Oelh Jro Gde Sudibya
Seorang pengamat politik dalam ulasannya di sebuah media nasional, membuat analisis realitas politik kita di tingkat nasional dan juga daerah bercirikan: pemerintah yang mendapat dukungan sangat tinggi di parlemen, membuat aliansi pemerintah plus parlemen dapat melakukan apa saja dari perspektif kepentingannya, dengan nyaris mengabaikan kontrol partai oposisi, gerakan masyarakat sipil dan kelompok kepentingan di luar lingkaran kekuasaan. Fenomena demokrasi ini, menyitir lirik lagu sangat populer grup musik ABBA:" the winner take it all ", pemenang mengambil semuanya. Fenomena ini, menurut pengamat diatas memberikan penggambaran: penurunan kualitas demokrasi, pihak yang kalah sebagai pecundang yang tidak berdaya, powerless the losser, dan diingkarinya demokrasi musyarawah untuk mufakat. Fenomena demokrasi yang mengejutkan, setelah 23 tahun gerakan reformasi.
Timbul pertanyaan, kira-kira apa risiko ekonomi politik kalau fenomena demokrasi ini terus berlangsung?.
Pertama, persaingan politik akan semakin keras ke depan, karena yang berlaku teori zero sum game, yang menang mendapat semuanya, yang kalah tidak mendapat apa-apa. Ketegangan politik akan meningkat, yang distimulasi oleh ketakutan tidak mampu mempertahankan kekuasaan di satu pihak, dan ketakutan tidak dapat meraih kekuasaan di pihak lainnya. Kedua, kecendrungan menguatnya "power tend to corrupt " , akibat lemahnya kontrol parlemen, media dan gerakan masyarakat sipil. Dana publik bisa saja dipergunakan untuk melemahkan kekuatan civil society. Ketiga, kecendrungan pada butir Dua, bisa memperkeras kolusi antar oligarki yang dapat berakibat: tekanan pada penerimaan negara, " kebocoran " uang negara yang membesar dan semakin massifnya kerusakan lingkungan akibat korupsi kekuasaan dalam perizinan hutan dan tambang. Keempat, dalam persaingan politik yang tinggi, di tengah-tengah pragmatisme masyarakat plus tekanan ekonomi, persaingan politik nyaris ditentukan oleh kekuatan modal, memjnjam istilah Prof.Emil Salim: " demokrasi oleh para cukong ". Kelima, persaingan politik yang tinggi, yang dilandasi oleh bawah sadar ketakutan tidak dapat meraih kekuasaan, bisa melahirkan prilaku menghalalkan semua cara termasuk isu SARA, dengan social cost yang amat besar.
*) Jro Gde Sudibya, ekonom dan pengamat ekonomi politik.