Pemprov. Bali Mesti Bantu Lancarkan Pembangunan Fasilitas Publik untuk Pusat Kebudayaan India di Renon
Banner Bawah

Pemprov. Bali Mesti Bantu Lancarkan Pembangunan Fasilitas Publik untuk Pusat Kebudayaan India di Renon

Admin 2 - atnews

2026-06-04
Bagikan :
Dokumentasi dari - Pemprov. Bali Mesti Bantu Lancarkan Pembangunan Fasilitas Publik untuk Pusat Kebudayaan India di Renon
Putu Suasta (ist/atnews)
Denpasar (Atnews) - Pengelana Global Putu Suasta  Alumnus UGM dan Cornell University merasa heran, aset tanah milik Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali mangkrak hampir seperempat Abad. 

Keberadaan aset tanah milik Pemprov Bali yang direncanakan menjadi lokasi pembangunan India Cultural Centre Bali (ICCB) atau Pusat Kebudayaan India di Jalan Tantular, Renon, Denpasar, kembali menjadi sorotan publik. 

Bahkan sudah terpasang plang nama, rencana pembangunan proyek ICCB atau Pusat Kebudayaan India tersebut sempat diresmikan Gubernur Bali (1998-2008), Dewa Beratha, Dubes India, Hemant Krishan Singh dan DG ICCR, Rakesh Kumar.

Namun hingga saat ini justru diketahui proyek tersebut mangkrak dan tidak ada tanda-tanda progres keberlanjutan dari proyek tersebut, sehingga menjadi kewajaran publik mempertanyakan nasib aset Pemprov Bali yang dipergunakan untuk proyek tersebut.

"Ya sebetulnya kita heran saja kenapa tanahnya yang sudah ada plang namanya di depan belum juga diaktifkan," kata Putu Suasta yang juga Pendiri LSM JARRAK dan Yayasan Wisnu di Denpasar, Kamis (4/6).

Apalagi aset yang sudah disetujui peruntukkannya  untuk pemerintah India, seharusnya sudah bisa dipakai fasilitas publik untuk meningkatkan hubungan kebudayaan dan Ekonomi Bali  dengan India.

Tanah tersebut yang sudah disetujui untuk peruntukan itu hendaknya bisa dibangun oleh pemerintah India.

"Kalau ada hambatan hambatan birokrasi dan administrasi. Wajib Pemda Bali membantu kelancaran semua hambatan itu," tegasnya.

Mengingat negara India sebagai negara besar dengan penduduknya dan umat Hindunya terbesar di dunia juga kekuatan ekonomi, pendidikan dan sumber dayanya.

India dibawah kepemimpinan Perdana Menteri Modi membawa negara tersebut semakin maju dalam segala aspek.

Estimasi PDB global tahun 2026 mencerminkan proyeksi terbaru untuk ekonomi-ekonomi utama. Meskipun AS dan Tiongkok tetap menjadi dua ekonomi teratas, negara India saat ini berada di peringkat ke-6 dalam nilai nominal dengan PDB nominal sekitar $4,15 triliun. 

Negara India juga tetap menjadi ekonomi utama dengan pertumbuhan tercepat di dunia.

India masuk 10 besar tertinggi di dunia. Dijelaskan, Amerika Serikat, PDB sebesar $32,38 triliun, tetap menjadi ekonomi terbesar di dunia. Berikutnya, China, PDB sebesar 20,85 triliun dolar AS, tetap menjadi ekonomi terbesar kedua.

Sesangkan India, PDB sebesar 4,15 triliun dolar AS, saat ini menempati peringkat ke-6 di antara ekonomi terbesar setelah Jerman, Jelang dan Britania Raya.

Namun pertumbuhan tercepat yakni India memimpin ekonomi-ekonomi utama dengan tingkat pertumbuhan 6,48% pada tahun 2026.

Maka hubungan Indonesia dan India terus semakin kuat, karena memiliki akar kebudayaan yang sama, tradisi kuno  berlandaskan sanatana dharma sejak Ramayana dan Mahabharata.

Upaya itu dalam memperkuat hubungan kedua negara yang sudah terhubung sejak Presiden Sukarno.

India dan Indonesia menjalin hubungan diplomatik pada 1949. Setahun kemudian, Presiden RI Soekarno didapuk menjadi tamu utama pada Hari Republik India yang pertama pada 1950. 

Demikian pula, Perdana Menteri pertama India, Jawaharlal Nehru ke Bandung, untuk menghadiri Konferensi Asia Afrika pada 1955.  

Dalam kepemimpinan Presiden Subianto memiliki langkah diplomasi yang kuat menjadi sinyal penting perubahan pendekatan luar negeri Indonesia. Apalagi hubungan Indonesia dan India semakin menguat di tengah pergeseran geopolitik global.

Bahkan Presiden Prabowo Subianto ke India sebagai Tamu Kehormatan pada perayaan Hari Republik India yang disambut oleh Presiden India Droupadi Murmu dan Perdana Menteri (PM) Shri Narendra Modi dari tanggal 24 hingga 26 Januari 2025.

Kunjungan Prabowo Indonesia ke India menegaskan penguatan serta perluasan kerja sama strategis antara Indonesia dan India, khususnya di sektor ekonomi, pertahanan, maritim, sejak kedua negara telah sepakat untuk menjadi mitra komprehensif strategis pada 2018.

Sebelumnya juga Presiden Joko Widodo menjadi tamu kehormatan peringatan Hari Republik Ke-69 di New Delhi, India pada Tahun 2018, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada Tahun 2011 dan Presiden Sukarno kala itu jadi tamu untuk peringatan Hari Republik Pertama pada Tahun 1950.

Apalagi Duta Besar India untuk Indonesia, Sandeep Chakravorty, bertemu dengan Presiden ke-5 Republik Indonesia Megawati Soekarnoputri.

Keduanya membahas kedekatan hubungan India dan Indonesia sejak era Presiden Soekarno dan Perdana Menteri Jawaharlal Nehru. 

Pertemuan digelar di kediaman Megawati, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (25/5/2026). 

Acara berlangsung dalam suasana hangat dan penuh nostalgia, mencerminkan eratnya hubungan historis serta warisan bersama kedua negara.

Dalam pertemuan tersebut juga dibahas berbagai isu strategis terkait geopolitik, upaya peningkatan kualitas demokrasi, serta penguatan hubungan bilateral antara kedua negara.

Dalam suasana hangat yang dipenuhi cerita masa lalu, Megawati dan Sandeep membahas bagaimana kedekatan personal antara dua tokoh pendiri bangsa tersebut menjadi fondasi hubungan Indonesia dan India hingga hari ini. 

Pembicaraan tidak hanya menyentuh sejarah, tetapi juga berkembang ke isu geopolitik, demokrasi, hingga tantangan global yang dihadapi kedua negara.

Pertemuan itu memperlihatkan bahwa hubungan Indonesia dan India tidak dibangun semata oleh kepentingan diplomatik modern, melainkan berakar pada persahabatan ideologis yang telah terjalin sejak masa perjuangan kemerdekaan.

Megawati membuka percakapan dengan mengenang pengalaman pribadinya saat menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Gerakan Non-Blok (GNB) di Beograd, Yugoslavia, pada 1 hingga 6 September 1961. Saat itu, Megawati masih berusia 14 tahun, tetapi telah ikut dalam delegasi Indonesia dan bertemu langsung dengan sejumlah tokoh besar dunia.

Ia mengingat bagaimana dirinya duduk bersama para pendiri Gerakan Non-Blok, termasuk Jawaharlal Nehru. Momen tersebut menjadi salah satu pengalaman yang membekas dalam hidupnya.

“Saya saat itu memakai kebaya,” kata Megawati sambil menunjukkan foto lama pertemuannya dengan Nehru.

Megawati juga memperlihatkan sejumlah dokumentasi bersejarah lain, termasuk foto ketika Nehru berbincang dengan Presiden Soekarno di Istana Merdeka pada 8 Juni 1950. 

Ditambah lagi, baru saja Ketua DPRD Bali Dewa Made Mahayadnya atau yang akrab disapa Dewa Jack didampingi Ketua Fraksi Demokrat Nasdem DPRD Bali Dapil Buleleng, Dr. Somvir menerima CEO perusahaan Patanjali Ayurved, Acharya Balkrishna di Ruang Ketua DPRD Provinsi Bali, Denpasar, Kamis, 4 Juni 2026.

Acharya Balkrishna juga Direktur Pelaksana dari perusahaan konglomerat India's Fast-Moving Consumer Goods (FMCG) asal India, Patanjali Ayurved. Ia ikut mendirikan perusahaan tersebut bersama guru yoga ternama Baba Ramdev pada tahun 2006.

Di bawah kepemimpinannya, Patanjali telah berkembang dari apotek kecil menjadi salah satu perusahaan barang konsumen (FMCG) terbesar di India dengan omset tahunan puluhan ribu crore rupee. 

Acharya Balkrishna yang juga Rektor Universitas Patanjali, India lahir di Haridwar pada 4 Agustus 1972, dari keluarga imigran asal Nepal, ia menempuh pendidikan di bidang Ayurveda dan Sanskerta di Gurukul Haryana, tempat ia pertama kali bertemu dengan Baba Ramdev.

Kesuksesan Patanjali telah menjadikannya salah satu miliarder terkaya di India, dengan kekayaan bersih yang dilaporkan oleh Forbes mencapai miliaran dolar. 

Wakil Rektor Universitas Patanjali, India Acharya Balkrishna melakukan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dengan universitas Hindu negeri pertama di tanah air, UHN IGB Sugriwa.

Apalagi jumlah wisatawan Indianya yang mengunjungi Bali menduduki posisi kedua. Hampir semakin tahun semakin meningkat dan bertambah, spending belanjanya di Bali yang bisa secara drastis meningkatkan devisa dan pungutuan wisata asing (PWA).

Hal itu pula akan mendukung perputaran ekonomi Bali. (GAB/ART/002)

Baca Artikel Menarik Lainnya : Sungai Tulamben Meluap,  Lalin Karangasem - Singaraja Lumpuh 

Terpopuler

Rumah Layak untuk Pak Juli: Gotong Royong Bulan Bung Karno Wujudkan Kesejahteraan Warga Buleleng

Rumah Layak untuk Pak Juli: Gotong Royong Bulan Bung Karno Wujudkan Kesejahteraan Warga Buleleng

Penguatan Desa Budaya, Prodi Ilmu Pemerintahan FISIP Unwar Gelar PKM di Desa Sukawati 

Penguatan Desa Budaya, Prodi Ilmu Pemerintahan FISIP Unwar Gelar PKM di Desa Sukawati 

ADVERTISING JAGIR
Official Youtube Channel

#Atnews #Jagir #SegerDumunTunas

ADVERTISING JAGIR Official Youtube Channel #Atnews #Jagir #SegerDumunTunas

Senantara: Kita Butuh Investor yang Jaga Bali, Bukan Cuma Cari Untung

Senantara: Kita Butuh Investor yang Jaga Bali, Bukan Cuma Cari Untung

ITDC Gandeng Masyarakat Benoa Kelola Sampah Organik Jadi Eco Enzyme untuk Pariwisata Berkelanjutan

ITDC Gandeng Masyarakat Benoa Kelola Sampah Organik Jadi Eco Enzyme untuk Pariwisata Berkelanjutan

81 Tahun Pancasila, Semarak di Seremoni, Tercampakkan dalam Realitas

81 Tahun Pancasila, Semarak di Seremoni, Tercampakkan dalam Realitas