Oleh: Made Dharma Putra
Purnama Jiyesta akan menerangi langit Bali pada 30 April 2026. Sehari setelahnya, 1 Mei 2026, dunia memperingati Hari Buruh Internasional. Dua momentum bertemu pada satu titik: pengorbanan dalam sunyi demi kehidupan bersama.
Hari ini, kelompok yang memikul beban paling berat justru paling jarang terdengar suaranya: pengusaha kecil, pedagang, wirausaha, dan pekerja informal.
1. Wajah Buruh 2026: Bukan di Pabrik, Tapi di Lapak
Hari Buruh lahir dari pabrik di Chicago tahun 1886. Pada 2026, wajah buruh Indonesia telah berubah. Buruh hari ini adalah pengemudi ojek online yang bekerja 14 jam, pedagang pasar yang buka sebelum subuh, petani yang cemas harga pupuk, serta pelaku UMKM yang dipaksa beradaptasi digital namun omzetnya tergerus algoritma.
Mereka tidak punya serikat. Tidak ada THR yang pasti. Namun mereka mempertaruhkan hidup setiap hari. Orang melihat “bos warung” itu bebas. Realitasnya: tidur tapi otak tetap di kasir. Tersenyum ke pembeli, tapi lambung perih menahan stres.
2. Purnama Jiyesta: Terang Setelah Gelap
Purnama Jiyesta pada sasih Jiyesta dipercaya membawa energi penyucian dan ketulusan. Bulan tidak langsung purnama. Ia melewati fase gelap, bulan mati, sabit, hingga sempurna.
Itulah potret pengusaha kecil hari ini. Mereka sedang di fase “bulan mati” ekonomi: sepi pembeli, margin tipis, tekanan kebijakan. Leher kaku. Bahu berat. Tidur tidak memulihkan. Itu adalah tubuh yang bersuara: “Saya terlalu lama berada di mode siaga.”
Seperti Purnama, mereka percaya gelap akan lewat. Syaratnya: harus ada yang menjaga lilin agar tidak padam. Lilin itu adalah solidaritas kita sebagai bangsa.
3. Ekonomi Rapuh, NKRI Retak
Tekanan yang dipikul terlalu lama bukan hanya menguras pikiran. Ia menggerogoti tiang penyangga bangsa.
Satu warung tutup bukan berarti satu keluarga kehilangan makan. Dampaknya berantai: karyawan menganggur, pemasok kehilangan langganan, anak terancam putus sekolah. Frustrasi ekonomi adalah bahan bakar termudah bagi konflik sosial.
Sejarah mencatat, krisis 1998, UMKM yang menyelamatkan Indonesia. Jika UMKM dan pekerja informal tumbang diam-diam hari ini, keutuhan NKRI ikut retak. Ekonomi yang rapuh adalah pintu masuk disintegrasi.
Bung Karno pernah berpesan: “Bangsa yang tidak percaya kepada kekuatan dirinya, tidak dapat berdiri sebagai suatu bangsa yang merdeka.”Kekuatan itu kini diuji di lapak-lapak, bukan di mimbar.
4. Recovery Adalah Strategi Bangsa
Banyak yang tumbang bukan karena malas. Mereka jatuh karena stres berkepanjangan tanpa pemulihan.
Tubuh yang tegang kronis, seperti negara yang defensif, lebih responsif pada pendekatan yang menenangkan daripada tekanan agresif. Pajak mencekik, birokrasi berbelit, dan caci maki di ruang publik hanya membuat situasi semakin kaku.
Prinsip regulasi: tubuh dan bangsa melepas ketegangan saat merasa aman, bukan saat dilawan. Yang dibutuhkan bukan cambuk “kerja lebih keras”, melainkan ruang untuk recovery. Ruang untuk turun dari mode siaga ke mode aman.
Purnama Jiyesta mengingatkan: terang datang saat kita berhenti melawan gelap, dan mulai menyalakan lilin.
5. 1 Mei: Saatnya Ganti Pertanyaan
Hari Buruh 2026 harus menjadi hari menengok mereka yang bertahan diam-diam.
Jangan hanya bertanya: "Omzet bagaimana?”
Mulailah bertanya: “Tidurmu nyenyak tidak? Bahumu masih kuat menahan semua ini?”
Kalimat sederhana itu bisa menjadi lilin di fase bulan mati mereka. Karena sering kali mereka tidak butuh dinasihati. Mereka butuh ditenangkan. Butuh merasa aman.
Debit tenaga mereka boleh kecil. Namun jernihnya pengorbanan merekalah yang membuat Indonesia tetap menyala.
Tugas kita bersama: pastikan mereka tidak bertahan sendirian. Pengusaha besar menengok yang kecil. Negara hadir untuk menenangkan, bukan menekan. Konsumen membeli dengan empati.
Karena tidak semua yang masih membuka lapak berarti baik-baik saja. Sebagian hanya sedang bertahan. Demi keluarga. Demi NKRI.
Rambut boleh memutih menanggung beban bangsa. Kulit boleh keriput menahan krisis. Namun semangat menjaga Indonesia tidak boleh menua. Selama hati masih setia berbakti di sawah, di pasar, di jalanan kita belum selesai menunaikan darma.
Selamat Hari Buruh Internasional, 1 Mei 2026.
Rahayu Purnama Jiyesta. Untuk semua pejuang ekonomi sunyi: Kalian bukan beban, Kalian benteng.
*) Made Dharma Putra Ketua Gerakan Nasional Pembudayaan Pancasila (GNPP) Prov. Bali