Oleh Wayan Windia
Kawasan Goris di Buleleng bagian Barat, pernah dikenal sebagai pusat lokasi warung remang-remang dan pusat cewek café. Apakah ada hubungan antara eksistensi warung remang-remang dakocan (dagang kopi cantik), dengan kemiskinan? Barangkali tidak bisa dihubungkan begitu saja. Sebab banyak juga kaum elit, artis, dll yang terlibat prostitusi, meski mereka bukan orang miskin. Tetapi mereka mungkin hanya merasa miskin.
Hal itu disebabkan karena keinginan-keinginannya yang semakin melebar. Mereka tidak biasa hidup prihatin. Seperti halnya kehidupan Mahatma Gandhi di India, Jendral Sudirman di Indonesia, atau mungkin seperti Nelson Mandela di Afrika Selatan.
Tetapi yang jelas adalah bahwa di kawasan Goris, banyak sekali terdapat penduduk miskin. Hidup di bawah garis kemiskinan. Bahkan mungkin sudah menjadi bagian dari kemiskinan strukural. Tetapi masyarakat di sana, tampaknya sudah terbiasa hidup seperti itu.
Bahkan mereka merasa, bukan sebagai orang miskin. Dalam kerangka pemikiran seperti itulah, saya dan rombongan menuju Kawasan Goris, untuk menemui dan membantu penduduk miskin di sana.
Dari Kota Denpasar, saya dan rombongan menuju Kawasan Goris, di Buleleng Barat, melalui Jembrana. Karena musim hujan, di sepanjang perjalanan, mata saya dihuni oleh kehijauan dan kesuburan.
Rombongan Perhimpunan Indonesia-Tionghoa (INTI) Bali, yang akan datang ke Banjar Goris itu, adalah untuk membantu penduduk miskin di kaki Bukit Tinga-Tinga. Mereka terdiri dari rombongan PD INTI Bali, yakni Ir. Aswin Pangestu dan Ir. Tantra, dan rombongan PC INTI Jembrana, yakni L Kukuh dan Irwan.
Adapun tujuannya adalah, untuk menemui seorang penduduk yang akan dibantu yakni Nyoman Widi dan keluarga. Ia masih muda, sekitar 27 tahun. Pekerjaannya sebagai tukang angkut garam di pesisir pantai. Anaknya sudah tiga orang. Masih kecil-kecil, belum sekolah, dan semuanya perempuan. Istrinya yang juga masih sangat muda (22 tahun), ternyata sedang hamil lagi. “Lho, kok hamil lagi. Sebaiknya ibu tidak melahirkan lagi ya…” kata saya. “Maaf pak, saya belum punya anak laki-laki” katanya datar.
Waduh. Rumahnya sudah reyot. Kalau saja tidak ditunjang dengan bambu, barangkali rumah itu sudah roboh. Hanya ada satu kamar, dan dapurnya yang sempit ada di luar rumah. Tetapi anaknya sudah tiga orang. Tetapi kok ingin punya anak lagi ya.. Lalu mereka akan tidur di mana? Barangkali mereka tidak berpikir sejauh itu. Yang penting, mereka harus memiliki anak lelaki.
Memang demikianlah pola pikir penduduk miskin di pedesaan, dengan pendidikan yang sangat rendah. Anak lelaki adalah segala-galanya. Tapi belum tentu anak-anak lelaki itu akan berbakti kepada orang tuanya. Jangan-jangan anak-anak yang cewek lebih peduli. Tetapi untuk sementara, tenaga anak lelaki itu, dapat diharapkan untuk membantu tenaga orang tuanya dalam berkebun.
Untunglah pihak Kodim Buleleng segera mengambil inisiatif membantu keluarga itu. Dilakukan bedah rumah, bekerjasama dengan stakeholders.
Diantaranya INTI Bali, The Bali Tribe, dan Komunitas Relawan Jembrana. Kini rumah keluarga Nyoman Widi sudah berdiri kokoh. Temboknya dari batako, dilabur bersih, dibuatkan tiga kamar tidur, dan lantainya dengan keramik. Ada seorang LSM yang mendampingi keluarga miskin itu, yakni Nyoman Sundara.
Sundara mengatakan bahwa rumah milik Nyoman Widi ini adalah rumah yang ke-13 yang berhasil diperjuangkan kepada publik. “Bangunan rumah ini yang paling baik, yang pernah saya lihat. Bahkan sampai kelengkapan rumah tangganya, juga dibantu oleh masyarakat” katanya.
Ia mengaku banyak mendapat tekanan dalam memperjuangkan penduduk miskin. Tetapi ia santai saja. Wah, membantu penduduk miskin kok mendapat tekanan juga ya…
Mungkin para pejabat tidak ingin orang lain menjadi tahu, tentang penduduknya yang masih miskin-miskin.
Kalau kita kembali pada proses perjalanan dari Denpasar-Jemberana-Goris, tampaknya sangat menyenangkan. Tidak ada macet, jalannya licin, lebar, dan di sepanjang perjalanan dipenuhi alam yang lembut. Para peladang terlihat mulai bercocok tanam di kebunnya.
Ketika sampai di pusat Desa Pejarakan, mobil harus membelok ke selatan, menuju perbukitan. Jalannya sempit dan berdebu. Mungkin perjalanan tidak bisa lanjut, kalau ada mobil yang berpapasan. Untunglah mobil yang lewat di jalanan itu sangat jarang sekali. Yang lewat hanya motor-motor bodong yang tidak berisi nomer polisi. Bahkan kelengkapan bodi motor-nya, banyak yang sudah dipereteli.
Mobil mulai terguncang-guncang, tatkala memasuki areal yang semakin menjauhi jalan raya. Setelah beberapa kilometer menjauh melalui jalanan yang berkelok, maka mobil harus berhenti. Kita harus melalui jalan setapak, untuk mencapai rumah Nyoman Widi. Dalam perjalanan di kawasan hutan itu, terdapat jurang yang dangkal, yang berbatu. Mungkin sebagai jalan air untuk melaju, pada saat musim hujan.
Tetapi dahulunya, pasti jurang itu adalah sebuah sungai, yang mengaliri air, dari mata air yang ada di bukit. “Mungkin demikian adanya” kata penduduk yang mengantar kami, yang bernama Wayan Kondra. Ia berasal dari Karangasem, yang sudah ada di Goris sejak dari kakeknya.
Ia kini bekerja sebagai pecalang. Kondra juga mengatakan bahwa ketika cewek café mulai memuncak di Goris, Satpol PP Kab. Buleleng, secara rutin datang ke Goris mengadakan pembinaan. Kini cewek café itu sudah menghilang. Mungkin mereka tidak ingin terus diganggu, lalu pindah ke tempat yang lebih aman.
Kepada Wayan Kondra, saya berpesan agar rakyat di Goris tidak semena-mena merusak kawasan hutan yang ada di Bukit Tinga-Tinga. Kalau hutannya bisa subur dan padat, maka diharapkan jurang yang kering itu, secara perlahan bisa dialiri air, dari mata air yang akan muncul di Bukit Tinga-Tinga.
Saya yakinkan mereka, bahwa keberadaan air, akan dapat mengangkat perekonomian rakyat di Goris. Kemudian mereka akan bisa lepas dari kemiskinan struktural, melalui pendidikan.
*) Penulis, adalah Ketua Stispol Wira Bhakti, Denpasar.