embedded dalam setiap manusia Indonesia dan sekaligus menjadi ciri kepribadian Bangsa Indonesia telah diluluh-lantakkan oleh peristiwa politik berupa pemilihan umum.
Keprihatinan itu semakin memuncak, ketika momentum politik itu telah ditungga oleh kelompok radikal yang ingin memaksakan kehendak untuk menggantikan nilai-nilai luhur nusantara dan bahkan ke-Indonesia-an yang telah menjadi ideologi negara yaitu Pancasila itu dengan ideologi lain yaitu ideologi khilafah yang tidak bersumber dari nusantara.
Sebagai anak bangsa yang dilahirkan dari bumi ibu pertiwi, dibesarkan dan berkarya dengan panji merah putih, sudah barang tentu sangat prihatin atas peristiwa itu.
Karena dengan munculnya upaya menggantikan ideologi Pancasila yang merupakan kristalisasi nilai-nilai luhur Bangsa Indonesia, berarti ingin meruntuhkan nilai-nilai, adat-istiadat, budaya, dan kearifan lokal yang selama ini telah tumbuh dan dipelihara dalam kehidupan Bangsa Indonesia.
Bertolak dari realitas empiric tersebut, maka upaya menggali kembali keluhuran budaya nusantara, mengaktualisasikan kembali jiwa dan spirit ke-Indonesia-an, dan internalisasi pada generasi muda tentang nusantara menjadi suatu keharusan bagi setiap kita yang mencintai Indonesia.
Rangkaian kegiatan peringatan hari Sankserta yang diprakarsai oleh Yayasan Dvipantara Samskrtam ini, merupakan bentuk nyata bagaimana membangun Indonesia agar tetap dijiwai spirit Nusantara dimana Sanskerta menjadi salah satu penyokong utamanya.
Semoga momentum ini bisa menjadi pelecut kesadaran bagi kita semua, tentang pentingnya Sanskerta dalam membangun budaya Nusantara sehinga dengan demikian Bangsa Indonesia akan tetap mampu menghadapi setiap tantangan jaman termasuk mengatasi kelompok radikal yang ingin meruntuhkan ke-Indonesia-an, dengan berpegang pada budaya dan keluhuran nilai-nilai Bangsa Indonsia.
Relevansi Bahasa Sanskerta di Indonesia ditinjau dari fakta Arkeologi, sebuah periode waktu yang ditandai oleh catatan bukti tertulis, jujur harus diakui fase ini nisbi belumlah berlangsung lama. Sejauh ini, fase historis baru bermula dari kisaran abad 4 – 5 M.
Fase ini ditandai oleh temuan tujuh prasasti di Kutai, Kalimantan Timur. Sohor disebut Prasasti Kutai.
Dipahat pada sebuah batu berbentuk Yupa, yaitu semacam tugu untuk mencatat momen ritual kurban 20 ribu ekor sapi. Inskripsi ini ditulis dalam bahasa Sanskerta dengan menggunakan aksara Palawa.
Benar, Kuņdungga disinyalir merupakan nama yang berasal dari bahasa lokal di Indonesia.
Namun tentu berbeda dengan nama Mulawarman atau Aswawarman. Merujuk Bernard HM Vlekke dalam Nusantara—Sejarah Indonesia (2016), kedua nama raja itu jelas berasal dari bahasa Sanskerta.
Dari Ibukota Jakarta berjalan ke arah selatan hingga tiba tak jauh dari pinggir Sungai Ci Sadane di Bogor.
Di sana juga pernah ditemukan sebuah batu besar yang ditulis dengan sangat indah, di mana terdapat cetakan dua kaki manusia pada batu itu.
Sohor disebut Prasasti Ciaruteun, konon jejak kedua kaki itu dikatakan sebagai milik “penguasa besar Purnawarman yang termahsyur, Raja Taruma, yang telapak kakinya seperti milik "Wishnu”.
Diduga periode penulisan prasasti itu tak jauh berbeda dengan saat ditulisnya kelompok inskripsi Prasasti Kutai.
Kisaran abad ke 4 – 5 M. Wajar saja, inskripsi-inskripsinya juga ditulis dalam bahasa Sanskerta dengan menggunakan aksara Palawa.
Tidak jauh beda pula dengan kencenderungan penamaan nama-nama raja di Kutai.
Raja-raja penguasa Tarumanegara di Jawa Barat juga mengatributkan diksi "warman" sebagai tambahan pada akhiran nama-nama mereka.
Sedangkan di Pulau Sumatera berasal dari abad 7 – 10 M. Dari kisaran abad itu juga ditemukan banyak prasasti.
Supaya mudah sebutlah inskripsi-inskripsi dari abad itu sebagai Prasasti Sriwijaya. Dari Kedukan Bukit, Talang Tuo, Kota Kapur, Karang Brahi, hingga Hujung Langit (Hujuŋ Lańit).
Di sini menarik dicatat, bahwa inskripsi-inskripsi dari kelompok Prasasti Sriwijaya ini lazim ditulis menggunakan kombinasi dua bahasa, yaitu bahasa Sanskerta bercampur dengan bahasa Melayu Kuna.
Lazimnya juga ditulis menggunakan aksara Palawa. Masih dari Pulau Sumatera, tapi kini dari periode abad ke-14, yaitu kelompok Prasasti Dharmasraya.
Inskripsi-inskripsi penulisan resmi juga masih ditulis dalam kombinasi bahasa Sanskerta dan bahasa Melayu Kuno.
Namun penulisan prasasti-prasasti di periode ini lazimnya ditulis menggunakan aksara Jawa Kuno.
Bicara raja terbesarnya saat itu ialah Adityawarman. Konon ia ialah seorang putra dari raja sebelumnya, Adwayawarman.
Menyimak nama belakang kedua raja itu jelas diksi "warman" juga telah ditambahkan. Yang sekali lagi, sangat kentara mengisyaratkan kuatnya pengaruh bahasa Sanskerta di era itu.
Sementara, bicara tentang sejauh mana pengaruh bahasa Sanskerta pada perkembangan bahasa Melayu, maka merujuk catatan kaki Profesor PJ Zoetmulder (1983) mengutip perkiraan J Gonda dalam Sanskrit in Indonesia, disebutkan: “Dalam kamus-kamus Melayu yang juga menyebut kata-kata yang dipinjam dari suatu bahasa lain, kita jumpai lebih daripada 750 unsur Sanskerta.”
Sementara dari periode Jawa Tengah dan Jawa Timur, masih seturut PJ Zoetmulder dalam Kalangwan—Sastra Jawa Kuno, Selayang Pandang (1983), bisa disimpulkan: bahwa sebelum awal abad kesembilan—yaitu sebelum ditulisnya Prasasti Sukabumi (804 M)—maka bisa dikatakan semua penulisan resmi prasasti-prasasti di Jawa selalu ditulis dalam bahasa Sanskerta, baik itu melalui aksara Palawa maupun Jawa Kuno.
Bagaimana kuatnya jejak pengaruh bahasa Sanskerta pada perkembangan bahasa Jawa Kuno, Zoetmulder kembali mengutip perkiraan J Gonda dalam Sanskrit in Indonesia, mencatat: Bahwa puisi-puisi Jawa Kuno bermetrum a-la India (kakawin), setidaknya mengandung kurang lebih 25 – 30 persen kesatuan kata yang berasal dari bahasa Sanskerta.
Sudah tentu tidak ketinggalan ialah artefak-artefak arkeologis dari Pulau Bali. Kebudayaan dan bahasa Bali, yang oleh banyak peneliti sering dianggap merupakan citra lukisan tentang kondisi budaya Jawa sebelum masuknya peradaban Islam, jelas tidak mungkin sejarah dan perkembangan Bali terpisah dari pengaruh bahasa Sanskerta.
Dari fakta-fakta arkelologis ini bisa disimpulkan, menyederhanakan pengaruh bahasa Sanskerta semata pada bahasa dan kebudayaan Jawa tentu ialah kekeliruan besar.
Konfirmasi yang cukup terkenal ialah catatan perjalanan I Ching. Biksu Budha dari China ini menceritakan, sepanjang perjalanannya dari China ke India, ia sempat singgah selama delapan bulan di Pulau Sumatera. Kemungkinan besar, Sriwijaya dan Melayu. I Ching singgah di Sumatera dan bukan belajar di Jawa untuk mempelajari bahasa Sanskerta.
Memaknai mitos, bicara fase sejarah di Indonesia berarti juga bicara legenda Aji Saka. Ini sebuah mitos yang bukan hanya bertutur tentang sejarah dikenalnya aksara, alpabet Jawa, namun lebih dari itu juga sekaligus menjadi momen penanda penting tentang signifikansi tradisi literasi bagi bangsa Indonesia.
Setidaknya ada tiga hal menarik dapat kita catat. Pertama, merujuk Heddy Shri Ahimsa-Putra dalam artikel Ha-Na-Ca-Ra-Ka Aji Saka, Mitos Keberaksaraan, Mitos Peradaban (2016), legenda Aji Saka termasuk dalam kelompok mitos keberaksaraan.
Sekalipun mitos adalah fenomena universal, namun menariknya bicara mitos keberaksaraan ternyata tidak semua bangsa memilikinya.
Hanya sedikit bangsa-bangsa di dunia yang mempunyai mitos keberaksaraan. Bangsa Indonesia cukup beruntung memiliki hal itu. Demikianlah, catatan Guru Besar Antropologi UGM itu.
Kedua, jika menyimak narasi Aji Saka maka implisit bakal segera terlihat, bahwa bangsa Nusantara ialah bangsa jujur.
Bangsa Indonesia tidak pernah segan mengakui sumber-sumber sejarah kemajuan bagi kebudayaan bangsanya.
Tentu saja, ada variasi teks dan polemik tafsiran seputar asal usul pemuda Aji Saka. Namun pelbagai narasi itu secara umum sering menyebutkan, Aji Saka dikisahkan datang berasal dari "atas angin" atau "tanah seberang" atau sering disebut "negeri antah berantah.
Adanya istilah ini jelas mengisyaratkan, tokoh Aji Saka ditafsirkan secara umum berasal dari luar Nusantara.
Slamet Riyadi dalam Makna Simbolik Legenda Aji Saka (2007), mendasarkan pada variasi teks yang ada setidaknya mencatat beberapa hipotesa tentang asal-usul Aji Saka.
Arus kuat tentu memberi tafsiran Aji Saka berasal dari India; tapi tidak sedikit pula naskah yang memberikan ruang interpretasi, Aji Saka berasal Tiongkok; atau bahkan ada juga naskah yang memberi interpretasi bahwa Aji Saka berasal dari Tanah Jawa (Nusantara), yang pernah pergi ke Tanah Arab dan bertemu Kanjeng Nabi Muhammad untuk belajar ilmu pengetahuan; dan lain sebagainya.
Ketiga, dari poin di atas tidak berlebihan jika bisa disimpulkan secara hipotetis: bahwa bangsa Indonesia ialah bangsa yang memiliki karakteristik terbuka (open minded) dalam mengadopsi ide-ide kemajuan dari pelbagai bangsa lain.
Bagaimana pengaruh bangsa lain terhadap sejarah dan perkembangan bangsa Indonesia—yaitu India atau peradaban Hindu-Budha, peradaban China/Tiongkok, dan Arab atau peradaban Islam—setidaknya juga tercermin dalam beberapa varian mitos Aji Saka tersebut.
Benar, tidak perlu romantis berlebihan mengenang peran bahasa Sanskerta di Indonesia masa lalu.
Sebab, bahasa Sanskerta sebagai bahasa internasional ketika itu, yang juga merupakan bahasa ilmu pengetahuan dan sastra, ternyata di India sendiri—merujuk Zoetmulder (1983)—praktis sudah tidak pernah dipakai atau bahkan telah mati sejak abad ke-10.
Artinya, hari ini bicara peran dan fungsi bahasa Sanskerta bisa jadi telah digantikan oleh bahasa Inggris, Mandarin, atau bahkan oleh bahasa Indonesia sendiri.
Untuk itu, pada kesempatan ini hendak beromatisme mengenang eksistensi bahasa Sanskerta, maka poin terpenting yang hendak direvitalisasi ialah spirit (values) dari mitos Aji Saka itu sendiri (per se).
Apa pasalnya?
Ya, Aji Saka, putra raja keturunan Brahmana, datang dari "atas angin" atau "tanah seberang".
Maknanya bisa dibaca berasal dari bangsa India, China/Tiongkok, Arab, Barat, dan atau bangsa asing lainnya.
Dikisahkan ketika tiba pertama kali di Nusantara, Aji Saka mula-mula menghalau semua raksasa yang gentayangan, menyebarkan ketertiban, menciptakan aksara Jawa dan membangun peradaban.
Ya, dikisahkan sang raja raksasa yang dikalahkan Aji Saka ini, laksana sosok Leviathan bagi bangsa Eropa.
Raja raksasa ini bernama Dewatacengkar. Merujuk Slamet Riyadi, dewata memiliki sinonim arti dengan kata “dewa”, yang artinya "penguasa alam.
Sedangkan “cengkar” artinya "tandus" yang mengakibatkan "kemiskinan".
Menarik dicatat di sini ialah bagaimana cerita Aji Saka mengalahkan sang raksasa itu. Ya, melalui ikat kepala Aji Saka.
Konon, ikat kepala itu bisa melebar dan memanjang sehingga mendesak sang raksasa itu terlempar jauh dan jatuh ke laut hingga akhirnya mati.
Ikat kepala Aji Saka jelas merupakan simbolisasi kekuatan akal-budi dan pikiran manusia. Melalui akal budi dan kekuatan pikiran inilah Aji Saka berhasil mengalahkan Sang Dewatacengkar itu.
Sangat jelas, bahwa mitos Aji Saka dapat dimaknai sebagai simbolisasi kemenangan kearifan atas kebodohan, pengetahuan (sains) atas prasangka, kebajikan atas kekejaman, kebaikan atas keburukan.
Selain itu, dari mitos ini juga terlihat pentingnya sikap mental terbuka (open minded) dari bangsa ini untuk sanggup belajar pada ide-ide kemajuan dari bangsa-bangsa lain manapun di dunia ini, tanpa kehilangan jati diri kebangsaannya.
Sementara itu, Ketua Umum Ikatan Cendiakawan Hindu Indonesia (ICHI) Dr Tri Handoko Seto menilai Yayasan Dvipantara Samskertam telah berbuat banyak dan sangat baik menyebarluaskan bahasa sanskerta ke nusantara.
Pembelajaran tersebut harus dukung lebih optimal.
"Saya yakin kalau dukungan bisa kita perkuat maka gerakan ini akan bisa lebih masif sehingga bisa lebih efektif," ujar Handoko.
Mengingat kelas-kelas Bahasa Sanskerta online yang diadakan oleh Yayasan Dvipantara Sanskrtam, antusia yang tinggi dari masyarakat Indonesia.
Dalam situasi pandemi COVID-19 ini justru pembelajaran Bahasa Sanskerta bisa lebih optimalkan
Pentingnya memdalami mengingat banyak kitab suci berbahasa Sanskerta.
"Kita selama ini banyak belajar kitab suci dari terjemahan. begitu ada beberapa terjemahan yang berbeda-beda maka ilmu yang kita dapat bisa cukup bias," ujarnya.
Maka dari itu, dalam meningkatkan kualitas pemahaman agama Hindu ke depan lebih bagus sebaiknya belajar bahasa Sanskerta dari sejak dini.
Untuk itu, diperlukan dukungan semua pihak dalam menggelorakan semangat belajar Bahasa Sanskerta.
Upaya itu mendukung umat Hindu Tahun 2030 bisa berbahasa Sanskerta dengan target 1 juta orang belajar dan 1000 orang ahli Sanskerta.
Dalam menjawab tantangan ke depan beragama tidak mudah, jika kitab suci Berbahasa Sanskerta bisa muncul tafsir baru dilakukan oleh oknum-oknum bisa memicu perpecahan sehingga Hindu semakin habis.
"Mari seluruh komponen komponen membesarkan kembali semangat belajar Sanskerta," pungkas Handoko. (*/ART/001)