Gianyar (Atnews) - Praktisi Wariga Gede Sutarya yang juga Dosen UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar mengungkapkan orang-orang terdahulu melakukan perhitungan waktu untuk kebutuhan kegiatan pertanian.
Dijelaskan pula, pada masa lalu, wariga berorientasi kepada kebutuhan pertanian. Bintang pinaka pemenenging sasih, sehingga sasih jatuh pada musim yang tepat
Konstruk kalender Hindu (Bali) tahun 1933 – 1935, memiliki kepentingan pariwisata.
Pengkondisian Tawur Agung Kasanga jatuh pada bulan Maret (Bahasan- bahasan ini dapat dilihat pada majalah Bawanegara, yang terbit pada tahun 1933-1935).
Namun seiring berjalannya waktu mulai terjadi pergeseran di masyarakat. Ketika orang jaman dulu menentukan hari baik untuk perayaan saat musim panen. Tujuannya agar saat perayaan, orang-orang punya cukup bahan makanan. Namun kini sudah berubah, tidak lagi melihat masa panen.
"Jadi mengapa hari besar itu jatuh saat musim panen, saat orang punya stok pangan yang melimpah. Karena perayaan identik dengan pesta," ungkap Sutarya yang juga Pakar Pariwisata Spiritual Bali di Gianyar, Jumat (7/7).
Hal itu disampaikan ketika pembicara Temu Wirasa Festival Wariga Usadha Siddhi para penekun Wariga Bali Made Suatjana dan Ida Bagus Budayoga dengan dimoderatori oleh I Gusti Agung Paramita.
Festival Wariga Usadha Siddhi yang diselenggarakan oleh Yayasan Puri Kauhan Ubud menyelenggarakan di Taman Baca Sanggingan Ubud.
Sutarya berharap ke depan ada pembahasan lebih lanjut terkait perhitungan kalender Bali.
Diperlukan duduk bareng antara Sulinggih dan praktisi pertanian, terutama Kelian Subak untuk menentukan sistem kalender, menjembatani kepentingan upacara dan pertanian.
"Rembugnya diperluas, tidak hanya dari kalangan Sulinggih, tapi libatkan juga Kelian Subak karena mereka tahu kapan terbitnya bintang Kartika itu. Sehingga suatu saat, kalau banyak tidak tepatnya, kita harus ubah, ujar Sutarya yang meneruskan mencetak Kalender Bali yang disusun oleh Ayahnya Drs. Nyoman Singgin Wikarman (alm).
Dikatakan, kajian-kajian kalender yakni Kalander Sasak (Kalender Rowot) menentukan kemunculan Bintang Kartika (pleades) sebagai awal tahun yang jatuh pada sekitar Mei, tetapi secara realitas pleades baru bisa bisa diamati pada sekitar 7 Juni (Kohar dkk, 2020).
Pranatamangsa sebagai kalender musim (Jawa) dimulai 22 Juni 1885 dari Paku Bhuwono VII menempatkan tahun baru pada 22 Juni – 1 Agustus (Sobirin). Kalender Suku Baduy menggunakan 23 Juni sebagai tahun baru, Kasa (Wulandari, 2022).
Sedangkan Kalender Curah Takir, Jember juga berdasarkan Bintang Korteka dan Nengale, yang diamati di tengah malam tepat di atas kepala pada Mei (Rahmawati dan Otomo, 2023).
Kalender Suku Nias menggunakan Orion (Bintang Tenggala) sebagai awal tahun. Dengan demikian musim menanam padi mulai pada bulan Juni sampai Juli. Pada saat Bintang Zara menunjukkan pukul delapan sampai pukul sepuluh pagi (Arisafitri dan Izzudin, 2021).
Kalender Saka-Penampih pada Desta-Sadha yakni Tilem Kasanga: Maret (paling awal 3 Maret), Tilem Kadasa: April, Tilem Kadesta: Mei, Tilem Kasada: Juni (Mulainya Kasa adalah pada Bulan Juni, paling awal 3 Juni).
Sedanhkan Perhitungan Nampih Sasih Keseimbangan yakni Tilem Kasanga: 13 Maret-13 April, Tilem Kadasa: 13 April – 13 Mei, Tilem Kadesta: 13 Mei – 13 Juni, Tilem Kasada: 13 Juni – 13 Juli, paling lambat jatuhnya Kasa adalah pada 14 Juni.
Perbandingan yakni Kalender Saka-Desta Sadha mulai kasa 3 Juni/Maksimal 3 Juli, Kalender Saka Berkeseimbangan mulai kasa 14 Juni/Maks 13 Juli, Kalender Musim (Pranatamasa) nulai Kasa 22 Juni, Kalender Sasak (Mei), Kalender Jember (Mei), Kalender Nias (Juni-Juli), India Sayana (Saka) yakni Asvina (Kasa) 21 Juli, India Nirayana (14 Juli) dan Pranatamasa (22 Juni).
Pada Kalender Saka – Bali (Nusantara), Kalender Musim atau Upacara Pendekatan-pendekatan untuk menjadikan Saka Nusantara sebagai kalender musim telah digagalkan dalam paruman sulinggih pada September 2020 di Batukaru yang menetapkan penampih sasih pada Desta dan Sadha.
Penempatan penampih sasih pada Desta dan Sadha tujuannya adalah untuk tidak membingungkan dalam penentuan dewasa (hari baik) untuk melakukan upacara.
Dengan penampih sasih pada Desta dan Sadha, tidak ada lagi keraguan sebab desta dan sadha adalah dua sasih yang tidak digunakan untuk pedewasaan.
"Jadi pendekatan Kalender Saka-Bali sekarang adalah pendekatan upacara bukan musim, sehingga jatuhnya Sasih Kasa terlalu awal pada waktu tertentu," ujarnya.
Untuk itu, solusi menuju ke musim. Penentuan penampih sasih hendaknya tidak hanya pasamuhan sulinggih (orientasi upacara), tetapi hendaknya melibatkan para kelian subak yang terbiasa melihat bintang
Dengan paduan tersebut, ahli-ahli kalender akan bisa merumuskan orientasi kepada kalender Saka yang sesuai ke alam, bintang pinaka pemeneng sasih.
Sementara itu, memberi pengantar pada Forum Usadha Gocara, Ketua Yayasan Puri Kauhan Ubud AAGN Ari Dwipayana berharap forum Temu Wirasa ini bisa mendiskusikan perjalanan dan perkembangan Wariga Saka Bali sampai saat ini. Termasuk mengeksplorasi isu-isu strategis dan membicarakan tantangan yang dihadapi. Sekaligus memberikan solusi terkait sistem perhitungan wariga Saka Bali ditengah berbagai dinamikanya. Terutama kehadiran teknologi yang sangat memungkinkan bisa diterapkan dalam perhitungan kalender Bali. "Karena memang perhitungan kalender Bali itu matematis dan sistematis, sehingga membuka ruang bagi teknologi dalam perhitungannya," jelas Gung Ari.
Selain itu Ari Dwipayana juga menyinggung soal dampak climate change pada pranatamangsa dan juga perlu dibahas ketepatan pengalantaka yang sudah menjadi diskusi panjang diantara para ahli wariga.
Koordinator Staf Khusus Presiden RI ini juga berharap muncul inisiatif-inisiatif baru dari para penekun wariga yang relevan diterapkan kehidupan sehari-hari. Misalnya dalam perekrutan calon pegawai menggunakan wariga sebagai salah satu referensinya. Dengan demikian, wariga dibutuhkan oleh perekrut atau HRD untuk bisa mengetahui karakter orang dari tanggal lahir atau wetonnya. "Rekrutmen PNS di Bali, bila perlu pemilihan Bendesa bisa memakai wariga sebagai salah satu referensi dalam seleksi," ungkapnya.
Sedangkan, Ida Bagus Budayoga, penentuan hari baik untuk pertanian itu ditandai dengan kemunculan bintang Kartika di ufuk timur. "Karena dasarnya pertanian, maka ada sebuah kepercayaan di suku-suku, kemunculan bintang Kartika di Sasih Kasa menjadi bulan baru dan pertanda baik bagi pertanian," jelasnya.
Hanya saja pergeseran budaya agraris ke industri, membuat penentuan hari baik upacara tidak lagi di musim panen. "Sekarang kalaupun upacara tidak dilakukan di musim yang tepat tidak masalah, karena beras sudah beli. Tidak lagi menunggu panen," terangnya.
Made Suatjana pembicara lainnya menjelaskan, kalender Bali terdiri dari sistem perhitungan waktu yang sistematis, matematis dan astronomis. Bukan mitos, bukan mistis. "Sebaiknya digali kembali nilai matematis kalender Bali sehingga memberi kepercayaan lebih tinggi pada kalender yang kita miliki," ujarnya. (GAB/ART/001)