Denpasar (Atnews) - Pemerhati Sosial Budaya Dr. Ir. Nyoman Merta, M.I.Kom juga juga Direktur Eksekutif Paiketan Krama Bali mengucapkan Hari Raya Suci Galungan pada Rabu (17/6) dan Kuningan, Sabtu (27/6/2026).
Diharapkan, kemenangan Dharma atas Adharma tidak sebatas slogan. Dharma dan kebenaran harus ditegakkan dalam situasi yang penuh dengan kejahatan, korupsi, kolusi, nepotisne di segala lini.
"Dharma Raksaka Raksita, siapa pun yang berpegang pada Dharma, ia akan dilindungi oleh Dharma. Siapa pun yang melawan Dharma, ia akan dilibas oleh Dharma," kata Merta di Denpasar, Rabu (17/6).
Perayaan Galungan dan hari-hari selanjutnya sudah semestinya diisi dengan kebajikan, pikiran, perkataan dan perilaku yang berlandaskan Dharma.
Ada empat tiang dharma yakni 1) Tapa (Pertapaan/Pengendalian Diri): Melatih disiplin diri, kesederhanaan, dan mengendalikan hawa nafsu; 2) Śauca (Kesucian/Kebersihan): Menjaga kemurnian tubuh, pikiran, dan lingkungan dari hal-hal negatif; 3) Dayā (Kasih Sayang): Memiliki rasa kasih sayang, empati, dan kepedulian terhadap semua makhluk hidup; 4) Satyam (Kebenaran/Kejujuran): Berkata dan bertindak jujur serta menjunjung tinggi kebenaran di atas segalanya.
Keempatnya merupakan prinsip moral yang penting dalam menjalani kehidupan sesuai dengan ajaran dharma.
Pada Zaman Satya (Satya-Yuga) empat kaki anda berdiri kokoh oleh karena 4 prinsip-prinsip dari Pertapaan (tapah), Kesucian (saucam), Kasih Sayang (daya) dan Kejujuran (satyam).
Namun sekarang ketiga kaki telah patah oleh karena merajalelanya Adharma dalam bentuk kesombongan, nafsu terhadap wanita, dan mabuk-mabukan.
Ibarat sebuah kursi, Zaman Kali atau Kaliyuga saat ini, tiang Dharma hanya satu yakni Kejujuran (Satyam). Sedangkan 3 lainnya adalah Adharma.
Kali yuga yang berlangsung 432.000 tahun. Usia manusia pada zaman ini maksimal 100 tahun.
Oleh karena itu, dibutuhkan jiwa-jiwa mulia dan sadhana yang kuat untuk berpihak tetap membela Dharma, walaun harus menghadapi tantangan dan cobaan yang berat.
Menurutnya, Dharma (kewajiban) sebagai pemeluk Hindu hanya bisa ditegakkan sepanjang krama Bali memegang erat warisan luluhur Bali berupa tanah, natah, sawah, sempadan jurang, pangkung, loloan, pantai, yang menopang budaya Bali.
"Adat dan budaya Bali bisa bertahan dan lestari sepanjang tanah warisan leluhur masih bertahan," bebernya.
Oleh karena itu, momentum perayaan Galungan dan Kuningan mesti menjadi tonggak penting memertahankan warisan leluhur agar Dharma bisa ditegakkan.
Sifat-sifat dan perilaku konsumtif yang mau kaya secara instan dengan menjual harta warisan leluhur terutama tanah, natah, ibu pertiwi (sumber kehidupan) sangat bertengan dengan Dharma sebagai pratisentana (keturunan).
Kebiasaan menjual tanah warisan juga sangat bertentangan dengan Tri Hita Karana.
Kebiasaan tersebut patut dikikis habis bila mau melihat anak cucu menikmati tanah ibu pertiwi Bali yang menyangga budaya Bali dan memberi kehidupan.
Dalam ajaran Veda, tanah tidak sekadar dipandang sebagai komoditas ekonomi, melainkan sebagai bentuk manifestasi Tuhan (Bhu Devi) yang merupakan sumber kemakmuran, penopang kehidupan, dan kekayaan sejati.
Bumi memberikan berkah berupa hasil panen, mineral, dan ruang untuk kesejahteraan umat manusia.
Adat dan budaya itu bisa bertahan dan lestari sepanjang masih ada tanah ibu pertiwi. Desa Adat mesti menerapkan aturan ketat melarang keras krama desa menjual tanah, apalagi karang ayahan desa. "Barang siapa yang berani dengan sengaja menjual karang ayahan desa bisa-bisa kepongor," pungkasnya. (GAB/ART/002)