Refleksi Raina Tilem Kewulu, Jika Keserakahan Menguasai Manusia, Kecerdasan akan Runtuh
Banner Bawah

Refleksi Raina Tilem Kewulu, Jika Keserakahan Menguasai Manusia, Kecerdasan akan Runtuh

Admin - atnews

2025-02-27
Bagikan :
Dokumentasi dari - Refleksi Raina Tilem Kewulu, Jika Keserakahan Menguasai Manusia, Kecerdasan akan Runtuh
Jro Gde Sudibya (ist/Atnews)
Oleh Jro Gde Sudibya
Hari ini, Kamis, 27 Februari 2025, raina Tilem Kewulu, Bulan mati di bukan ke 8 dalam penkalenderan Bali.

Menyimak realitas sosial yang ada, yang menjadi sorotan publik, menyebut beberapa: pemagaran laut sepanjang 30 kilo meter di Teluk Jakarta, di Provinsi Banten, skandal besar korupsi di Pertamina, dengan perkiraan kerugian negara Rp.193 T per tahun, sehingga dalam 5 tahun, 2018 - 2023 sebesar Rp.945 T, "kong kali kong" dalam pemberian IUP tambang dan HPH perkebunan sawit, dengan luas jutaan hektare, dan meminggirkan sekitar 5 juta masyarakat adat, memberikan penggambaran senyatanya, bait Upanisad yang dikutip di awal tulisan ini.
"Jika Keserakahan Menguasai Manusia, Kecerdasan akan Runtuh.

Keserakahan di atas, menggambarkan runtuhnya kecerdasan dari penguasa, hasil dari kolusinya dengan para oligark, karena jelas-jelas bertentangan dengan "kecerdasan" yang termuat dalam konstitusi, UUD 1945.

Sloka dalam Upanisad ini, mengingatkan kita akan keteladanan dari negarawan Bapak Pendiri India Mahatma Gandhi, yang diakui Soekarno sebagai "Guru" Politiknya, diakui oleh Soetan Sjahrir sebagai idolanya dalam perjuangan Politik. Bagi Gandhiji, keserakahan diri, melahirkan perbudakan diri - self slavery'- yang melahirkan penderitaan. Dalam bahasa Gandhi, greedy info misery. Keserakahan bagi penguasa, melahirkan derita bagi bangsa dan masa depannya.

Dalam tradisi nyastra di Bali, "kemomoan", keserakahan, harus dikendalikan melalui laku "Jagra" sadar diri, kesadaran diri, "mepewungu" diri, lingkungan sekitar. "Jagra" yang melahirkan kemampuan untuk memilih jalan keselamatan, "bhadra winungu". Bukan sebaliknya, "milu-milu tuung", (maaf) "memuduh", yang kemudian melahirkan sesal yang mendalam di hari kemudian. 

Memberikan beban karma bagi generasi berikut. Bukankah kita meyakini Panca Sradha, dimana Karma di " poros" inti, menuju Samsara, "mendaki" menuju ke kesadaran Brahman - Moksha.

Sastra dan tradisi nyastra yang diwariskan  oleh Tetua Bali dulu lebih dari cukup, plus keteladan yang diberikan, tantangannya dalam pelestarian dalam "deru campur debunya" kehidupan yang sarat dengan nuansa keserakahan. Rahajeng nyanggara raina Tilem Kewulu.

*) Jro Gde Sudibya, intelektual Hindu, penulis buku Agama Hindu dan Kebudayaan Bali.

Baca Artikel Menarik Lainnya : Undwi Ikut Siapkan Generasi Emas Indonesia

Terpopuler

Kemenangan Dharma atas Adharma Tidak Sebatas Slogan, Merta: Adat dan Budaya Bali Bisa Bertahan Sepanjang Masih Ada Tanah

Kemenangan Dharma atas Adharma Tidak Sebatas Slogan, Merta: Adat dan Budaya Bali Bisa Bertahan Sepanjang Masih Ada Tanah

Rumah Layak untuk Pak Juli: Gotong Royong Bulan Bung Karno Wujudkan Kesejahteraan Warga Buleleng

Rumah Layak untuk Pak Juli: Gotong Royong Bulan Bung Karno Wujudkan Kesejahteraan Warga Buleleng

Selamat Hari Raya Galungan dan Kuningan

Selamat Hari Raya Galungan dan Kuningan

Penguatan Desa Budaya, Prodi Ilmu Pemerintahan FISIP Unwar Gelar PKM di Desa Sukawati 

Penguatan Desa Budaya, Prodi Ilmu Pemerintahan FISIP Unwar Gelar PKM di Desa Sukawati 

Stan PKB 2026 Digratiskan, Putri Koster Pastikan Tidak Ada Pungli Bagi Pedagang

Stan PKB 2026 Digratiskan, Putri Koster Pastikan Tidak Ada Pungli Bagi Pedagang

Hari Lahir Pancasila, Presiden Prabowo Tegaskan Transformasi Menuju Ekonomi Berkeadilan

Hari Lahir Pancasila, Presiden Prabowo Tegaskan Transformasi Menuju Ekonomi Berkeadilan