Banjir: Manufactured Risk atau Natural Risk
Banner Bawah

Banjir: Manufactured Risk atau Natural Risk

Admin - atnews

2025-09-23
Bagikan :
Dokumentasi dari - Banjir: Manufactured Risk atau Natural Risk
I Nyoman Subanda (ist/Atnews)
Oleh I Nyoman Subanda, Dosen Undiknas
​Dalam ilmu sosial, ada dua istilah yang sering kita dengar untuk memahami fenomena bencana alam atau risiko yang terjadi dimuka bumi ini, yakni: manufactured risk dan natural risk. Istilah ini dipopulerkan oleh sosiolog dari Inggris, yakni Anthony Giddens dalam bukunya modernism. 

Selain Giddens, sosiolog lain juga pernah mengulas konsep ini yakni Ulrich Bach dalam bukunya Risk Society tahun 1986. Pada intinya 2 sosiolog tersebut mengatakan bahwa masyarakat modern saat ini menghadapi bencana atau risiko baru yang lebih kompleks dibanding sebelumnya. Dalam masyarakat tradisional, terutama yang menekankan kepercayaan kepada hal-hal yang religious segala sesuatu yang terjadi pada manusia itu pasti disebabkan karena Tuhan atau Yang Maha Kuasa diluar jangkauan manusia. 

Demikian juga bahaya bencana atau risiko-risiko yang dihadapi manusia, sering dikaitkan dengan kehendak Ilahi atau sang penguasa (Tuhan).

Kalau keberhasilan, kesuksesan, yang didapat oleh manusia dan dikaitkan dengan kehendak Tuhan mungkinn itu adalah rasa syukur dan bagus untuk ditradisikan. Namun jika hal tersebut dialami dalam suasana kesedihan karena bencana, karena risiko dan juga kemelaratan sosial yang dialami, maka itu bisa jadi sebuah kesesatan dalam berpikir. 

Bencana alam seperti banjir, tanah longsor, kecelakaan lalu lintas, serta risiko-risiko lain yang manusia modern alamai saat ini jika selalu dikaitkan dengan takdir (Natural Risk) bisa jadi hal tersebut membawa kebuntuan dan kesesatan dalam menggunakan akal pikir yang telah kita miliki. 

Dalam berbagai ulasannya tentang bencana, Giddens mengatakan “Jangan selalu menyalahkan Tuhan dan jangan selalu mengatakan bahwa risiko dan bencana yang kita alami adalah sebuah takdir. Apa yang anda alami, belum tentu karena hasil karya Tuhan. Bisa jadi itu adalah hasil atau buah karya manusia sendiri.” Dalam istilah Giddens disebut dengan manufactored risk.

​Dua konsep tersebut nampaknya menarik untuk dipergunakan memahami fenomena banjir yang terjadi pada tanggal 10 September 2025 yang memporak porandakan Kota Denpasar, Jembrana, dan beberapa wilayah lain di daerah Bali. 

Banjir yang terjadi tepat pada hari suci Pagerwesi, yang telah memporak-porandakan Kota Denpasar, Kabupaten Jembrana dan beberapa daerah lain, perlu kita renungkan kembali apaah itu kehendak Tuhan, rekayasa Ilahi, atau itu memang ulah kita sendiri. Benarkan Tuhan sudah muak dengan tingkah laku kita? Benarkah alam tidak bersahabat lagi seperti lagunya Ebit G. Ade? atau justru bencana yang melanda kita semua ketika Pagerwesi tersebut adalah karena rekayasa kita sendiri (manufactured risk). 

Pada dasarnya banjir secara ilmiah disebabkan oleh curah hujan tinggi, saluran drainase yang tidak mampu menampung debit air, aliran sungai, selokan, dan sejenisnya tersumbat atau tidak lancar.

Kalau curah hujan tinggi, dan akhirnya menghasilkan air yang banyak masih bisa kita terima bahwa itu adalah kehendak Tuhan (Natural Risk). Tetapi kalau aliran air itu tidak lancar karena tersumbatnya saluran air seperti sungai, selokan, gorong-gorong, kanal dan lain sebagainya yang disebabkan karena kita buang sampah sembarangan, membangun di sempadan sungai dan juga kita membangun berbagai infrastruktur sehingga mengurangi daya serap air ke tanah, maka tersesat dan durhakalah kita kalau itu kita meng-kambing-hitamkan takdir.

Kita yakin Tuhan maha pengasih, kita yakin Tuhan tidak sekejam itu. Kita yakin Tuhan tidak bermaksud memberikan bencana kepada ciptaan tapi Tuhan juga sangat adil terhadap perilaku kita. Kalau aliran sungai kita sumbat, kalau daerah serapan kita penuhi dengan bangunan, kalau hutan-hutan kita tebang sehingga air hujan tidak tertampung, maka durhakalah kita kalau Tuhan kita kambing hitamkan. “Semua itu adalah hasil pikiran dan perilakumu (Manufactured Risk) bukan takdir (Natural Risk)” kata Giddens.

Menyelesaikan berbagai persoalan sosial termasuk bencana dan risiko-risiko alam, tergantung dari jalan pikiran dan pandangan kita terhadap fenomena tersebut. Kalau semua yang kita alami kita anggap adalah sebuah takdir dan kehendak Tuhan, maka solusi yang akan kita tawarkan adalah berdoa memohon dan mungkin pasrah terhadap bencana dan risiko yang kita alami. 

Namun jika kita berpikir rasional seperti halnya sebutan orang bahwa manusia adalah makhluk yang rasional (rational animal) maka apa yang terjadi dimuka bumi ini termasuk yang kita alami, kita pasti mencerna, mengamati dan menganalisis awal dan proses terjadinya termasuk faktor penyebab dan bagaimana menyelesaikannya. Kalau ternyata dari analisis kita sebagai rational animal, mengatakan bahwa yang kita alami adalah ulah kita, perilaku kita yang disertai dengan ego kita maka kita akan menyelesaikan masalah itu dengan merubah pola pikir dan perilaku yang lebih baik.

Jika berbagai persoalan yang terjadi disebabkan akibat kebijakan yang salah, misalnya memberikan ijin pembangunan di jalur hijau, ijin penebangan hutan, tidak tegas terhadap pelanggaran-pelanggaran yang terjadi maka kebijakan itu perlu dievaluasi kembali. Semua pihak harus siap mengoreksi diri dan sekaligus siap untuk memperbaiki pola pikir, perilaku dan kebijakan yang lebih rasional. Kearifan lokal Bali sudah memberikan kita pelajaran untuk Mulat Sarira yang kalau diterjemahkan kedalam istilah sosial mungkin artinya kaji dan analisis jalan pikiran, kaji dan analisis perilaku, kaji dan analisis juga ucapan dan kata-kata yang pernah kita keluarkan. 

Mari kita jadikan banjir yang terjadi pada tanggal 10 September 2025 kemarin sebagai sebuah pelajaran untuk “Mulat Sarira”. Mari kita pergunakan kelebihan kita sebagai mahkluk sosial (rational animal) untuk bisa membedakan mana yang manufactured risk dan mana yang natural risk. Dari hasil Mulat Sarira kita hendaknya menjadi lebih bijak untuk memahami berbagai fenomena alam termasuk banjir yang kemarin memporak-porandakan Denpasar.

Janganlah selalu menganggap bahwa semua adalah kehendak Yang Maha Kuasa dan sekaligus pasrah menerima takdir. Akuilah bahwa bencana banjir yang baru lewat adalah manufactured risk. (*)

Baca Artikel Menarik Lainnya : Banjir di Lereng Gunung Agung Lumpuhkan Akvitas Masyarakat

Terpopuler

Kemenangan Dharma atas Adharma Tidak Sebatas Slogan, Merta: Adat dan Budaya Bali Bisa Bertahan Sepanjang Masih Ada Tanah

Kemenangan Dharma atas Adharma Tidak Sebatas Slogan, Merta: Adat dan Budaya Bali Bisa Bertahan Sepanjang Masih Ada Tanah

Rumah Layak untuk Pak Juli: Gotong Royong Bulan Bung Karno Wujudkan Kesejahteraan Warga Buleleng

Rumah Layak untuk Pak Juli: Gotong Royong Bulan Bung Karno Wujudkan Kesejahteraan Warga Buleleng

Pimpinan DPRD Badung Ucapkan Galungan dan Kuningan

Pimpinan DPRD Badung Ucapkan Galungan dan Kuningan

Stan PKB 2026 Digratiskan, Putri Koster Pastikan Tidak Ada Pungli Bagi Pedagang

Stan PKB 2026 Digratiskan, Putri Koster Pastikan Tidak Ada Pungli Bagi Pedagang

Hari Lahir Pancasila, Presiden Prabowo Tegaskan Transformasi Menuju Ekonomi Berkeadilan

Hari Lahir Pancasila, Presiden Prabowo Tegaskan Transformasi Menuju Ekonomi Berkeadilan

Senantara: Kita Butuh Investor yang Jaga Bali, Bukan Cuma Cari Untung

Senantara: Kita Butuh Investor yang Jaga Bali, Bukan Cuma Cari Untung