Kremasi di Bali, Pilihan Budaya atau Pelarian dari Tekanan Sosial?
Admin 2 - atnews
2026-04-25
Bagikan :
I Kadek Saputra (ist/atnews)
Oleh: I Kadek Saputra
Wajah Bali sedang berubah. Di balik gemerlap industri pariwisata yang kian masif, terselip sebuah dilema besar bagi krama (warga) Hindu di Bali. Tuntutan ekonomi untuk memenuhi kebutuhan sandang, pangan, dan papan memaksa banyak orang menghabiskan sebagian besar waktunya di tempat kerja. Dampaknya nyatanya tradisi ngayah gotong royong tulus ikhlas di banjar kian terhimpit oleh absensi kerja.
Bagi generasi muda yang sedang meniti karier, memilih antara tanggung jawab profesional dan kewajiban adat bukan perkara mudah. Sayangnya, ketidakhadiran di banjar sering kali berbuah stigma. Cibiran halus seperti “Nak sibuk megae ye” (dia sibuk bekerja) atau sindiran “Tumben ci ngenah” (tumben kamu kelihatan) saat sesekali datang, menjadi "kerikil" mental bagi warga.
Tidak hanya itu saja, bahkan sanksi sosial yang terberat di banjar menerima Kasepekang. Yakni sanksi adat Bali terberat berupa pengucilan atau pengasingan sosial dari banjar adat. Warga yang dikenai sanksi ini tidak diajak bicara, kehilangan hak menggunakan fasilitas banjar, dan sering kali diikuti kanorayang (pemecatan adat). Sanksi ini diterapkan akibat pelanggaran berat terhadap awig-awig.
Perasaan malu, tidak enak hati, hingga rasa enggan karena merasa sudah terasing dari lingkungan banjar akhirnya memicu sebuah tren baru pelarian menuju kremasi instan.
Kremasi kini bukan sekadar prosesi penyucian jenazah lewat api, melainkan dipandang sebagai solusi praktis dan murah bagi mereka yang ingin menghindari kerumitan sosial. Dengan memilih paket kremasi di krematorium, prosesi yang biasanya melibatkan seluruh krama banjar dan memakan waktu berhari-hari, kini bisa diringkas menjadi satu hari saja.
Cukup bayar, selesai, dan abu dilarung. Tidak ada lagi beban harus mengerahkan massa, tidak ada lagi rasa sungkan karena jarang ngayah. Disinilah pergeseran makna kremasi terjadi. Pergeseran dari Komunal ke individual, dimana ngaben tradisional identik dengan gotong royong (mabebasan/krama desa), sedangkan krematorium cenderung lebih individualis dan tidak melibatkan banyak orang.
Adanya perubahan ekistensi makna, menjadikan fenomena menyisakan pertanyaan besar. Apakah kremasi dipilih murni karena keterbatasan lahan dan efisiensi waktu? Ataukah ini adalah bentuk protes diam krama terhadap lingkungan sosial banjar yang kian menghakimi mereka yang sibuk bekerja?
Memang, jasa pemakaman dan krematorium sangat membantu dalam menjaga ketertiban dan penghormatan terhadap jenazah di tengah kesibukan modern. Namun, jika kremasi dipilih hanya karena rasa malu atau takut disindir tetangga, maka ada yang salah dengan cara kita bermasyarakat.
Jangan sampai kemudahan teknologi dan jasa kremasi justru mengikis esensi banjar sebagai wadah persaudaraan. Kremasi seharusnya menjadi pilihan spiritual yang terhormat, bukan sekadar pelarian bagi mereka yang merasa terasing di tanah kelahirannya sendiri akibat tuntutan ekonomi. Budaya Bali memang harus beradaptasi dengan kebutuhan zaman, namun jangan sampai kehilangan rasa hanya karena kita terlalu sibuk mencari angka. (*)