Oleh Putu Suasta, Alumnus UGM dan Universitas Cornel
Kalau kita membaca secara acak beberapa buku klasik tentang Waisnawa (Vaishava)
1. The waisnava literature of Medieval Bengal.
2. Hindu theology in early modern South Asia.
3. Meterial for the study of the early history of the Vaushnava sect
4. The Vaishnavite reformers of India
5. The True history and Religios of India .,
Dapat di Tarik garis merah bahwa ajaran Waisnawa merupakan sistem keyakinan teologis monoteitis yang umurnya setua Veda . Ajaran Vaisnawa merupakan ajaran paling tua yang merupakan ajaran tunggal monoteisme yang percaya adanya Tuhan yang tunggal, Ekam Evam Adityam Brahman. Membaca tulisan Srinivasa Chari yang dirumuskan oleh Doktor Ketut Donder, seorang peneliti teologi Hindu yang selama puluhan tahun studi di India.
“Asal mula system keyakinan Vaishnava dapat telusuri kembali ke Regveda – yaitu literatur agama tertua di dunia . Tradisi dianggap sebagai asal yang menjadi dasar ajaran Vaishnava yang diajarkan atau disampaikan secara lisan oleh Visnu sendiri kepada Dewi Laksmi dan pada giliran lainnya untuk Vishvaksena, dewi yang suci.
Berdasarkan pada catatan literature, tercatatan bahwa kita dapat menemukan dalam Regveda bukti yang cukup dan tidak perlu dipetanyakan untuk prinsip dasar Vaishanavism. Ada cukup banyak himne di Regveda, beberapa diantaranya diulang dalam Yayurveda dan Samaveda, yang membicarakan Visnu sebagai Dewa pribadi tertinggi, yang merupakan satu satunya pencipta dan pengendali alam semesta dan penyelamat kemanusiaan.
The Wesem Indologis dan beberapa sarjana India telah berpandangan bahwa Visnu disebutkan dalam Regveda adalah salah satu diantara beberapa Dewa seperti Agni Rudra, Prajapati, Indra, Varuna, Soma, dll, dan itu adalah Visnu, oleh karena itu itu bukan Dewa Agung (Supreme Deity).
Sebuah study yang cendrung berkaitan dengan Wisnu, atas dasar interprestasi oleh komentator kuno seperti Yaksa dan eksponen dari Vedanta, membawa implikasi yang benar dari pernyataan Veda dan mengungkapkan bahwa pandangan Indologis tidak benar”.
Kalau dipaparkan dalam anatomi dan struktur teologi Vaisnawa, Visnu menjadi pusat orientasi seluruh perhatian, aktivitas kultural, ritual dan spiritual. Visnu menjadi ultimate Realiyt dan personifikasi dengan Narayan Vasudewa dan Brahma, jadi Visnu menjadi Tri Murti (Brahmaloka, Shivaloka dan Vishnuloka) dalam satu simbolik sebagai supremasi tertinggi.
Bagaimana teologi dan ideologi Vaisnawa dipahami dan bekerja dalam keidupan nyata dan aktivitas kehidupan social, kultural, politik- kekuasaan dalam dunia yang berubah secara gradual.
Kita bias memahami dengan mengambil Gandhi sebagai model praktis. Gandhi dibesarkan dan tumbuh sebagai seorang penganut dan pemuja ajaran Vaisnawa yang sangat taat dan patuh.
Keluarga dan nenek moyangnya Gandhi secara turun temurun beberapa generasi adalah penganut ajaran Vaisnawa yang taat mempelajari, membaca, memahami Bhagawan-Gita dengan komprehensif.
I. Spirit Waisnawa dalam Satya Graha
Bagi Gandhi Satyagraha adalah pembenaran kebenaran bukan dengan melakukan perlawanan kekerasan pada musuh tetapi pengendalian pada diri sendiri secara dan sistematis. Satya Graha adalah jalan damai jalan lentur tanpa menghilangkan prinsip. Jika kata – kata gagal untuk meyakinkan musuh maka jalan kerendahan hati, kejujuran dan ketegasan sikap bias dilakukan, lawan harus dikalahkan ditundukkan bukan dihancurkan. Musuh harus diinfeksi dengan ide – ide baru untuk merubah pemahaman dan menanamkan semangat baru supaya dapat merubah menjadi kesadaran baru secara gradual. Satyagraha merupakan latihan kekuatan, tidak melalui kekerasan atas orang lain melainkan atas diri sendiri.
Mahatma Gandhi menerapkan 2 jenis Satya Graha. Pertama “ Pembangkangan Sipil” yang mencakup pengertian beradap dan penuh kesopanan. Pembangkangan ini tidak dilakukan dengan menggunakan kekerasan fisik. Kedua “ Non Kooperatif” artinya menolak kerjasama dengan pihak lawan (penjajah) serta menolak tunduk pada ketidakadilan contohnya boikot ekonomi, penolakan bayar pajak pada penjajah, pemogokan kerja, ini semua dimaksud untuk memperlemah kekuatan ekonomi penjajah sehingga daya cengkram kekuasaannyapun berangsur melemah.
Praktik satyagraha ini bukan ditujukan pada perorangan,melainkan kepada sistem yang sarat dengan ketimpangan ketidakadilan yang menjadi episentrum penderitaan rakyat.
II. Spirit Vaisnawa Gandhi dalam Swadeshi
Mengutif dari situs The Metta Center for Nonviotence, Swadeshi berasal dari Bahasa Sansekerta “Swa” yang berarti diri sendiri dan “Desh” yang berarti Negara. Maka Swadesh dapat diartikan Mengurus Negara Sendiri.
Konsep Swadesh, semangatnya adalah Swaraj atau berdiri diatas kaki sendiri memulihkan kepercayaan diri bahwa mampu mengeola diri sendiri dalam semua cara, teknis dan bentuk perlakuan. Menolong diri sendiri, menolong masyarakat, menolong bangsa, dan memerintah Bangsa dan Negara sendiri tanpa mau dijajah atau diperintah oleh bangsa asing , istilahnya Bung Karno ‘’ Berdikari berdiri diatas kaki sendiri “. Swadesh merupakan jalan damai yang dicita – citakan bangsa India untuk merdeka dari penjajah Inggris . Swadesh merupakan aktivtas gerakan yang memboikot produk asing produk penjajah seperti hasil pangan, produk tekstil, produk teknologi dan lain sebagainya dan mengajak masyarakat untuk menggunakan semua produk lkcal.
Swadesh merupakan prinsip cinta terhadap tanah air patriotis dan ditujukan dengan suatu pengbdian terhadap negara berdasarkan rasa kemanusiaan dan keadilan. Menurut Gandhi, gerakan Swadesh dimulai dari pengabdian diri untuk keluarga, pengabdian keluarga untuk desa, pengabdian desa untuk negara dan negara untuk kemanusiaan yang universal.
III. Ahimsa dan Vaisnawa
Konsep Ahimsa merupakan sebuah prase dari Bahasa sansekerta dari kata ‘’ Himsa = kekerasan, pritek a = tanpa , sehingga Ahimsa artinya Nir-kekerasan.
Ahimsa berarti tidak memiliki keinginan untuk menyakiti orang lain , tidak membahayakan diri sendiri dan seluruh mahluk di semesta ini.
Menghindari seluruh aktivitas kehidupan terutama dengan masyarakat social dengan kekerasan. Sebenarnya prinsip ahimsa memiliki hubungan dan makna yang erat dengan hukum karma, hukum aksi- reaksi yang berdimensi waktu. Karma yang dilakukan oleh siapa saja baik itu berupa pikiran, perkataan maupun perbuatan langsung ketika akan berakibat langsung pada siapa saja yang melakukannya dalam dimensi waktu.
Kontribusi terbesar yang telah diberikan Gandhi kepada kemanusiaan adalah pesannya tentang nir-kekerasan sebagai jalan perdamain, keadilan dan Tuhan. Gandhi sangat serius ketika menghayati perintah-perintah suci ajaran Injil bahwa “kamu tidak boleh membunuh” dan cintailah musuh-musuhmu. Dia memandang bahwa ajaran ini parallel dengan tradisi Hindu tentang ahimsa (tidak boleh membunuh), dan Gandhi menerapkan penolakan kekerasan terhadap hati dan hidupnya, pada Afrika Selatan, India, dan dunia.
Tetapi Gandhi mempunyai pemikiran bahwa nir-kekerasan bukanlah sekedar penolakan untuk membunuh. Nir-kekerasan adalah sebuah aksi atau tindakan cinta kasih dan kebenaran sebagai kekuatan yang positif untuk mewujudkan perubahan sosial.
Bahkan, Gandhi selalu menekankan bahwa nir-kekerasan merupakan kekuatan yang paling aktif dan tangguh di dunia ini. Hal ini bias terjadi karena Gandhi memandang bahwa ni-kekerasan merupakan kekuatan dari Tuhan, metode Tuhan, kekuatan Tuhan yang bekerja dalam bangsa manusia. Gandhi menyimpukan bahwa kekuatan nir-kekerasan ini melebihi kehebatan yang dimiliki persenjataan nuklir.
Dengan prinsip nir-kekerasan inilah pelucutan senjata bisa menjadi keniscayaan.Nir-kekerasan akan selalu berhasil, karena prinsip ini menggunakan kerelaan menangungkan semua penderitaan dengan penuh rasa cinta, dan ini semua akan meluluhkan hati umat manusia.
Pada saat Gandhi berposisi sebagai perumus strategi politik yang brilian dan revolusioner, apa yang telah dia susun sangat berbeda, otentik dan unik dibandingkan dengan gagasan-gagasan lainnya.
Letak perbedaan dan keunikannya adalah karena ketika melakukan praktek perjuangan nir-kekerasan dalam ranah publik dia sepenuhnya menyandarkan dirinya pada eksistensi Tuhan. Bagi Gandhi nir-kekerasan bukan sekedar sebuah strategi tetapi merupakan spiritualitas, jalan hidup (way of live), dan pusat dari keyakinan dan praktek ke-beragama-an dan spriitualitasnya.
IV. Vaisnawa Gandhi Transformasi Sosial
Dalam buku Mahatma Gandhi : Assential Writing yang ditulis oleh John Dea. Kontribusi Gandhi terhadap spirtualitas modern tidak terbatas pada dampak atas gerakan sosial yang mendunia melalui politik yang mengedepankan strategi nir-kekerasan secara aktif dan gerakan satyagraha. Tetapi lebih dari itu adalah pengaruh transformative atas agama itu sendiri.
Banyak agama-agama di dunia ini yang telah mendapatkan inspirasi dari Gandhi untuk kembali ke akar – akar keyakinannya yang mendasar dan otentik. Yaitu kembali ke ajaran kebenaran dan nir-kekerasan dan inilah yang akan bisa menjadikan agama-agama di dunia ini bisa hidup bersama dan berdampingan secara damai.
Pengaruh yang ditimbulkan oleh sosok Gandhi sangatlah dahsyat, dan juga sangat luhur serta sublime sifatnya.
Kontribusi utama yang diberikan Gandhi kepada spritualitas –dan kepada kemajuan dunia itu sendiri – adalah nir-kekerasan. Gandhi telah mengajarkan bahwa apabila pengabdian kita kepada Tuhan benar-benar jujur, apabila keyakinan kita benar-benar tulus serta ikhlas, apabila kita menginginkan semua orang bisa menjadi pendoa, bahkan apabila kita mengidamkan bisa menjadi sosok yang benar-benar manusiawi, kita harus menjadi manusia nir-kekerasan.
Gandhi mengabdi kepada Tuhan yang dipenuhi dengan nir-kekerasan dan dia mengatakan bahwa setiap agama besar di dunia ini berakar pada ajaran nir-kekerasan.
Ghandi telah mengajarkan bahwa nir-kekerasan bisa diperaktekkan dalam setiap level kehidupan kemanusiaan, di dalam setiap hati manusia, dalam kehidupan berkeluarga kita, dalam pertemanan, dalam komunitas lokal, juga dalam skala nasional bahkan international.
Gandhi menekankan pada kita semua supaya membuang semua persenjataan yang kita miliki, semua bom yang bisa meledak kapan saja. Kita harus berhenti menyakiti sesame mahluk di sekeliling kita. Kita harus bersikap sederhana dalam gaya kehidupan keseharian kita.
Ghandi telah mengajarkan bahwa integritas personal merupakan hal yang sangat penting demi meraih spritualitas yang sungguh-sungguh otentik, yaitu demi nir-kekerasan. Untuk mencapai tujuan ini , Gandhi menyarankan ritual puasa yang dilakukan secara teratur dan berkesinambungan di sepanjang kehidupan seseorang. Gandhi adalah sosok yangsangat mendukung dan menganjurkan puasa sebagai salah satu cara untuk menebus kesalahan personal yang dilakukan oleh seseorang dan juga dosa yang dilakukan oleh orang-orang yang kita cintai.
Gandhi mengatakan kepada semua tokoh politik, aktivis dan pemimpin agama untuk membuka hati mereka, dan membiarkan Tuhan bertahta dihati mereka. Ini semua harus dilakukan, apabila mereka benar-benar ingin menjadi sosok yang bisa memberikan bantuan kepada orang lain.
Gandhi meyakini bahwa kehidupan spiritual-sebagaimana semua perjuangan politik dan social –mengharuskan pencarian tanpa lelah dan tanpa rasa takut atas kebenaran.
Bahkan Gandhi secara konsisten selalu mengatakan bahwa pengabdiannya kepada Tuhan tidak sekedar sebagai Tuhan nir-kekerasan, tetapi juga sebagai Tuhan kebenaran.
Gandhi sampai pada satu kesimpulan yang mengejutkan sebagai penganut Hindu Vaisnawa yang setia – bahwa kebenaran adalah Tuhan.
Dalam pencariannya ini spiritualitas Gandhi bukanlah keyakinan yang berakar dalil yang sekedar mengutamakan kenyamanan diri, bersifat kabur atau menyerupai kekeliruan yang diusung oleh paham New Age. Spritualitas Gandhi berpijak pada kebenaran dan selalu berbicara dengan cinta secara terbuka.
Jarang sekali ada seorang tokoh publik yang berbicara secara lantang sebagaimana yang dilakukan Gandhi. Gandhi mengetahui dan menyadari bahwa apabila dia berpegang teguh apada kebenaran, dia akan berpegang teguh pada Tuhan. Lebih jauh lagi bahwa kebenaran yang telah diutarakan pasti akan memperjuangkan dirinya dan akan membawa kita ke kemerdekaan dan perdamaian yang didambakan.
V. Semangat Vaisnawa dan Kontribusi Gandhi terhadap Dunia
Kontribusi mendasar Gandhi dibidang agama adalah memberikan keunggulan atas kebenaran dan rasionalitas daripada kesesuaian dengan pratek-praktek tradisional.
Bahkan ia membuat kebenaran sebagai dasar semua moralitas dengan mengatakan : “saya menolak doktrin agama yang tidak menarik bagi akal dan bertentangan dengan moralitas”
Meskipun seorang Hindu yang taat sangat, pendekatan dasar Gandhi terhadap agama adalah “Sarvadharma sambhav”(rasa hormat yang sama bagi semua agama. Baginya semua agama memiliki status yang sam adan jalan yang berbeda ketujuan yang sama mencapai persatuan dengan Tuhan. Agamanya adalah “yang mentransfortasi Hindu, yang merubah seseorang secara alami, mengikat seseorang dengan kebenaran dan memurnikan. Ini adalah elemen permanen sifat manusia yang meninggalkan jiwa gelisah sampai menemukan dirinya”.
Dia menegaskan “Bagi aku agama yang berbeda merupakan bunga-bunga indah dari taman yang sama atau cabang dari pohon megah yang sama”. Dalam pertemuan doanya dibaca dari semua buku suci. Himne favoritnya dimulai dengan baris “ Dia sendiri adalah pemuja sejati ajaran Vaisnawa yang mengerti rasa sakit dan penderitaan orang lain”.
Ghandi sebagai seorang Vaisnawa yang taat dan dari keluarga dan leluhurnya menganut Hindu Vaisnawa, ajarannya tentang Satyagraha, Ahimsa dan Swadeshi telah menyebar keseluruh dunia seluruh planet bumi. Albert Einstein ilmuwan paling hebat di abad ke-20 mengatakan “ kami mungkin berharap bahwa contoh anda akan menyebar ke seluruh perbatasan negara, dan akan membantu untuk mendirikan sebuah otoritas international”.
Pemenang Nobel Robindranath Tagore mengatakan di sekolah Shantiniketannya “bayangan menggelapkan India hari ini seperti bayangan gerhana matahari. Mahatmaji, yang mendedikasikan hidupnya telah membuat India sendiri dalam Kebenaran, telah memulai sumpah pengorbanan diri yang ekstrim..penebusan dosa yang telah diambil Mahatmaji atas dirinya bukanlah ritual tapi pesan bagi kita semua di India dan dunia. Mari kita mencoba untuk memahami arti pesan kita.
Rumain Rolland: pemenang Nobel Sastra tahun 1915 pertama kali mendengar tentang Gandhi dari Tagore. Dia sangat terinspirasi oleh spritualitas Gandhi dan tanpa kekerasannya memperjuangkan emansipasi India dari penjajahan dan kejahatan sosialnya sendiri. Pada tahun 1924 ia menulis sebuah biografi yang ia beri judul “Mahatma Gandhi –The Man Who BecomeOne with the Universal Being”. Didalamnya ia mengatakan “Rasul India adalah rasul dunia …Pertempuran yang Mahatma mulai empat tahun yang lalu adalah pertempuran kita.Semua perjuangannya disucikan oleh agama”.
Dalai Lama, dalam pidato penerimaan hadiah Nobel pada Desember 1989, berkata demikian “Aku menerima hadiah dengan rasa syukur yang mendalam atas nama mereka yang tertindas di mana-mana, dan kepada semua yang berjuang untuk kebebasan dan kepada mereka yang bekerja untuk untuk perdamaian dunia. Aku menerimanya sebagai penghormatan kepada orang yang mendirikan tradisi modern tanpa kekerasan untuk perubahan - Mahatma Gandhi – yang hidupnya mengajari dan menginspirasiku.
Dan tentu saja, aku menerima ini atas nama enam juta orang Tibet, senegaraku yang pemberani dan perempuan di Tibet, yang telah menderita dan terus menderita begitu banyak…”
Pemenang hadiah Nobel lainnya yang secara terbuka telah mengakui Gandhi pada mereka adalah Albert Luthuli, Desmond Tutu dan Nelson Mandela dari Afrika selatan, Adolfo Perez Esquivel dari Argentina, Oscar Arias Sancez dari Costa Rica, Lech Walesa dari Polandia, Rere Cassin dari Perancis, Shimon Peres dari Israel, Mairead Corrigan dan Betty Williams dari Irlandia, Ibu Theresa dan Amartya Sen dari India, Aung San Su Kyi dari Myanmar (yang Alan Clements telah melukiskannya sebagai “Burma Gandhi”), Wangarai Maathai dari Kenya (yang telah berevolusi jaringan sebanyak 600 komunitas di dirinya sendiri dan 20 negara lainnya di Afrika , yang telah menanam lebih dari 30 juta pohon dan Presiden Jimmy Carter dan Barrack Obama dari Amerika Serikat.
Patrice Lumumba pada malam kemerdekaan negaranya Kongo, menyatakan “Kami telah merebut kebebasan kami dengan menerapkan prinsip tanpa kekerasan dalam perjuangan kami melawan kolonialisme. Sungguh kita berhutang kepada Mahatma Gandhi”.
Di Nigeria, Kano Amino, seorang muslim yang taat, menurut penulis biografinya alan Feinstein, “menganalisis kesuksesan Gandhi dalam mengangkat jutaan orang India tingkat dedikasi yang tinggi dan berusaha mengadaptasi teknik tanpa kekerasan Gandhi untuk Nigeria Utara “ dan ia dijuluki sebagai Gandhi Nigeria”.
Akhirnya, sebagai seorang penganut Waisnawa yang taat Gandhi telah menyampaikan tantangan kepada kita semua untuk melakukan pencarian terhadap Tuhan dengan melakukan pencarian kebenaran dan menerapkan prinsip nir-kekerasan secara aktif dan terus menerus. Gandhi telah mengundang kita berjuang untuk meraih kebenaran spiritual, politik, ekonomi, dan sosial serta kedalaman-kedalaman perdamaian dengan tekad dan pengorbanan yang dahsyat-sebagaimana yang telah dilakukan Gandhi.
Gandhi menekankan kepada kita semua untuk melepaskan hasrat meraih ketenaran, kekayaan, kekuasaan dan ego. Demi mencapai kesemuanya itu, kita harus berjalan bersama kaum miskin, menyederhanakan kehidupan kita, berdoa kepada Tuhan setiap hari, menerapkan nir-kekerasan disetiap ranah kehidupan, dan berjuang secara lantang demi pelucutan senjata nuklir; menentang peperangan, kemiskinan, rasisme, kelaparan, penerapan hukuman mati praktik aborsi,fanatisme beragama, eksploitasi kepada binatang, dan kekerasan dalam berbagai bentuknya.
Seruan-seruan Gandhi kepada umat manusia tidak lain mengajarkan tentang transformsi total atas seluruh kehidupan dan dunia kita.
Gandhi telah memberikan kesaksian melalui seluruh perjalanan hidupnya bahwa semakin dia mampu meniadakan dirinya dan berjuang menjumpai Tuhan serta berbuat baik dengan mengabdi kepada kemanusiaan-tanpa memperhitungkan resiko dan penderitaan yang harus dia tanggungkan maka semakin besarlah kebahagiaan dan kedamaian untuk seluruh umat manusia.
*) Putu Suasta, Alumnus UGM dan Universitas Cornel