Oleh I Ketut Puspa Adnyana
Om swastyastu.
Hindu memiliki banyak pedoman hidup agar pemeluknya dapat berkontribusi pada membangun keseimbangan buana alit dan buana agung. Sebuah cita cita luhur manusia yang diajarkan Veda. Anugrah terbesar Tuhan terhadap manusia adalah kecerdasan (prajña). Dalam Bhagawad Gita, juga derivat Veda lainnya seperti Sarasamuscaya, Slokantara dan Manawa Dharma sastra terkait kecerdasan dibicarakan mendalam.
Rsi Canakya yang menulis Arthasastra menasehati manusia “carilah harta kekayaan sebanyak banyaknya untuk dharma (dharmasya moolam artha). Karena harta kekayaan adalah kekuatan.
Sastra menyebutkan manusia tidak bisa meninggalkan 3 hal dalam hidupnya, yaitu: tapasya (dharma), Dhanan (harta kekayaan) dan Yajna (kurban suci). Berdasarkan konsepsi ini dalam Sarasamuscaya disebut secara harafiah: “Manusia yang memiliki harta adalah manusia mulia, namun menjadi lebih mulia bila memiliki kecerdasan pun kedermawanan”.
Siapakah orang cerdas dan bijaksana (Sang Pradnyana) menurut Hindu? Mari kita diskusikan Atma Prajña (Aatma Pruj^).
ATMA PRAJÑA
Atma dhyana, Atama Nistha, Atma Prema, Atma Jnani telah didiskusikan pada hari hari sebelumnya. Sekarang Atma Prajña. Kata “prajña” merupakan gabungan dari 2 kata, yaitu: kata "pra" yang artinya: maju, pemenuhan, dan kata “jna" yang artinya - mengetahui atau akrab dengan.
Jadi arti kata Prajña, yaitu: bijaksana, mengetahui, orang terpelajar, intelektual, pintar, kecerdasan individual, penilaian, sikap mental, shakti, pemahaman, kesadaran dan lainnya. Secara harafiah Atma Prajña berarti seseorang yang telah memiliki kecerdasan intelektual secara individu atas dasar pemahaman tentang Diri Sejati. (Atma Prajña dijelaskan dengan terang pada Regweda, Sukla Yayurveda, Isha Upanisad, Aitereya Upanisad, Kaushitaki Upanisad, Vasistha Upanisad, Mudukya Upanisad, Chandogya Upanisad, Brihadaharanyaka Upanisad, Patanjali Raja Yoga dan lainnya).
Belengu Triguna (satwa, rajas, tamas) terus menerus mendorong manusia untuk berkarma, yang hasilnya tentu saja baik (subhakarma) dan buruk (asubhkarma). Konsepsi Atma seluruhnya menjelaskan bahwa penerapannya sudah pasti di jalan kebenaran (dharma) dan hasilnya subhakarma.
Tidaklah mungkin seorang yang telah memahami Atma Prajña sebagai kecerdasan dalam kesadaran Diri Sejati melakukan hal hal penyangkalan terhadap kebenaran (dharma, yoga). Rsi Vashistha yang dikutip di dalam Kautilya Arthasastra menyebutkan bahwa seseorang yang telah berada dalam Kecerdasan Kesadaran Diri Sejati, bersinar cemerlang (widya) yang mengenyahkan segala kegelapan (awidya).
Dalam kehidupan sehari hari, bila berbicara mengenai kegelapan tidak bisa melepaskan diri dari upaya menghilangkan kegelapan. Kegelapan melahirkan kebodohan. Kebodohan melahirkan penderitaan dan kesengsaraan. Bila kebodohan ini dapat dihilangkan dari diri manusia, melalui pencerhan orang orang yang telah mencapai kesadaran Atma Prajña, tugas awatara berkurang dan bahkan tidak perlu turun ke dunia (Bhagawad Gita). Akan tetapi gempuran Triguna, dengan senjatanya Sadripu dan dagdigkarana, tidak mudah dihenyahkan dari kehidupan sehari hari manusia, pun bila ajaran Weda terus dilantunkan oleh orang arif bijaksana (Atma Prajña).
Sebagaimana ajaran Kalpa, Manwantara dan Mahayuga, yang mana dharma terus mengalami deklinasi sampai kepada titik terendah (akhir Kaliyuga) akibat kekuatan adharma (awidya, nerakasuta) dan kemudian mengalami inklinasi dari titik terendah (akhir kaliyuga) menuju dwaparayuga, Tretayuga dan akhirnya sampai pada Satyayuga (puncak kejayaan dharma) adalah kerena peran Atma Prajña. Orang orang ini akan mewartakan kisah tentang kehidupan yang sejati.
Semoga semua mahluk berbahagia dan hidup damai serta senang gembira.
Om santih santih santih Om. (*)