Oleh : Jro Gede Sudibya
Sekadar berbagi, pada menjelang raina Saraswati, agama Hindu tepatnya Sanatana Dharma di pulau Dewata, merujuk ke perjalanan rohani tokoh spiritual yang kemudian oleh krama Bali dikenal sebagai Rsi Markandya, dari Kalingga, Bhartiya (nama otentik dari India), sekarang kotanya bernama: Obhisa/Orhisa, adalah pengikut Ciwa dalam pengertian Ciwa di abad 8 masehi di Bhartiya.
(Jika kita merujuk prasasti tertua di Bali, prasasti Sukawana Isaka 740, prasti yang ditulis oleh Sang Rsi , yang sekaligus sebagai rujukan tahun Sang Rsi datang ke Bumi Nusantara).
Menginjakkan kaki pertama di tanah Jawa, gunung Adi Hyang, sekarang lazim disebut Gunung Dieng, ring madyaning Jawa Dwipa ).
Sistem keyakinan Ciwa ini, tidaklah sama dengan pengertian Ciwa Sidhanta, jika merujuk disertasi Prof.Dr.Haryati Subadyo tentang tema yang sama, yang sekarang banyak dijadikan rujukan.
Sistem keyakinan Ciwa ( Rsi Markandya ), dijabarkan dalam kepemimpinan, ritual keagamaan dan sistem sosial keagamaan oleh raja besar Bali abad permulaan: Cri Aji Jayapangus sebagai sistem keyakinan dan pemujaan Sri Narayana, Tuhan Wisnu, yang kemudian diikuiti dengan dengan setia oleh raja-raja Bali berikutnya: Gunapriya Dharmapatni - Udayana Warma Dewa, sampai Ida Dalem Waturenggong ( tepatnya Ida Dalem Batur Enggong: seorang raja yang selalu pergi ke Batur dimana " ada batu bergerak ". ).
Dalam konteks ke kinian tugas intelektual Hindu yang ada di sini (Paiketan), dan terutama para sholars yang ada di 13 Universitas Hindu Indonesia, para teolog mumpuni, menyebut beberapa diantaranya: rekan Dr Kt Donder, rekan dari kalangan muda Dr Gd Swantana dan masih banyak lagi teolog dan sosiolog agama pintar-pintar yang ada di universitas- universitas Hindu untuk melakukan riset serius tentang sistem keyakinan Sang Rsi (Rsi Markandaya) dan sejarah perjalanan rohani Beliau di Bumi Nusantara. Catatan tambahan seorang rekan akhli bahasa Sanskrit, lulusan universitas ternama di India, makna Markandya: rujukan bagi insan-insan manusia yang menang melawan kematian. Filosofi tersirat yang amat sangat dikenal dan menjiwai gerak kehidupan tetua Bali.
Rahayu.
*) Jro Gede Sudibya, Pengasuh Dharma Sala " Bali Werdi Budaya ", Rsi Markandya" Ashram, Br.Pasek, Ds.Tajun, Den Bukit, Bali Utara.