Badung (Atnews) - Ketua Senat Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana (Unud) Prof. Dr. dr. Made Wiryana, SpAn. KIC. KAO. mendem pedagingan Patung Krishna di Monumen Perjuangan Bangsal (MPB), Badung, Senin (19/7).
Ia juga keponakan Ketua Pejuang di Buleleng Wijana dikenal Pak Item serta Ketua Program Studi Anestesi FK UNUD / RSUP Sanglah Denpasar didampingi Ketua Umum MPB, Dr Bagus Ngurah Putu Arhana, Sp.A (K) bersama Pengurus MPB Dra Widhi Adnyani.
Begitu juga Dr. Ida Bagus Gde Suparyatha, SpAK selaku Ketua Departemen /KSM Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran UNUD / RSUP Denpasar mendem pedagingan Rama bulan Juni lalu.
Rama dan Krishna yang merupakan tokoh pawayangan dan Itihasa Ramayana dan Mahabharata telah rampung berdiri pada Minggu (4/7).
Batu pertama pembangunan patung Rama dan Krishna yang diletakkan oleh Ketua MPR RI Bambang Soesatyo (Bamsoet) ketika dianugerahi penghargaan 3/4 Abad Monumen Perjuangan Bangsal oleh Ketua Umum MPB Dr Bagus Ngurah Putu Arhana Sp.A (K). Sedangkan lencana dan Penganugrahan 1/2 Abad Resimen Majasiswa Ugrasena oleh Ketua Korps Menwa Indonesia Bagus Ngurah Rai BA SH MM di Pura Puncak, Kawasan MPB, Selasa (18/5).
Patung Rama dan Krishna dibangun masing - masing setinggi lima meter, serta kehadiran Bamsoet pada waktu tersebut meresmikan simbol rumah ibadah enam agama yang menggambarkan kemajemukan dan keharmonisan bangsa Indonesia.
Demikian disampaikan Ketua Umum MPB, Dr. Bagus Ngurah Putu Arhana, Sp.A (K) kepada Atnews.
Menurutnya, epos Ramayana dan Mahabrata ibarat mata air memaknai hidup dan kehidupan.
Penggalan dari Mahabrata adalah Bhagawad Gita dengan nilai-nilai terkenal sebagai pelita kehidupan dalam dialog Krishna dan Arjuna.
Salah satu sloka yang dapat menjadi renungan, Bhagavad-gita, 2.47
karmany evādhikāras te, mā phalesu kadācana mā karma-phala-hetur bhūr, mā te sango "stv akarmani
(Engkau berhak melakukan tugas dan kewajibanmu yang telah ditetapkan, tetapi engkau tidak berhak atas hasil perbuatan. Jangan menganggap dirimu penyebab hasil dari kegiatanmu, dan jangan terikat pada kebiasaan tidak melakukan kewajibanmu).
Sloka itu pun yang merupakan pesan Krishna kepada Arjuna dalam Perang Kurukshetra diucapkan oleh Ketua DPR Puan Maharani , ketika menyampaikan pidato perdananya sebagai Ketua DPR RI periode 2019-2024, di Kompleks Parlemen, Jakarta, Selasa, 1 Oktober 2019.
Pesan serupa juga pernah disampaikan Megawati, saat membuka Kongres III PDI Perjuangan di Bali, tahun 2010 silam. Saat itu Megawati menjelaskan bahwa kalimat tersebut merupakan tulisan Bung Karno dikutip dari Bhagavad Gita.
Kutipan-kutipan sloka Bhagavadgita telah dimasukkan sebagai bahan pidato yang dibacakan di podium-podium sejak Mahatma Gandi, Nehru, Soekarno, Megawati dan banyak lagi pemimpin dunia.
Kegaguman Presiden Pertama Sukarno terhadap Bhagavad Gita pun disampikan pada Kongres Kebatinan Indonesia di Gedung Pemuda, Jakarta tanggal 17 Juni 1958.
Betapa seorang pimpinan sepatutnya-seharusnya menjadi panutan dalam melaksanakan tugas dengan ketulusan.
Seorang Albert Einstein-pun berujar:
"Ketika saya membaca Bhagawad Gita lalu merenungkan tentang bagaimana Tuhan menciptakan alam semesta, segala hal lain terasa begitu tidak bermakna".
Para tokoh dunia lainnya yang membaca Bhagavad-gita di antaranya Albert Einstein, J. Robert Oppenheimer, Mahatma Gandhi, Henry David Thoreau, Albert Schweitzer, Hermann Hesse, Swami Vivekananda, serta masih banyak tokoh besar lainnya.
Dijelaskan, kedua tokoh Rama dan Krishna yang merupakan Avatara Visnu dapat menjadi teladan para pemimpin bangsa dalam mengisi kemerdekaan menuju 100 tahun Indonesia merdeka.
Dalam ajaran kepemimpinan kekawin Ramayana, Raja Ayodya Sri Rama putra pertama dari Prabu Dasaratha di personifikasikan sebagai Dharma.
Rama yang di gambarkan sebagai sosok cerdas, cekatan, dan penuh gairah pengabdian merupakan sosok yang ideal dalam melaksanakan Dharma dengan segala kebjaksanaannya.
Pemimpin dalam kepemimpinannya harus dapat mengusahakan kebahagiaan seluruh anggotanya atau rakyatnya dengan tetap mengutamakan rasa bhaktinya dan rasa persaudaraan bersatu mencapai tujuan.
Seorang pemimpin memiliki kewajiban untuk menjalankan tugasnya menurut hukum, norma, dan tradisi yang baik. dan tidak dibenarkan memiliki sifat-sifat semaunya saja, otoriter, dan materialistis.
Agar prilaku seperti itu tidak di miliki oleh seorang pemimpin, maka sepatutnya pemimpin memiliki delapan karakter mulia yang disebut Astabrata (Manawa Dharmasastra, IX; Kekawin Ramayana, XXIV : 53-60,80).
Pemimpin yang ideal itu haruslah orang yang “gunaman” yaitu berkarakter mulia yakni memiliki wawasan yang luas , memahami ilmu niti (politik, kepemimpinan, dan ilmu ketatanegaraan),berbakti kepada tuhan, leluhur, dislipin dan mampu mengendalikan diri, dermawan dan bekerja penuh iklas, pemberani dan berlaku adil, memiliki sifat penuh kasih serta setia kepada janji.
Begitu juga, Krishna yang merupakan Raja Dwarka terdiri dari pulau-pulau seperti Antar dwipa, Pulau Dwarka dan pulau utama yaitu Dwarka.
Dalam kisah Mahabharata, Dwarka disebut sebagai ibukota Yadawa dan termasuk di dalam juridiksinya yaitu negara-negara tetangga seperti Vrishni, Andhaka dan Bhoja.
Pemimpin penting Yadava selain Raja Krisna, ada pula Balarama, Kritavarma, Satyaki, Akrura, Kritavarma, Uddhava dan Ugrasena.
Dalam kesastraan Jawa Kuna, cerita kelahiran dan masa remaja Krishna dimuat dalam kakawin Kangsa (Naskah Kirtya No. 844).
Bahkan keberadaan Bhagavadgita semakin populer merupakan wejangan Krishna kepada Arjuna dari Bhismaparwa, Mahabharata.
Bahkan BG sebagai kitab suci yang kelima bagi umat Hindu setelah Rigveda, Samaveda, Yajurveda, dan Atharmaveda.
Sedangkan Mahabharata dan Ramayana isinya pun mengenai berbagai hal, seperti filosofi kehidupan, nasehat, dan peristiwa sehari-hari. Kedua kitab kuno itu banyak menyinggung hal yang bersifat universal dan masih memiliki relevansi dengan masa sekarang, sehingga digemari di seluruh dunia.
Menurut Bamsoet, keberadaan simbol rumah ibadah dan patung Rama serta Khrisna menggambarkan semangat nilai pluralisme, sikap humanis dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai aset dan kekuatan bangsa Indonesia.
Dia mengatakan nilai-nilai keagamaan itu telah mewarnai kemajemukan masyarakat sejak bangsa Indonesia dilahirkan, dan menjadi fitrah kebangsaan yang diwariskan para founding fathers kepada bangsa ini.
"Oleh karena itu, tidak boleh ada pengingkaran dalam bentuk dan rupa apa pun terhadap fitrah kebangsaan tersebut," tegas Bamsoet.
Mantan ketua DPR itu menjelaskan, keberadaan markas gerakan bawah tanah di Bangsal yang kini dijadikan Monumen Perjuangan Bangsal, sangat berkaitan erat dengan sejumlah perjuangan rakyat Bali di berbagai tempat. Antara lain peperangan di Laut Gilimanuk, pendaratan pasukan I Gusti Ngurah Rai tanggal 20 November di Marga, juga perjuangan di Munduk Malang.
MPB merupakan peninggalan-peninggalan para pejuang yang melakukan perjuangan rahasia bawah tanah kemerdekaan Republik Indonesia di Bali.
Tempat bersejarah ini merupakan lokasi pertemuan pimpinan pemuda pejuang untuk mengatur strategi perlawanan terhadap penjajahan Jepang maupun NICA.
Semangat perjuangan Bangsal adalah mencapai serta mempertahankan kemerdekaan RI.
"Menjadi markas pertemuan pimpinan pemuda pejuang dalam mengatur strategi perlawanan terhadap penjajahan Jepang dan Nica. Bahkan Pahlawan Nasional I Gusti Ngurah Rai sering melakukan pertemuan di sini," tutur Bamsoet.
Kepala Badan Bela Negara FKPPI itu menerangkan, tugas berat berada di pundak seluruh anak bangsa untuk menjadikan pengorbanan para pejuang tidak sia-sia. Kemudian, memastikan kedaulatan, persatuan, dan kesatuan bangsa tetap terjaga.
Bamsoet mengingatkan bahwa tegak berdirinya NKRI sebagai bangsa yang berdaulat, tidak lain berkat dukungan dan pengorbanan segenap komponen bangsa. (GAB/ART/001)