Badung (Atnews) - Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Nawacita Pariwisata Indonesia (NCPI) Provinsi Bali bersama Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Badung menggelar sarasehan bertajuk "Pengolahan Sampah antara Solusi dan Polusi" di Ramada Bali Sunset Road, Kuta,Kabupaten Badung, Senin, 20 April 2026.
Sarasehan difokuskan untuk merumuskan solusi konkret terhadap persoalan sampah yang dinilai semakin mengancam keberlanjutan pariwisata Bali.
Ketua NCPI Provinsi Bali, Agus Maha Usadha menegaskan bahwa kondisi pengelolaan sampah di Bali saat ini sudah berada pada titik yang mengkhawatirkan, terutama terhadap kenyamanan sektor pariwisata sebagai tulang punggung ekonomi daerah.
Agus Maha Usadha menjelaskan, sektor pariwisata menyumbang sekitar 66 persen terhadap PDRB Bali dan lebih dari 55 persen devisa pariwisata nasional atau setara Rp176 triliun. Sementara di Kabupaten Badung, kontribusi sektor ini bahkan mencapai sekitar 87 persen terhadap APBD.
Namun disisi lain, pesatnya pertumbuhan sektor hospitality, seperti hotel, restoran, dan vila turut meningkatkan volume sampah secara signifikan.
Bahkan, berbagai regulasi sebenarnya telah diterbitkan, mulai dari tingkat nasional hingga daerah. Meski demikian, implementasinya dinilai belum berjalan optimal dan konsisten di lapangan.
Kondisi ini berdampak luas, tidak hanya pada sanitasi lingkungan tetapi juga citra pariwisata Bali sebagai destinasi global.
"Tadi, ditemukan solusi, ujungnya kita hari ini butuh Sosialisasi lebih intens dan lebih kuat, dengan harapan Pemerintah dan semua stakeholder mensosialisasikan bagaimana pemilahan sampah itu dari sumbernya harus benar dulu," kata Agus Maha Usadha.
Agus Maha Usadha menambahkan, langkah awal yang harus dilakukan adalah menyusun strategy plan yang jelas dan transparan, disertai penguatan sistem pembiayaan dan pembagian peran antar pihak.
"Harapannya partisipasi lebih konkret dari semua pihak. Terakhir, munculnya sistem budgeting. Jadi, dengan anggaran itu terpenuhi dan terpola, semuanya bisa terproses lebih berkelanjutan atau suistanable," kata Agus Maha Usadha.
Lebih lanjut, Agus Maha Usadha menekankan pentingnya peran Sumber Daya Manusia (SDM), kebijakan yang tepat, serta pembagian tugas yang jelas antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat.
"Bagian Pemerintah dimana, partisipasi stakeholder juga di bagian mana, masyarakat fungsinya dimana dan media support, seperti swakelola dan lain sebagainya berupa pemberdayaan mereka juga perlu dan kalaupun ada budget yang dialokasikan untuk mensupport. Jadi, tidak bisa hanya semata-mata hal ini dijadikan bisnis fasilitas untuk mereka," terangnya.
Menurutnya, volume sampah di Bali saat ini mencapai sekitar 1.900 ton per hari dan berpotensi meningkat jika tidak dikelola dengan baik.
"Begitu kita nyaman, 1.900 ton hari ini bisa menjadi 2.000 ton. Nah, ini ada selisih-selisih yang memang kita harus tetap fokus untuk menyelesaikan masalah sampah di Bali. Itu hanya bisa dilakukan dengan partisipasi lebih banyak lagi dari masyarakat dan stakeholder atau pengusaha dengan peran utama dari pemerintah," tegasnya.
Agus Maha Usadha juga menyoroti pentingnya pemilahan sampah dari sumber, mengingat TPA Suwung kini tidak lagi menerima sampah dalam kondisi tercampur.
"Hari ini TPA Suwung sudah tidak bisa menerima sampah secara keseluruhan dalam satu box. Itu sampah harus sudah dipilah, mana sampah organik, anorganik dan residu," paparnya.
Solusi lain yang didorong adalah pemanfaatan teknologi pengolahan sampah serta penguatan peran TPST-3R untuk meningkatkan efisiensi dan kapasitas pengolahan.
"Usernya yang customer daripada teknologi ini yang juga punya tanggung jawab berpartisipasi untuk kebersihan lingkungan dari hotel, restoran dan lain sebagainya punya wadah yang memadai," ujarnya.
Sementara itu, Ketua PHRI Kabupaten Badung, Gusti Agung Ngurah Rai Suryawijaya menegaskan bahwa persoalan sampah tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga menyangkut perubahan pola pikir dan perilaku.
"Regulasi sudah banyak, program sudah berjalan, namun di lapangan masih kita temukan tantangan, dimulai dari pemilahan yang belum optimal, keterbatasan kapasitas pengolahan, serta koordinasi yang belum terintegrasi secara menyeluruh," kata Rai Suryawijaya.
Rai Suryawijaya mendorong agar seluruh pihak segera beralih dari diskusi menuju aksi nyata melalui langkah-langkah konkret, seperti pemilahan sampah dari sumber, pengurangan plastik sekali pakai, serta penguatan edukasi kepada karyawan dan wisatawan.
"Kemudian, mengurangi secara bertahap penggunaan plastik sekali pakai di lingkungan usaha. Kami juga mendorong edukasi kepada karyawan dan tamu sebagai bagian dari perubahan perilaku serta yang tidak kalah penting, membangun koordinasi berkelanjutan antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat," ujarnya.
Menurutnya, keberlanjutan pariwisata Bali sangat ditentukan oleh kemampuan menjaga lingkungan sejak saat ini.
"Keberlanjutan pariwisata Bali sangat ditentukan oleh bagaimana kita menjaga lingkungan hari ini. Jika kita ingin pariwisata tetap menjadi kekuatan ekonomi ke depan, maka pengelolaan sampah harus menjadi prioritas bersama, bukan pilihan. PHRI dan NCPI berkomitmen untuk terus mengambil peran aktif, menjadi jembatan kolaborasi, serta mendorong implementasi nyata di lapangan," tutupnya.
Acara Sarasehan menghadirkan sejumlah Narasumber berkompeten meliputi Gubernur Bali dua periode 2008-2018 dan Mantan Anggota DPD RI Dapil Bali, Komisaris Jendral Polisi (Purn) Dr. Drs. Made Mangku Pastika MM., Filolog, Pembaca, Peneliti dan Budayawan, Sugi Lanus, Plt. Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kabupaten Badung, Dr. Ir. I Made Agus Aryawan, S.T., M.T., yang diwakili Sekretaris Warastuti, Kepala Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Provinsi Bali, I Made Dwi Arbani, S.TP., M.Si.
Kepala Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup Region Bali Nusra, Ni Nyoman Santi, ST., M.Sc., Ketua Bali Sustainable Development Foundation, Dr. Drs. I KG. Dharma Putra, M.Sc., dan Dr. Ida Bagus Putu Astina, S.H., M.H., MBA, CLA., Prof. Dr. Ir. I Gusti Bagus Wijaya Kusuma serta Prof. Dr. I Gusti Bagus Rai Utama, SE., M.MA., MA., MOS., CIRR. (WIG/002)