Oleh Jro Gde Sudibya
Media atnews.id dalam Dialog, bertema: Kebijakan Publik Pembangunan Bali yang Berkelanjutan, terungkap pendapat jalur rempah Nusantara di masa lalu berkaitan dengan hubungan Nusantara - India. Pendapat yang menarik untuk disimak, baik dari perspektif kesejarahan terlebih-lebih dalam merumuskan visi masa depan Indonesia dalam relasinya dengan negara - nehara lain.
Banyak sejarawan, ilmuwan sosial berpendapat, kemajuan Sriwijaya di abad ke-7, nyaris berbarengan dengan kemajuan China dan juga India di abad tersebut. Demikian pula kemajuan Majapahit di abad ke - 14, berbarengan pula dengan kemajuan di ke dua negara tsb. Kemajuan di bumi Nusantara dikaitkan dengan peran besar perdagangan rempah-rempah di era tsb.Dalam rentang waktu 7 abad terjadi kemajuan peradaban di 3 wilayah, yang kemudian hari disebut negara bangsa: Indonesia, India dan China.
China menyadari betul kesadaran kesejarahan masa lalunya, akan peran perdagangan sutra yang di masa lalu di sebut jalur sutra, memberikan kemakmuran bagi China di masa lalu.
Sekarang China punya "proyek" super raksasa yang diberikan nama Jalur Sutera Modern, pembangunan jembatan, pelabuhan, bandara dan pusat logistik yang berjarak ribuan kilometer, membentang dari Beijing sampai London, dengan anggaran biaya puluhan triliun dollar AS, melintasi puluhan negara, populer disebut BRI (Bridge Road Initiatives).
"Proyek" Jalur Sutra Modern yang membuat iri hati, prasangka dan ketakutan banyak negara akan ekspansi dan dominasi China di masa depan.
Dengan menggunakan "teori" siklus 7 abad, sekarang China maju dan juga India, dan diharapkan Indonesia menyusul China dan juga India.
Dari proyeksi jangka panjang ekonomi Indonesia, diperkirakan pendapatan per kapita penduduk tahun 2045, seratus tahun usia Republik, diperkirakan sekitar 15 ribu dollar AS, sudah melewati jebakan negara berpendapatan menengah - middle income gap -, dengan persyaratan ekonomi rata-rata tumbuh 5.19 persen selama 22 tahun ke depan, investasi per tahun Rp.700 triliun, dengan asumsi tidak terjadi perang militer (geo politik) dalam skala luas dan geo ekonomi (sangsi ekonomi yang keras antar negara).
Tantangan ke kinian yang dihadapi Indonesia mencapai Visi Indonesia 2045 di atas, menyebut beberapa, pertama, ketidak-adilan ekonomi yang dalam, 10 persen penduduk terkaya menguasai 74 persen kekayaan nasional (publikasi lembaga keuangan internasional).68 persen penduduk Indonesia (183.7 juta jiwa) tidak mampu memenuhi kebutuhan gizi harian mereka (Jurnalisme Data Kompas).
Kedua, moralitas pejabat publik yang nyaris runtuh, jika menyimak kasus yang menimpa Kementrian Keuangan, demikian juga fenomena ekonomi politik dengan risiko tinggi buat bangsa dan negara, kartelisasi partai politik dan korupsi sistemik.
Ketiga, ambang batas kesabaran sosial masyarakat yang bisa terlewati, akibat kondisi butir satu dan dua di atas, bertemu dengan politik identitas yang mengeras, bisa melahirksn risiko ekonomi politik yang super tinggi.
*) Jro Gde Sudibya, ekonom, pengamat ekonomi dan kecendrungan masa depan (trend watcher).