Denpasar (Atnews) - Ketua Kagama Bali, I Gusti Ngurah Agung Diatmika mengajak Keluarga Putra Bali Purantara (KPB Pura) Yogyakarta mendukung pembangunan pura di Universitas Gadjah Mada (UGM).
Rencana pembangunan tempat ibadah itu sudah lama, namun baru bisa diwujudkan. Peletakan batu pertama pembangunan Kawasan Kerohanian sudah dilakukan pada Sabtu (21/5/2022) oleh Rektor UGM saat itu, Prof. Ir. Panut Mulyono, M.Eng., D.Eng., IPU, ASEAN Eng. Rektor didampingi jajaran pimpinan UGM, tokoh masyarakat, dan pemuka agama.
Kawasan Kerohanian berlokasi di lingkungan Kampus UGM, tepatnya di Kompleks Perumahan Sekip Blok N seluas 4.789 meter persegi. Proses perencanaan kawasan ini melibatkan dosen dari berbagai perwakilan kelompok agama sebagai Tim Perumus.
UGM tengah membangun Fasilitas Kerohanian dengan 5 gugus bangunan untuk mewadahi kegiatan kerohanian oleh sivitas akademika UGM yang beragama Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan Konghucu.
"Untuk itu, kami tetap memohon dukungan semua pihak, khususnya senior-senior. Pembangunan pura ini menggunakan anggaran dari kampus serta para donatur," kata Gung Diatmika di Denpasar, Jumat (18/8).
Hal itu disampaikan ketika acara Reuni 2023 KPB Pura Yogayakrata yang dihadiri tokoh-tokoh dari berbagai daerah dan luar negeri.
Pada kesempatan itu, hadir Mantan Dirjen BUMN Dr Nyoman Tjager yang juga Presiden komisaris PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Guru Besar The California Institute of the Arts (CalArts) Prof Nyoman Wenten, Ahli Ekonomi dan Keuangan Bali, I Gde Made Sadguna, S.E, MBA, DBA, Wakil Ketua KAGAMA Gung Putra, Budayawan Putu Suasta yang juga Alumni Cornell Unversity, Mantan Kejari Denpasar Gusde Doster.
Gung Diatmika mengatakan, dana yang diperlukan sebanyak Rp2,5 Miliar, kini sudah terkumpul Rp 1,395 M. Baru saja Kagama Pengda Bali bersama dengan Semeton Bali Golf Community (SBGC) menggelar “Golf Tournament for Charity” di Permata Sentul Golf & Country Club, Bogor, Minggu (30/7).
Kegiatan itu telah berhasil memberikan tambahan punia dalam menyukseskan pembangunan pura tersebut.
Sementara itu, Sekretaris Kagama Bali Arya Suharja yang juga Panitia Bidang Penggalangan Partisipasi Alumni dan Masyarakat mengatakan bahwa pada desain pura ditempatkan Lingga-Yoni di dalam (Gedong) Candi sebagai pusat orientasi pemujaan.
Hal itu dipilih karena universalitas pemujaan Lingga bagi seluruh umat Hindu di Nusantara dan dunia. "Secara historis, dari tinggalan situs-situs Mataram Kuno di Jateng, DIY dan Jawa Timur kita mengetahui bahwa pemujaan Lingga dan Siwa Mahadewa telah berlangsung di abad VIII - IX, bahkan dari Situs Liyangan kuat dugaan tempat pemujaan dengan pola Tri Mandala dan pusat orientasi puja berupa Lingga telah terjadi lebih dini (Pra-Mataram Kuna)," ujar Arya Suharja.
Dari sisi lokalitas, sebaran situs di Yogyakarta sebagai wilayah inti Mataram Kuna cenderung menunjukkan kuatnya pengaruh Sanatana Dharma yang bersifat Siwaistik.
Pengaruh itu tetap dominan setelah Mpu Sindok memindahkan pusat kerajaan ke muara Sungai Brantas di Jawa Timur.
"Evolusi dalam penghayatan theologis umat Sanatanadharma sejak dari era Mataram Kuna, Singhasari, Majapahit sampai ke Bali menunjukkan kecenderungan ke arah penghayatan Advaita Brahman, dengan idiom Brahman melalui abstraksi Brahman sebagai Hyang Tunggal, Tuhan yang hana-tan hana, wyapi-wyapaka, yang dipuja di Padmasana (Shrine as an empty chair)", ungkapnya.
Ditambahkan bahwa pemilihan Lingga sebagai pusat orientasi pemujaan sekaligus menghindarkan image dan mispersepsi di kalangan umat agama-agama Abrahamik seolah umat Hindu memuja personalized God.
Pura di kampus UGM memperkuat identitas pengabadian nama Gadjah Mada, sehingga Pura nantinya menjadi Padharman dan penanda lingkungan. Puja Mandala di perguruan tinggi yang mengabadikan nama Mahapatih Gadjah Mada dari era Kerajaan Majapahit berkesinambungan dari Kerajaan Mataram, Majapahit, hingga Indonesia modern.
"Kita mengharapkan ada gubahan massa di dalam lingkungan kampus yang mengukuhkannya, bahkan (semoga) dapat menjadi Padharman beliau, dan di kemudian hari menjadi salah satu landmark Universitas Gadjah Mada," ungkapnya.
Maka dari itu, Dies Natalis UGM pada Desember mendatang, pura tersebut sudah bisa digunakan oleh umat Hindu.
Sedangkan Putu Suasta menyambut baik hal tersebut dalam mewujudkan pura di UGM sebagai tempat persembahyangan umat Hindu.
Hal itu sebagai bentuk komitmen dalam mendukung bangsa Indonesia yang memiliki keragaman budaya, agama dan kepercayaan (pluralisme).
Untuk itu, kehadiran para senior dan tokoh-tokoh lintas daerah dan bidang dapat memberikan semangat baru mendukung mewujudkan pembangunan tersebut serta bagian penting yang diwariskan pada masa yang akan datang. (GAB/ART/001)