Merakit Kembali, Kalingga Bali Yatra di India Timur Odisha
Banner Bawah

Merakit Kembali, Kalingga Bali Yatra di India Timur Odisha

Artaya - atnews

2020-09-22
Bagikan :
Dokumentasi dari - Merakit Kembali, Kalingga Bali Yatra di India Timur Odisha
Slider 1
Oleh : Initiator/ Chairman Indonesia India Sanggam Padmashree Ida Rsi Putra Yaksa Daksa Manuaba 
 
Sambutan mereka luar biasa dan menjadikan Bali luar biasa dalam perjalanan hidup peradaban mereka sampai sekarang, Ida Rsi Putra Yaksa Daksa Manuaba mencatat dalam kesempatannya yang intents dari 5 th ke belakang ke Odisha India, berdialog dengan masyarakat dan scholar of Odisha, sangat banyak yang bisa ditarik benang merah persaudaraan masa lampau nya,
semoga Kalingga Bali Yatra menjadi spirit kebersamaan dan persaudaraan hidup kembali dengan berdirinya Padmasana Kalingga Bali di Maritime Museum Cuttuck Odisha dimana selama perjalanan pembangunan menjadi kunci untuk memulai kembali ,dari bebeerapa persamaan bahasa, upacara tradisi mereka yang sama dengan di Bali.

Ketika Orang India melakukan Yatra ke Bali pada Abad 2 SM
Menarik untuk disimak tentang Yatra (perjalanan ) Orang Orang India ke Bali yang dikenal dengan istilah " Voyage To Bali " (Pelayaran ke Bali ). Untuk memperingati Peristiwa ini, setiap tahun diadakan perayan besar besaran di Odisha, India yang dikenal dengan " Bali Jatra " atau " Bali Yatra " atau " The Journey to Bali ".
Menurut Mr. Sanjeev Sanyal dalam Bukunya " The Ocean Of Churm ", perisitiwa ini terjadi sekitar Akhir tahun 200 Sebelum Masehi.
Pelaut-pelaut India memulai pelayaran atau perjalanan dari Danau Odhisa. Danau Odhisa adalah danau yang sangat penting dan aman yang mempunyai celah kecil menuju lautan untuk memulai pelayaran ke Samudra India dan selajutnya meneruskan pelayaran ke daerah lain termasuk Indonesia. 
Pelaut-pelaut Kalinga menggunakan Danau ini sebagai pelabuhan sebelum menjelajah ke negara lain.
Pelaut-pelaut ini dengan tergantung arah angin, tidak langsung menuju Indonesia, tetapi singgah dulu di Sri Lanka yang mana saat itu terkenal sebagai jalur perdagangan. 
Dan kemungkinan juga melakukan perdagangan disana disamping mengambil air segar dan perlengkapan lainnya untuk pelayaran panjang, dan selajutnya mengarungi Samudra India menuju Swarnadwipa atau Sumatra yang dalam texs Sankrit disebut dengan Island Of The Gold.
Dari sini, perahu-perahu dapat memilih berlayar turun ke Selat Malaka ke arah Palembang dan memgambil rute laut ke Borneo dan Vietnam. 
Alternatif lain, mereka bisa melalui jalur Pantai Barat Sumatra menuju Bali dan Java ( Jawa ) atau Yavadwipa atau Island Of Barley / Grain.
Setelah melakukan jual beli, mereka akan berbalik arah menggunakan arah angin menuju Srilangka dan selanjutnya ke Odhisa. 
Jika mereka berangkat dari Odhisa bulan November, mereka akan tiba di Jawa dan Bali pada pertengahan bulan Januari. 
Mereka punya waktu 2 bulan melakukan jual beli atau trasaksi sebelum melakukan perjalanan pulang pada pertengahan bulam maret. Ini memungkinkan mereka sampai di Sri Lanka tepat pada waktunya untuk menemukan Angin di musim hujan bulan Mei yang akan membawa mereka pulang.
Itulah sekilas gambaran petualangan Pelaut-pelaut India dan Saudagar India yang tangguh kurang lebih 2.200 tahun yang lalu.
Apa saja yang dijual belikan oleh Pelaut India di Bali ?
Saat itu, export utama India adalah kain Katun. Disamping ke Indonesia, Pelaut India ada juga yang berlayar ke Romawi, Yunani, Arab dan melakukan transaksi di daerah yang dilalui. Sedangkan import utamanya adalah Kain Sutra dari Tiongkok melalui Pelabuan di Vietnam dan Kapur Barus dari Sumatra. Sedangkan yang dibeli di Indonesia adalah Cengkeh, Pala dan Rempah Rempah yang lain.
Walaupun tidak disebutkan secara spesifik, kemungkinan produk utama Bali adalah Cengkeh disamping juga Kapas dari Cintamani. Apa yang dibeli oleh Orang Bali saat itu, disamping kain Katun (karena kain tenunan Gaya Sembiran dan Bali Aga Kintamani dan Tenganan Pegringsingan hampir sama dengan Patola di Odiaha dan tenun ikat kita Bali sama persis dengan Sambalpuri Odisha).
Gaya tenun kalau kita lihat di Museum Wastra orang Odisha semua hampir sama desaign dan coraknya dengan kita.
Begitu pula  ada juga kemungkinan Bijih Besi, dengan alasan bahwa Bali tidak punya tambang, tetapi bisa menghasilkan produk logam tingkat tinggi contohnya Nekara.
Serta perhiasan hasil karya orang Bali sangat unik dan luar biasa indahnya. Kalu kita ke Bhubaneswar Odisha kita juga melihat kadya ukiran nya hampir sama dengan orang Bali.
Lukisan Gaya Kamasan kita sama persis dengan Patachitra mereka.

Dimanakah Pelabuhan Utama Bali saat itu ?
Kemungkinan Pelabuhan International Bali saat itu adalah Bali Utara (Buleleng ). Alasannya, Bali Utara sangat strategis untuk singgah perahu-perahu dari berbagai negara kalau dilihat dari jalurnya, cengkeh dihasilkan di Bali Utara, Kapas dibawa dari Bukit Cintamani dan lebih dekat dibawa ke Bali Utara. 
Hal ini juga diperkuat bahwa Desa Julah dan Sembiran merupakan Desa Bali Kuno yang banyak mempunyai peningalan Kuno. 
Dan bukti tertulis juga mendukung walau rentang waktunya berjauhan yaitu tertulis dalam beberapa prasasti Bali Kuno.
Seperti disebutkan dalam Prasasti Sembiran A IV sebagai berikut
"mangkana yan hana banyaga, sakeng sabang jong bahitra, cumunduk I manasa "
Terjemahan :
Demikianlah, apabila ada saudagar, dari seberang memakai perahu, sampan berlabuh di manasa 
Letak Manasa diperlirakan berada di Banjar Manasa, Sianbun, Tejakula Buleleng.
Walau ada yang menyebut bahwa Bali Selatan, tetapi itu jauh sesudahnya atau sekitar Abad ke 9 Masehi yaitu Pelabuhan Blanjong yang merupakan Pintu kerajaan dari Selatan dengan ditemukannya Prasasti Tugu Batu dari Dinasti Warmadewa berangka tahun 835 Saka yang juga bisa disebut " Pintu Selatan Kerajaan Singa ".

Bagaimanakah migrasi Penduduk Saat itu dan Siapakah Penguasanya ?
Sebagai pelabuhan International, tentu Bali Utara saat itu sangat sibuk, banyak Ras dari berbagai negara, seperti India, Tiongkok dll. 
Pelaut atau Saudagar India tinggal dua bulan di Bali Utara sambil menunggu Angin baik, kemungkinan ada yang menikah dengan Penduduk Bali Mula, begitu juga Pelaut atau Saudagar Tiongkok, begitu juga sebaliknya, tidak menutup kemungkinan Orang Bali juga ikut menyebar ke India, Tiongkok dan negara lainnya.
Kalau asumsi itu benar, berarti di Bali sudah berpenduduk dan tentu ada yang sebagai Pemimpin (penguasa), tapi tentu sangat sulit menelisik siapa Penguasanya karena tidak ada bukti tertulis, apakah Budaya Hindu sudah masuk saat itu, tentu juga amat sulit mengetahui. 
Tapi dalam suatu penggalian Sarkofagus didapati di dalamnya ditemukan Kerangka Manusia lengkap, dengan bekal manik manik dan disampingnya juga ditemukan fosil Seekor Kuda dan yang mengejutkan bahwa Kerangka itu adalah kerangka seorang Abdi. 
Bekal kubur seorang abdi begitu mewahnya, bisa dibayangkan bagaimana mewahnya prosesi Penguburan Tuannya (penguasa).

Apakah benar, di Bali saat itu sudah ada interaksi antara Penduduk Bali Mula dan Orang orang dari berbagai ras saat itu atau 2.200 tahun yang lampau ?
Para Pakar Sejarah pasti akan mempertanyakannya, karena para pakar biasanya memakai pedoman Prasasti atau bukti - bukti tertulis lainnya. Para Ahli berpendapat bahwa Bali memasuki jaman Sejarah di Abad ke 9, berdasarkan Prasasti yang berangka tahun paling tua yaitu 804 Saka.
Tapi ada saksi kuat yang sulit untuk dibantah yaitu Peninggalan Purbakala.
Dalam penelitian yang dilakukan di Sembiran, Pacung, serta situs Pangkuk Paruk, Seririt, oleh Mahasiswa Universitas Udayana yang dirangkum dalam Buku " Stratifikasi Sosial Pada Masa Pra Sejarah di Bali " disebutkan bukti- bukti yang erat dengan produk-produk yang diperdagangkan lebih dari 2000 tahun yang lalu. 
Bukti yang dimaksud adalah benda- benda yang berhubungan dengan prosesi Penguburan, seperti Sarkofagus begitu juga bekal kubur dan ritual lainnya seperti Gerabah, manik-manik kaca dan karmelian, lempengan daun emas penutup mata dari India, Gerabah menunjukkan ciri khas Asia Tenggara, Gerabah dan cermin perunggu dari dinasty Han, Tiongkok.

Bagaima dengan saat ini ?
Banyak Semeton Bali melakukan perjalanan ke India dengan tujuan Sembahyang ke Kuil -kuil atau tempat tempat bersejarah ( atau ada juga yang bilang Tirtha Yatra ), memperdalam Spiritual, bekerja, berwisata dll.
Pemujaan kepada Dewa Surya di Bali yang sangat penting didalam setiap upacara apapun diselenggarakan mempunyai kesamaan dengan masyarakat Odisha dan bahkan satu-satunya Temple Hindu terbesar dan menjadi ikon dunia Konark Temple di Odisha sering pula menjadi referenai kejayaan Hindu.
Ida Rsi Putra Yaksa Daksa Manuaba dan Ida Pedanda Gede Bang Buruan Manuaba bersama DR I Ketut Donder Pernah menjadi tamu kehormatan dan semoga Covid-19 ini bisa memulai perjalan dan penelitiaan bersama .
Ida Rsi Markandeya memulai perjalanan Yatranya juga dari menyusuri Sungai Suci Mahanadi menuju laut lepas sehingga dalam pemujaan Pandita di Bali, membuat Tirta menyebut Gangga, Yamuna, Saraswati, Sindhu ,Kaweri Godawari, Narmada, Sarayu, Mahanadi.
Dari ini pula kita punya keyakinan ada peradaban terkait.
Banyak juga Orang India melakunan perjalanan ke Bali sebagai Turis, menjadi Guru spiritual, bekerja dll. Perjalanan orang Odisha juga sangat banyak. Jadi saatnya untuk kita kembali membangun jembatan persaudaraan lebih luas.
Kenapa disebut Bali Yatra, kenapa bukan Vietnam Yatra, Swarnadwipa Yatra, Jawadwipa Yatra dll. Apa bisa ditarik kesimpulan bahwa Bali sudah terkenal sejak lebih dari 2000 tahun yang lalu, dan bukan terkenal sejak tumbuh suburnya Pariwisata Abad ke 20 ? Mungkin juga.
Yang jelas sampai saat ini Peristiwa 2.200 tahun yang lalu tetap rutin dirayakan secara besar besaran di India atau yang dikenal Bali Jatra Festival atau Bali Yatra Festival, dan pernah dalam suatu perayaan juga mengundang Tokoh dari Bali dan saat itu Ida Rsi Putra Yaksa Daksa Manuaba menjadi tamu kehormatan yang menanam Panca Datu dan melemparkan uang 200 kepeng dari Perahu waktu Pembukaan Kalingga Bali Yatra  Nov 2018 (masih Walaka Agus Indra Udayana )dan ( sudah melinggih Pandita Ngewiku Ngeraka  Ida Rsi Putra Yaksa Daksa Manuaba ) No 2019.
Juga dilakukan ritual untuk mendoakan Pelaut-pelaut yang berlayar jauh dan mungkin Doa itu juga diucapkan 2.200 tahun yang lalu.
Statistis membuktikan bahwa Pada Tahun 2018, India menduduki Peringkat 3 .
Sebagai Wisatawan yang paling banyak mengunjungi Bali setelah Tiongkok dan Australia.
Apakah ini ada hubungannya dengan Bali Yatra ? Mungkin juga.
Yang jelas bukti menunjukkan bahwa budaya luar secara inten masuk ke Bali dari dulu sampai saat ini dan saya salut dengan Leluhur Bali Purba, Bali Kuno, Bali Mula, Bali Aga yang telah mewariskan tradisi dan Budaya yang adiluhung dan masih bertahan hingga saat ini.
Tradisi dan ritual yang kita dapati saat ini tetap didominasi oleh warisan Manusia Bali Kuno dan bukan tradisi Negara dan daerah lain, mari kita lestarikan. Saatnya merakit kembali hubungan Bali Odhisa

Baca Artikel Menarik Lainnya : Jajaran Polda Bali Hadiri Mediasi Pakudui Kawan dengan Pakudui Kangin

Terpopuler

Basket di akhir Pekan, Muda dan Lansia

Basket di akhir Pekan, Muda dan Lansia

Presiden Prabowo Umumkan Serangkaian Kebijakan Perlindungan Pekerja pada May Day 2026

Presiden Prabowo Umumkan Serangkaian Kebijakan Perlindungan Pekerja pada May Day 2026

ADVERTISING JAGIR
Official Youtube Channel

#Atnews #Jagir #SegerDumunTunas

ADVERTISING JAGIR Official Youtube Channel #Atnews #Jagir #SegerDumunTunas

BTID Terima Kunker Komisi VII DPR RI, Tak Hadiri RDP Pansus TRAP DPRD Bali Bahas Tukar Guling Tanah Mangrove

BTID Terima Kunker Komisi VII DPR RI, Tak Hadiri RDP Pansus TRAP DPRD Bali Bahas Tukar Guling Tanah Mangrove

SingaKren Fest 2026 Langkah Cerdas Nan Visioner Bupati Memimpin Den Bukit, Ingatkan Wisatawan Pertama Belanda ke Bali

SingaKren Fest 2026 Langkah Cerdas Nan Visioner Bupati Memimpin Den Bukit, Ingatkan Wisatawan Pertama Belanda ke Bali

ARUN Soroti Wacana Devisa Pariwisata Bali Rp176 Triliun, Gung De Pertanyakan Besaran PAD

ARUN Soroti Wacana Devisa Pariwisata Bali Rp176 Triliun, Gung De Pertanyakan Besaran PAD