Peresmian Replika Prasasti Nalanda di Muara Jambi, Indonesia–India Youth Forum Nilai Penguatan Diplomasi Budaya RI–India
Peresmian Replika Prasasti Nalanda di Muara Jambi, Indonesia–India Youth Forum Nilai Penguatan Diplomasi Budaya RI–India
Admin 2 -
atnews
2025-12-18
Bagikan :
ketua Umum Forum (IIYF) Ravindra (ist/Atnews)
Jakarta (Atnews)–Ketua Umum Indonesia–India Youth Forum (IIYF) Ravindra menyebut peresmian Replika Prasasti Tembaga Nalanda di Museum Baru Muara Jambi sebagai peristiwa strategis yang melampaui dimensi simbolik kebudayaan. Menurutnya, artefak sejarah ini harus dibaca sebagai modal diplomasi peradaban yang memperkuat posisi Indonesia dalam lanskap hubungan Asia abad ke-21.
Ia menegaskan bahwa Prasasti Nalanda bukan sekadar peninggalan arkeologis, melainkan dokumen politik intelektual yang membuktikan keterlibatan aktif Nusantara dalam jaringan pengetahuan internasional sejak abad ke-9.
“Prasasti ini merekam satu fakta penting yaitu Sumatra tidak berada di pinggiran sejarah Asia, melainkan menjadi bagian dari pusatnya. Hubungan Indonesia dan india sejak awal dibangun di atas kesetaraan peradaban dan pertukaran ilmu,” ujar Ketua IIYF dalam keterangan resminya.
Menurutnya, keputusan Pemerintah India menghadirkan replika prasasti tersebut sebagai tindak lanjut dari dialog kenegaraan Presiden Prabowo Subianto dengan Pemerintah India pada Januari 2025 yang menunjukkan bahwa hubungan bilateral kedua negara kini memasuki fase yang lebih matang dan reflektif.
“Ketika sejarah dijadikan dasar dialog antarnegara, relasi yang terbangun tidak mudah goyah oleh dinamika politik jangka pendek. Inilah esensi diplomasi berakar pada peradaban,” katanya.
Ketua IIYF juga menyoroti pentingnya peran Kedutaan Besar India di Jakarta serta Museum Nasional di New Delhi dalam memastikan proses replikasi dilakukan dengan ketelitian akademik dan integritas ilmiah. Baginya, hal ini menandakan keseriusan kedua negara dalam merawat memori sejarah bersama.
Prasasti Tembaga Nalanda, yang dikeluarkan atas otoritas Raja Devapaladeva dari Benggala, mencatat pemberian lima desa kepada Mahavihara Nalanda sebagai respons atas permohonan Maharaja Balaputra Dewa dari Suvarṇadvīpa. Dokumen ini menjadi sumber primer pertama yang secara eksplisit menegaskan keberadaan dan peran politik penguasa Sumatra dalam jejaring Buddhisme internasional.
“Ini bukan hanya catatan tentang agama, tetapi tentang tata kelola, solidaritas lintas wilayah, dan visi pengetahuan global yang sudah hidup di Asia lebih dari seribu tahun lalu,” tegasnya.
Ia menilai penempatan replika Prasasti Nalanda di Muara Jambi merupakan keputusan strategis, mengingat kawasan tersebut adalah salah satu pusat peradaban Buddhis terbesar di Asia Tenggara.
“Muara Jambi dan Nalanda adalah dua simpul peradaban yang kini kembali dipertautkan. Tantangannya adalah bagaimana negara, akademisi, dan generasi muda mampu mengubah simbol sejarah ini menjadi kerja sama konkret, dari riset bersama, pertukaran mahasiswa, hingga diplomasi pemuda Indonesia–India,” ujarnya.
Lebih jauh, Ketua IIYF menekankan bahwa generasi muda tidak boleh hanya menjadi penonton dalam peristiwa sejarah semacam ini, melainkan aktor yang menerjemahkan warisan peradaban ke dalam agenda kebijakan masa depan.
“Bangsa besar tidak hanya merawat masa lalu, tetapi mampu mengolahnya menjadi sumber legitimasi dan daya tawar di tingkat global. Prasasti Nalanda memberi Indonesia dasar moral dan intelektual untuk itu,” pungkasnya. (Z/002)