Bali Seratus Tahun Nanti
Banner Bawah

Bali Seratus Tahun Nanti

Admin - atnews

2025-01-11
Bagikan :
Dokumentasi dari - Bali Seratus Tahun Nanti
Sawah di Bali (Artaya/Atnews)
Oleh Wayan Suyadnya 
Bali, sang Pulau Dewata, lambang keindahan dan harmoni, kini berada di persimpangan takdir. Sebuah dunia paradoks terbentang di sana—di mana keindahan yang memukau justru menghadirkan tantangan yang kian rumit. 

Pulau kecil ini, yang telah lama menjadi magnet bagi manusia dari seluruh penjuru dunia, kini perlahan mengecil akibat abrasi pantai dan naiknya permukaan air laut sebagai dampak pemanasan global.

Di daratan, ironi mencolok terpampang nyata. Sawah-sawah yang dulu hijau membentang berubah menjadi hamparan beton: perumahan mewah, hotel megah, vila eksklusif, lapangan golf, hingga jalan-jalan besar. Hutan-hutan yang dulu menjaga keseimbangan kini tersingkir, disulap menjadi fasilitas pariwisata demi memenuhi tuntutan industri yang terus melaju. 

Bali bak sepotong gula, manis menggoda, menarik semut dari segala penjuru—penduduk pendatang, wisatawan domestik, hingga pelancong asing.

Penduduk Bali terus memadat. Di Pecatu, misalnya, bukit-bukit kapur yang dulu tandus kini berubah menjadi kawasan pemukiman yang ramai. 

Namun, kemajuan ini menyimpan paradoks yang menyakitkan: jumlah penduduk bertambah, kebutuhan air meningkat, tetapi daya dukung alam tetap sama. 

Tanah Bali yang dulu subur kini terkunci dalam lapisan beton, paving block, dan aspal. Air hujan yang jatuh tak lagi menyerap ke tanah, melainkan terbuang sia-sia ke laut.

Setiap tahun, sekitar 1.000 hektar sawah hilang, digantikan oleh bangunan yang megah namun lupa akan harmoni dengan alam. Tri Hita Karana hanya  slogan dalam praktek kapling-mengapling untuk pemukiman baru.

Lahan yang hilang berarti berkurangnya daerah resapan air, memperparah krisis air bersih yang semakin menggigit. 

Dalam paradoks ini, Bali seakan dihadapkan pada pilihan yang tak mungkin: terus berkembang demi memenuhi tuntutan pariwisata, atau berhenti dan menjaga keseimbangan alamnya yang rapuh.

Pertanyaan besar pun menghantui kita: sampai kapan Bali bisa bertahan? 

Pulau ini kini tidak hanya menjadi simbol keindahan, tetapi juga sebuah peringatan. Dalam paradoks ini, Bali mengajarkan kita bahwa kemajuan tanpa harmoni adalah jalan menuju kehancuran.

Jika Bali terus kehilangan dirinya, maka ia hanya akan menjadi bayangan dari kemegahannya yang dulu—a paradoks yang abadi, indah namun rapuh, megah namun runtuh. Akankah kita belajar dari kisah ini, atau membiarkannya berlalu tanpa arti?

Maka berpikir Bali seratus tahun ke depan, penting sejak sekarang, ya sejak sekarang di tahun 2025 ini,  sebab pergeseran masyarakatnya dari masyarakat agraris menuju masyarakat industri akan terjadi dan terus terjadi, dan itu dipastikan membawa nilai-nilai.

Ingatlah, tanah Bali, manusia Bali dan budaya (agama) Bali satu kesatuan yang utuh. 
Denpasar, 11 Januari 2025 (*)

Baca Artikel Menarik Lainnya : Panglima TNI : Pesantren Berperan Perkuat Persatuan dan Kesatuan

Terpopuler

Dhyan Foundation Gelar Yoga Kebangsaan di Monumen Perjuangan Bangsal

Dhyan Foundation Gelar Yoga Kebangsaan di Monumen Perjuangan Bangsal

Basket di akhir Pekan, Muda dan Lansia

Basket di akhir Pekan, Muda dan Lansia

Sewa Pertokoan di Dalung

Sewa Pertokoan di Dalung

Kawasan Ekonomi Khusus Kura Kura Bali: Visionary Oasis Tri Hita Karana dalam Politik Ruang Pariwisata

Kawasan Ekonomi Khusus Kura Kura Bali: Visionary Oasis Tri Hita Karana dalam Politik Ruang Pariwisata

Cuaca Ekstrem Picu Banjir dan Karhutla, BNPB Minta Masyarakat Tetap Siaga

Cuaca Ekstrem Picu Banjir dan Karhutla, BNPB Minta Masyarakat Tetap Siaga

Presiden Prabowo Umumkan Serangkaian Kebijakan Perlindungan Pekerja pada May Day 2026

Presiden Prabowo Umumkan Serangkaian Kebijakan Perlindungan Pekerja pada May Day 2026