Oleh Jro Gede Sudibya
Pemikiran visioner yg.menantang umat Hindu Indonesia untuk menjawab tantangan zamannya (terlebih-lebih pasca pandemi).
Cerita sosiologi agama yg.disampaikan, terlebih-lebih menyangkut Dieng, sangat baik dikemas sebgai cerita dan dikelola secara bertanggung-jawab untuk yatra umat Hindu dunia.
Kawasan Gunung Dieng (sekarang): Danau dengan ke khasan warna, Candi: Arjuna, Bima, Goa Semar dan tempat yatra lainnya, sangat banyak bisa dikupas untuk tujuan tirtha yatra di atas.
Kerja besar yang memerlukan kepemimpinan cerdas dan tangguh, pengelola organisasi organik dan dukungan politik poweful dari penguasa.
Tentang our great Rshi, Rsi Markandya patut diberikan catatan:
1) Upakara Bali Yatra yang.setiap tahun dirayakan di India, akan selalu dikenang oleh umat Hindu di Odhisa dan juga umat Hindu Indonesia, terutama umat Hindu di Tanah Jawa dan juga Bali.
Upakara mengenang perjalanan rohaniawan besar Rsi Markandya ke bumi Nusantara, Jawa dan kemudian Bali. Peletak dasar sistem keyakinan Tuhan, agama Hindu di Dieng (Adi Hyang), melanjutkan yatra ke Timur Bumi Nusantara. Peletak dasar Panca Datu, (sistem keyakinan Tuhan: Gunung Mraga Lingga Widhi, Gunung Toh Langkir), ring Ambal-ambal Basukian, sekarang berdiri Pura Basukian, di sisi atas Becingah Agung, dalam lingkup Utama Mandala Penataran Agung.
Perjalanan sejarah yang kaya makna, bagi umat Hindu Indonesia, terlebih-lebih umat Hindu di Bali. Rsi besar yang merupakan peletak dasar peradaban dan kebudayaan Bali. Oleh para pakar Subak di Bali, Rsi Markandya disebut sebagai Bapak Pendiri Subak di wilayah: Tani, Wanua, Banua, Desa Pakraman, ring sawewengkon jagat Bali Dwipa.
2) Pasca pemendeman Panca Datu ring titik ambal-ambal Basukian, (diperkirakan tahun 723 masehi, 19 tahun setelah Prasasti Sukawana 704 masehi), sekarang menjadi Pura Basukian, setelah rampung menata kehidupan sosial keagamaan ring sawewengkon Basukian.
3) Pasca idealisme rohani (pemendeman Panca Datu), misi sosial ( menata kehidupan masyarakat setempat ), melanjutkan perjalanan ( rohani "membumi"dan sosial ) menuju Tengahing Bali Dwipa " level " terakhir, sebuah tempat yang diberikan nama oleh beliau sebagai Taru ( sebuah tempat yang memenuhi persyaratan kehidupan total termasuk baca moksa ), yang sekarang dikenal sebagai Desa Taro, Kecamatan Tegallalang Gianyar. Mengalami moksa di sini (bukan di Besakih), di belahan Timur Taro: Banjar Puwakan. (Puwakan dalam pengertian: tempat, kosmik, alam raya " terbuka " ). Catatan: Tengahing Bali Dwipa level pertama, perjalanan tahap pertama, kedatangan kedua ( terakhir ) Sang Rsi, Desa yang diberikan nama Ngepah Yang ( membagi diri untuk menyatu dengan Tuhan ring Bukit/Gunung Toh Langkir ), dalam konsepsi Ketuhanan : Gunung Mraga Lingga Widhi ). Desa ini sekarang menjadi Desa Payangan, Kecamatan Payangan, Kabupaten Gianyar.
*) Jro Gede Sudibya, Pengasuh Dharma Sala " Bali Werdi Budaya ", Rsi Markandya" Ashram, Br.Pasek, Ds.Tajun, Den Bukit, Bali Utara.