Banner Bawah

Dresta Bali, Pemikiran Kritis - Reflektif

Artaya - atnews

2021-06-29
Bagikan :
Dokumentasi dari - Dresta Bali, Pemikiran Kritis - Reflektif
Slider 1

Oleh I Gde Sudibya 
Banyak pertanyaan dan juga banyak beredar di medsos tentang istilah ini, yang pantas dijadikan bahan masukan kritis konstruktif bagi masyarakat, terutama bagi bagian masyarakat yang melihat proses belajar sebagai proses berkesinambungan selama rentang waktu kehidupan. Bali dengan tradisi nyastra, " tune in " dengan proses belajar berkelanjutan, sustainable learning procesess.

Dresta Bali
Dalam pengertiannya yang paling sederhana, Dresta Bali adalah tradisi yang ada di masyarakat Bali yang menggambarkan: peradaban, kebudayaan masyarakat Bali dalam:  menjawab, merespons dan memaknai realitas kehidupan dan dinamikanya. Peradaban merujuk kepada: tingkat pengetahuan termasuk iptek, sistem sosial dan organisasi yang membentuk peradaban. Sedangkan kebudayaan mencakup peradaban plus keseluruhan sistem nilai yang menciptakan proses: cipta, rasa dan karsa masyarakatnya.
Di sini termasuk ekspresi berkebudayaan dan berkesenian masyarakatnya.
Catur Dresta.
Melalui proses cipta, rasa dan karsa masyarakatnya, kita mengenal Catur Dresta, empat tradisi dari empat sumber yang berbeda, tetapi dalam perjalanan sejarahnya, mengalami:  pertemuan, percampuran, pemerkayaan dan bentuk-bentuk  " mutual simboistis " lainnya sesuai dengan kemampuan masyarakat dalam mencari solusi terhadap dinamika yang dihadapinya.
Pertama, Sastra Dresta, tradisi yang hidup dan menghidupi masyarakat berlandaskan sastra agama: Sruti, Bhagavad Gita, Upanisad, Smerthi dan rujukan sastra agama lainnya.
Kedua, Loka Dresta, tradisi yang hidup dan menghidupi masyarakat berasal dari kesepakatan pemimpin pada zamannya, untuk menjawab tantangan di zaman itu.
Ketiga, Kuna Dresta, tradisi yang hidup dan menghidupi masyarakat, yang berasal dari tradisi yang usianya amat panjang, sebut saja tradisi agama dan budaya pada masyarakat Gebog Domas ( 800 KK ) penyungsung Pura Pucak Penulisan,empat desa: Sukawana, Kintamani, Bantang dan Selulung, dengan tradisi Bali Mula. Dimana sentuhan teologi dan kepemimpinan Rsi Markandya, yang kemudian ditafsir-lanjutkan oleh raja besar Bali Cri Aji Jayapangus masih " menafasi " kehidupan masyarakatnya. Demikian juga tradisi pada ( sebagian ) pengempon Pura Pucak Sinunggal ring Den Bukit yang berjumlah 11 ( sebelas ) Desa.
Keempat, Desa Dresta, tradisi yang sedang berlaku di masing-masing Desa, yang merupakan gabungan, bauran dari tiga dresta di atas ( Sastra, Loka dan Kuna ), yang penerapannya disesuaikan dengan: Desa ( tempat dan lingkungan fisik alam ), Kala ( waktu ) dan Patra ( manusia dan lingkungan sosialnya)
Dari totalitas pengetahuan dari Catur Drestha ini, dapat diberikan catatan reflektif tentang persoalan, dinamika, pilihan solusi dan visi masa depan  masyarajat Bali sebagai berikut: pertama,
pijakan sastra keagamaan menafasi ketiga dresta lainnya ( sastra keagamaan per definisi yang terus berkembang ), sebut saja Sad Paksa kemudian mengalami " modifikasi " dengan konsepsi Ketuhanan Tri Murti dengan Kahyangan Tiga Nya oleh Mpu Kuturan Raja Kertha di era kepemimpinan Bali: Gunapriya Dharmapatni - Udayana Warmadewa. Kedua, Loka Dresta, keputusan yang berasal dari kesepakatan pemimpin agama dan budaya, untuk menjawab tantangan zamannya. Ketiga, kuna dresta, memberikan penggambaran sebut saja kesadaran kesejarahan masyarakat tentang makna masa lalunya, sebagai hikmah, kearifan dalam menciptakan dan menatap masa depan.
Keempat, jika orang Bali sekarang berbicara tentang  Dresta Bali sebagai identitas kulturalnya, dan bahkan menyebut sebagai " label " keyakinan, timbul pertanyaan: Dresta Bali mana yang dimaksudkan?. Merujuk Catur Dresta di atas, mencakup perjalanan panjang sejarah peradaban dan kebudayaan Bali sejak kedatangan Rsi Markandya,kepemimpinan: Cri Aji Jayapangus, Cri Kesari Warmadewa, Gunapriya Dharmapatni - Udayana Warmadewa, Astasura Bumi Banten dan Ida Dalem Watutenggong, atau pasca kejatuhan Gelgel, Bali pecah porak-poranda menjadi kerajaan kecil-kecil yang tidak pernah berhenti bertikai satu sama lain.
Timbul pertanyaan: Dresta Bali yang mana mau dilestarikan, karena sampai saat ini belum ada penjelasan komprehensif tentang: teologi, sistem filsafat dan simbol sosiologi agama yang akan dilestarikan. 
Para pembela gigih dari Dresta Bali semestinya memberikan penjelasan ke masyarakat untuk tidak melahirkan " salah tampi " pada sebagian masyarakat, tentang keseluruhan sistem nilai yang akan dilestarikan. Untuk menampik pertanyaan skeptis: jangan-jangan yang hendak " dilestarikan " adalah sisa kebiasaan yang kemudian menjadi tradisi pasca kejatuhan kerajaan Gelgel, Bali " berkeping-keping " menjadi kerajaan-kerajaan kecil, yang tidak pernah berhenti bertikai, yang kemudian dijajah Belanda dengan politik devide at impera, taktik politik untuk memecah dan menguasai.
Menjadi tantangan kita bersama untuk merumuskan  kembali secara; jernih, cerdas, jujur Dresta Bali ydm., sehingga bisa menjadi rujukan bersama sebagai identitas kultural yang mumpuni, dalam memghadapi tantangan ke depan, yang diperkirakan punya paragdima yang berbeda dengan masa lalu.
*) I Gde Sudibya, Ketua FPD ( Forum Penyadaran Dharma ), Denpasar.


Baca Artikel Menarik Lainnya : Pengetasan Kemiskinan Berbasis Pembangunan Desa di Sumsel

Terpopuler

Keutamaan Makna Brata Shivaratri dan Aktualisasinya Dewasa Ini

Keutamaan Makna Brata Shivaratri dan Aktualisasinya Dewasa Ini

Menatap Fajar Mentari Bali 2026, Gagal Kelola Sampah di Tengah Wacana Bali 100 Tahun

Menatap Fajar Mentari Bali 2026, Gagal Kelola Sampah di Tengah Wacana Bali 100 Tahun

ADVERTISING JAGIR
Official Youtube Channel

#Atnews #Jagir #SegerDumunTunas

ADVERTISING JAGIR Official Youtube Channel #Atnews #Jagir #SegerDumunTunas

Indonesia Kekurangan Tenaga Medis, Presiden Prabowo Ajak Universitas Inggris Dirikan 10 Kampus Berstandar Dunia di RI

Indonesia Kekurangan Tenaga Medis, Presiden Prabowo Ajak Universitas Inggris Dirikan 10 Kampus Berstandar Dunia di RI

PHDI Menang Gugatan ke-10, Pastikan Legalitas dan Selamatkan Bantuan Negara untuk Umat Hindu

PHDI Menang Gugatan ke-10, Pastikan Legalitas dan Selamatkan Bantuan Negara untuk Umat Hindu

Dari Kearifan Lokal ke Etika Global: Menata Kehadiran Hindu Indonesia di Dunia

Dari Kearifan Lokal ke Etika Global: Menata Kehadiran Hindu Indonesia di Dunia