Momen G20, Menparekraf Resmikan Gedung Pascasarjana Poltekpar Bali Bernama I Gede Ardika
Banner Bawah

Momen G20, Menparekraf Resmikan Gedung Pascasarjana Poltekpar Bali Bernama I Gede Ardika

Admin - atnews

2022-11-13
Bagikan :
Dokumentasi dari - Momen G20, Menparekraf Resmikan Gedung Pascasarjana Poltekpar Bali Bernama I Gede Ardika
Slider 1
Badung (Atnews) - Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno meresmikan Gedung Pascasarjana bernama "I Gede Ardika" Politeknik Pariwisata (Poltekpar) Bali di Kabupaten Badung, Minggu (13/11).

Penghargaan itu, mengingat I Gede Ardika merupakan Founding Father dari Poltekpar Bali.

Ardika sebelumnya menjabat Kepala Pusat Pelatihan Pengembangan Pariwisata Bali (P4B) yang merupakan cikal bakal Poltekpar Bali pada tahun 1978-1985.

Peresmian pada momen Bali kedatangan kepala negara - negara anggota G20 yang berlangsung pada puncaknya 15-16 November mendatang. 

Sandiaga Uno mengajak jajaran Politeknik Pariwisata Bali untuk memastikan nama tokoh pariwisata I Gede Ardika sebagai inspirasi dalam menghasilkan karya terbaik.

"Ini gedung menyandang nama yang sangat ikonik. Jadi, hasilnya harus sangat fantastik. Jangan biasa-biasa saja," ujarnya. 

Menurut dia, nama I Gede Ardika (almarhum) sebagai Menteri Kebudayaan dan Pariwisata pada Kabinet Persatuan Nasional dan Kabinet Gotong Royong itu dengan dijadikan sebagai nama gedung hendaknya bukan hanya sebagai bentuk penghormatan.

Namun, yang lebih penting menjadi inspirasi dan motivasi bersama untuk menghasilkan karya-karya terbaik. Pemikirannya sudah jauh ke depan dalam memajukan pariwisata yang transformatif, pariwisaga berbasis masyarakat, pedesaan dan kearifan lokal.

Pemikiran itu memang relevan dalam kondisi saat ini, dimana desa wisata memang tengah tending. Bahkan delegasi KTT G20 baru mengetahui desa wisata di Bali memiliki daya tarik yang mengesankan. 

"Namanya (I Gede Ardika-red) sangat kita banggakan sehingga hasil yang keluar dari gedung ini harus membanggakan. Gedung ini akan menjadi episentrum, seluruh dunia pariwisata akan melihat ke gedung ini," ucap Sandiaga Uno.

Terlebih, lanjut dia, dalam menghadapi situasi saat ini pasca-pandemi COVID-19 memerlukan pariwisata yang berkualitas dan berkelanjutan sesuai pemikiran I Gede Ardika lebih dari 20 tahun lalu.

"Kami harapkan ini menjadi penambah daya juang kita untuk bangkit menciptakan peluang usaha dan lapangan kerja seluas-luasnya karena konsep Pak Ardika ini pariwisata berbasis desa wisata, berbasis masyarakat, budaya, tentunya kearifan lokal," ujarnya.

Sandiaga Uno menambahkan, I Gede Ardika juga memiliki konsep kerja keras, kerja cerdas, kerja tuntas dan kerja ikhlas (4AS) Ini secara berkualitas ditampilkan oleh hasil kerjanya secara totalitas.

"Ini saya harapkan tercermin dari pemikiran-pemikiran yang akan keluar dari Gedung Pascasarjana I Gede Ardika ini," ujar Sandi didampingi Sekretaris Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif / Sekretaris Utama Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia Ni Wayan Giri Adnyani.

Poltekpar Bali, lanjut Sandiaga Uno, harus bisa berinovasi, beradaptasi, berkolaborasi dan menyusun strategi pariwisata agar dapat bertahan pasca-pandemi COVID-19.

Sandiaga Uno dalam kesempatan itu juga memberikan pembekalan berupa pesan-pesan kepada para mahasiswa Poltekpar Bali yang bertugas sebagai Liaison Officer (LO) dalam rangkaian ajang Presidensi G20.

"Ini menjadi suatu pengalaman yang sangat langka dan berharga bagi mereka untuk bisa mendapatkan ilmu pengetahuan, tetapi juga keterampilan sehingga jangan disia-siakan," ujarnya yang dalam kesempatan itu juga berbincang dengan dua perwakilan mahasiswa.

Sementara itu, Direktur Poltekpar Bali Drs Ida Bagus Putu Puja, ST,M Kes mengatakan I Gede Ardika merupakan Founding Father  dari Politeknik Pariwisata Bali.

Ardika sebelumnya menjabat Kepala Pusat Pelatihan Pengembangan Pariwisata Bali (P4B) yang merupakan cikal bakal Poltekpar Bali pada tahun 1978-1985.

Selama bertugas di Bali, selain ikut terlibat dalam pendirian Sekolah Pariwisata dan keanggotaan Komisi Pendidikan pada International Hotel Association, I Gede Ardika juga memelopori diadakannya program Diploma 4 untuk mempersiapkan calon-calon pimpinan bidang perhotelan.

Program tersebut memberikan pendidikan teknis dan keahlian manajerial dan kepemimpinan dalam wawasan yang menyeluruh setingkat S1.

Selanjutnya, Gede Ardika dilantik menjadi Menteri Kebudayaan dan Pariwisata semenjak 23 Agustus 2000 pada Kabinet Persatuan Nasional, kemudian berlanjut pada Kabinet Gotong Royong semenjak tahun 2001 – 2004. 

Selama 4 tahun, I Gede Ardika dipercaya mengemban jabatan sebagai Menteri Kebudayaan dan Pariwisata. Salah satu konsep yang beliau perkenalkan dalam pariwisata adalah pengembangan pariwisata berbasis desa. 

Bahwa lingkungan dan budayalah yang sesungguhnya menjadi modal dalam membangun pariwisata. Nilai tambah dari kebudayaan harus ada dalam pariwisata, dan pariwisata adalah bonus bukan sebaliknya. Dengan kata lain pariwisata memberikan manfaat sebaik-baiknya demi masyarakat bukan memanfaatkan masyarakat untuk kepentingan pariwisata itu semata (added value tourism for community). 

Seperti pesan beliau yang ditulis pada salah satu buku beliau bahwa kepariwisataan haruslah diarahkan untuk benar-benar mewujudkan kapasitas, keadilan, pemberdayaan, dan keberlanjutan dalam membangun masyarakat.

 Karya besar dan rintisan yang dilakukan I Gede Ardika diantaranya Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) sektor pariwisata yang ditetapkan pada 2004 dan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan.

Falsafah kepariwisataan Indonesia bertumpu pada nilai-nilai dasar sebagai bangsa religius. Nilai itu menjadi acuan tertinggi yang diturunkan dalam nilai luhur agama, mengatur konsep hidup dalam keseimbangan hubungan antara manusia dengan Tuhan, hubungan dengan sesama manusia dan hubungan dengan lingkungan alam dalam upaya mencapai kebahagiaan (Tri Hita Karana).

Esensi dari Tri Hita Karana adalah pengendalian diri untuk bisa seimbang mengendalikan diri. 

I Gede Ardika sangat terkesan dengan apa yang disampaikan oleh Mahatma Gandhi bahwa Tuhan itu telah menciptakan semua keperluan manusia di dunia ini tetapi apapun yang Tuhan ciptakan kepada manusia, tidak akan pernah cukup untuk memenuhi keserakahan manusia. 

"Bagi beliau seperti itulah sesungguhnya hakikat Tri Hita Karana. Oleh karena itu, kepariwisataan itu tidak akan berkelanjutan apabila dikembangkan dengan jiwa loba/rakus," tegasnya. 

Konsep itu sudah dibahas oleh I Gede Ardika dan disampaikan pada sidang umum UNWTO di Santiago Chili semenjak 1999, pada saat pengesahan Kode Etik Pariwisata Dunia (Global Code of Ethics for Tourism). I Gede Ardika hingga akhir hayat tetap tercatat sebagai anggota World Committee on Tourism Ethics yang mewakili kawasan Asia Pasifik pada United Nation on World Tourism Organization, semenjak tahun 2007.

Dua buah penghargaan berupa Satya Lencana Karya Satya 20 Tahun yang diterima pada tahun 1997 dan Satya Lencana Pembangunan tahun 1999 membuktikan sejarah panjang perjuangan beliau dalam bidang pengabdian pada lembaga dan negara. 

Selain itu, I Gede Ardika juga dianugerahi tanda jasa Bintang Mahaputera Adipradana oleh Presiden Joko Widodo pada tanggal 12 Agustus 2021.

The Founding Father dari Politeknik Pariwisata Bali ini tergerak untuk menyumbangkan pengetahuan dan ketrampilannya dalam bidang pariwisata.


"Salah satu konsep yang Beliau (Ardika-red) dalam pariwisata adalah pengembangan pariwisata berbasis desa, bahwa lingkungan dan budayalah yang sesungguhnya menjadi modal dalam membangun pariwisata," ujarnya.

Selanjutnya nilai tambah dari kebudayaan harus ada dalam pariwisata, dan pariwisata adalah bonus bukan sebaliknya.

"Dengan kata lain pariwisata memberikan manfaat sebaik-baiknya demi masyarakat bukan memanfaatkan masyarakat untuk kepentingan pariwisata itu semata. Kepariwisataan haruslah diarahkan untuk benar-benar mewujudkan kapasitas, keadilan, pemberdayaan, dan keberlanjutan dalam membangun masyarakat," ujar Puja.

Terkait dengan Gedung Pascasarjana I Gede Ardika tersebut dibangun sejak 2019 dan rampung pada 2021. Gedung empat lantai tersebut itu digunakan untuk pelayanan pada mahasiswa, ruang pertemuan, amphiteater, ruang kuliah, ruang ujian akhir serta dilengkapi kantin. (GAB/ART/001)


Baca Artikel Menarik Lainnya : Sertijab, Kabasarnas Launching Buku  "Bekerja dengan Hati"

Terpopuler

Rumah Layak untuk Pak Juli: Gotong Royong Bulan Bung Karno Wujudkan Kesejahteraan Warga Buleleng

Rumah Layak untuk Pak Juli: Gotong Royong Bulan Bung Karno Wujudkan Kesejahteraan Warga Buleleng

Penguatan Desa Budaya, Prodi Ilmu Pemerintahan FISIP Unwar Gelar PKM di Desa Sukawati 

Penguatan Desa Budaya, Prodi Ilmu Pemerintahan FISIP Unwar Gelar PKM di Desa Sukawati 

DPRD Badung Ucapakan Hari Raya Waisak

DPRD Badung Ucapakan Hari Raya Waisak

Hari Lahir Pancasila, Presiden Prabowo Tegaskan Transformasi Menuju Ekonomi Berkeadilan

Hari Lahir Pancasila, Presiden Prabowo Tegaskan Transformasi Menuju Ekonomi Berkeadilan

Senantara: Kita Butuh Investor yang Jaga Bali, Bukan Cuma Cari Untung

Senantara: Kita Butuh Investor yang Jaga Bali, Bukan Cuma Cari Untung

Kemnaker Gandeng Boga Group Perluas Akses Kerja bagi Lansia

Kemnaker Gandeng Boga Group Perluas Akses Kerja bagi Lansia