Jutaan Orang Peringati Hari Yoga Internasional 2025, Satu Bumi Satu Kesehatan
Jutaan Orang Peringati Hari Yoga Internasional 2025, Satu Bumi Satu Kesehatan
Admin -
atnews
2025-06-21
Bagikan :
Yoga di MPB (ist/Atnews)
Badung (Atnews) - Jutaan orang diperkirakan berpartisipasi dalam berbagai acara yoga, baik secara langsung maupun daring di seluruh dunia memperingati Hari Yoga Internasional atau Internasional Yoga Day (IYD) 2025 yang mengusung tema "Satu Bumi, Satu Kesehatan".
Tema "Yoga untuk Satu Bumi, Satu Kesehatan," menyoroti hubungan antara kesehatan pribadi dan kesehatan planet.
Peringatan IYD tidak terlepas dari perjuangan Perdana Menteri India, Shri Narendra Modi.
PM Modi menyampaikan pidato di hadapan Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dengan usulan untuk menetapkan tanggal 21 Juni, titik balik matahari musim panas dan hari terpanjang di Belahan Bumi Utara, sebagai Hari Yoga Internasional.
Resolusi ini mendapat dukungan yang belum pernah terjadi sebelumnya karena 177 negara ikut mensponsorinya – jumlah tertinggi yang pernah ada untuk resolusi UNGA mana pun. Pada tanggal 11 Desember 2014, PBB secara resmi menetapkan tanggal 21 Juni sebagai Hari Yoga Internasional.
Khususnya di Bali, Dhyan Foundation (DF) berkolaborasi dengan Atnews, Monumen Perjuangan Bangsal (MPB), Konsulat Jenderal India di Bali dan Pusat Kebudayaan Swami Vivekananda atau Swami Vivekananda Cultural Centre (SVCC) Bali menggelar Yoga (Sanatan Kriya) di Kabupaten Badung, Jumat, 20 Juni 2025.
Acara itu berlangsung secara hybrid dipandu Relawan Dhyan Foundation, Mahima Jaini alumni Marine Biology dari University of Maine USA, bekerja sebagai Ilmuwan Kelautan, Rima Anand yang juga AI specialist for education dan Shanty Pirgayanti, Relawan Dhyan Foundation, freelance interpreter bahasa Indoensia.
Disebutkan, bahwa Yoga bisa untuk menangkal penyakit sesuai ajaran Ayurveda, dikarenakan Yoga berfungsi untuk menjaga keseimbangan seluruh tubuh fisik, mental dan spiritual.
"Hari ini diperingati sebagai Hari Yoga Internasional Satu Bumi, Satu Kesehatan. Kami dari Dhyan Foundation ada banyak kegiatan untuk Bumi, yakni ada 40 Perlindungan Hewan dan latihan Yoga setiap hari demi kesehatan," kata Mahima.
Sementara itu, Pengelana Global Putu Suasta menyebutkan Yoga sebagai kebutuhan dasar untuk orang-orang yang lebih modern, beragama dan spiritual.
"Kan setahun lalu, saya dari Rishikesh, kota Pradesh itu kira-kira ada 200 ribu orang ikut Yoga disana di tepi Sungai Gangga," kata Putu Suasta.
Sebetulnya di Rishikesh, lanjutnya ada Padmasana Hindu Bali dibangun yang telah dibuatkan di tepi Sungai Gangga.
Padmasana di Rishikesh diresmikan pada tahun 2019 dan pemelaspasannya dipuput oleh Ida Pedanda Gede Bang Buruan Manuaba, disaksikan oleh banyak tokoh penting dan ribuan umat Hindu dari berbagai negara.
Inisiatif pembangunan Padmasana ini datang dari Kumbhamela di Allahabad dan pimpinan Paramarth Niketan Ashram Rishikesh, Pujya Swami Chidananda Saraswati. Material bangunan, yang sebagian sudah dikirim dari Bali sejak lama, baru bisa dibangun pada tahun 2019.
Dukungan pembangunan atas kekompakan dan komunikasi Ida Rsi Putra Manuaba bersama Dubes RI untuk India Arto Reza Suryodipuro dan President World Hindu Parishad (WHP) Made Mangku Pastika yang juga Anggota DPD RI Dapil Bali dan Gubernur Bali dua periode 2008-2018 akhirnya Padmasana bisa dibangun di Rshikesh, India. Sekaligus dibangun pula di Padmasana Kalingga Bali di Odisha India.
Sebenarnya, Yoga itu adalah kebutuhan dasar demi masa depan. Selain itu, Yoga juga mengajarkan karma baik, baik untuk hewan, umat manusia, khususnya orang miskin dan lingkungan. Diharapkan dengan beryoga dan berolahraga, supaya sehat lahir batin.
"Tapi, hal ini merupakan suatu performa kehidupan lebih sehat, simpel dan lebih mulia. Pokoknya sekarang fokusnya kesehatan, baik sehat fisik maupun sehat spiritual," tegasnya.
Hal senada juga disampaikan Shifu Dani selaku Founder Bali Family Retreat yang juga Yoga Teacher yang menyatakan semua pihak harus membumi, agar mendapatkan energi positif. Kelebihan energi negatif dilepaskan ke alam semesta.
"Seperti halnya tadi kita semua melakukan Yoga Hasna itu membumi. Jadi, hal itu membuat kita lebih nyaman dengan pose-pose yang sederhana dibantu dengan prana, itu membuat aliran nafas saya lebih nyaman," ungkapnya.
Dengan mata tertutup, memberikan aliran energi terfokus sehingga aliran cakra mengalir dari tulang punggung belakang dengan baik.
"Mudah-mudahan saya bisa ikut setiap kali ada kegiatan disini bisa berpartisipasi menikmati meditasi yang sangat nyaman damai buat tubuh dan jiwa saya," tuturnya.
Patut diketahui, bahwa Yoga itu lintas agama yang bisa diikuti oleh berbagai macam agama dan aliran kepercayaan. Melalui Yoga diharapkan bisa mengendalikan emosi dan terhubung dengan diri sendiri dalam arti jangan sibuk mencari sesuatu yang diluar, padahal didalam itu semuanya sudah tersedia.
"Yoga itu tidak mengarah ke agama tertentu, tapi lebih bagaimana menyadari tubuh, nafas dan pikiran sehingga soul-nya bisa menjadi lebih baik," pungkasnya.
Pada kesempatan itu juga hadir pula Wartawan senior di Bali I Gusti Ngurah Wisnu Wardana. Ia pun merasakan pengalaman menarik saat mengikuti yoga tersebut.
Diserahkan pula buku catatan jurnalistik yang diberi judul unik "Amor Ing Acintya, Kehidupan setelah Kematian" kepada Pemred Atnews Bagus Ngurah Rai yang juga Ketua Harian MPB. Serta Putu Suasta menyerahkan buku Bali dalam Transisi yang diterbitkan kerjasama Atnews, Sawidji Studio dan Jarrak Post. (GAB/WIG/001)