Oleh I Gde Sudibya
Rainan Tumpek Wayang hari ini, 7 Agustus 2021, bertepatan dengan krisis kehidupan multi dimensi yang disebabkan oleh pandemi Covid-19, memaksa kita merenungi kehidupan dengan makna melekat yang menyertainya.
Ketenangan pikiran, stabilitas perasaan dan kejimbaran hati menjadi begitu penting dalam merespons keadaan yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.
Realitas keras kehidupan yang mesti dihadapi, dengan penuh ketenangan dan ketawakalan. Bukankah sering dikemukakan: kualitas kepribadian dan karakter kita akan teruji pada saat " gelombang badai " kehidupan menerpa?.
Dalam tekanan dan tantangan kehidupan ini, rainan Tumpek Wayang hari ini, menimbulkan sebersit pertanyaan reflektif, tentang arti sangat penting dari stimulasi energi diri untuk mentransformasi: Sad Ripu ( 6 musuh dalam diri ) menuju proses Sad Guna ( 6 keutamaan dalam diri ). Sad Ripu: Kama ( hawa nafsu ), Lobha ( keserakahan ), Krodha ( kemarahan ), Mada ( kemabukan ), Matsarya ( iri hati ) dan Moha ( kebingungan ).
Sedangkan Sad Guna, Enam Keutamaan dalam Diri: 1.Sandhi, kedekatan dengan Tuhan, punya kecerdasan spiritual tinggi dalam mengembangkan viveka. 2. Jana, kebijaksanaan dalam laku kehidupan. 3. Wigrha, kewibawaan yang merupakan pancaran kekuatan sang diri.
4.Wisesa, kekuatan yang lahir dari kebijaksanaan.
5. Sana, adaptif dalam merespons perubahan
6. Srya, berempati, mudah diterima oleh lingkungan.
Bagi yang berminat mendalami filsafat, Sad Dharsana, Samkhya, Yoga, Mimesa,Nyaya, Vaisiseka, dan Vedanta dan menggunakan sari pati pengetahuan holistik ini, dalam upaya berkelanjutan mengendalikan 6 musuh yang " bersemi " dalam diri menuju pendakian diri ke arah kualifikasi diri Sad Guna di atas, merupakan tantangan diri tersendiri.
Proses transformasi diri untuk melihat diri ke dalam, dalam wujud laku di luar: tapa, bratha, proses penyucian pikiran, stabilitas perasaan, kejimbaran hati,melakukan hembusan pembersihan terhadap kabut kegelapan pikiran, yang membuat tubuh ini, dengan "dasa muka " keinginannya, keinginan yang tanpa batas, " memenjarakan " keutamaan yang pada dasarnya " bersemi " di dalam Sang Diri. Proses melihat diri ke dalam yang yang membebaskan, liberating of our soul, meminjam ungkapan Svami Vivekananda, yang kemudian terpancar dalam laku ke seharian.
Sehingga meminjam ungkapan para akhli filsafat: " realitas adalah warna-warni dari sejumlah persepsi,",sehingga kita bisa menjadi lebih jernih dalam menyikapi realitas yang ada (betapapun pahitnya) dari sisinya yang positif.
*) Jro Gde Sudibya, Pengasuh Dharma Sala " Bali Werdhi Budaya, Pasraman Rsi Markandya, Br.Pasek, Ds.Tajun, Den Bukit, Bali Utara.
.