Denpasar (Atnews) - Cokorda Istri Indah Apsari yang akrab disapa Cok In seorang Single Fighter membangun kemandirian finansial dengan semangat besar membangun usaha secara mandiri.
Cok In kelahiran 7 Oktober 1987, sosok Women Entrepreneurs atau wirausahawan perempuan berdarah Bali yang tengah mengembangkan usaha KIP Tours and Trans sejak tahun 2021.
Cok In sebagai Founder KIP Tours & Trans memiliki main market India, Pencetus pertukaran Budaya India Bali dari 2024- sekarang.
Pendiri Sedana Gemilang Utama untuk jasa pembuat pakaian seragam pemerintah, sekolah, hotel dan lainnya. Serta perluasan usaha fast boat, restaurant, property, dan transportasi.
KIP Tours and Trans memiliki tagline "Jelajahi Bersama Kami" merupakan anggota aktif Asosiasi Agen Wisata Indonesia (ASITA).
Usaha itu dibangun menangkap peluang besar sektor pariwisata Bali yang terkenal di dunia. Pulau Dewata memiliki akar budaya yang kuat didukung keramahan orang Bali serta alam yang indah.
Maka dari itu, Cok In menghadirkan KIP Tours and Trans sebagai salah satu perusahaan jasa terkemuka untuk wisata Bali, berkantor pusat di Denpasar dengan fokus melayani wisatawan mancanegara ke Indonesia, khususnya ke Bali.
Dirancang untuk mengakomodasi layanan wisatawan mancanegara domestik dan pasar Asia (B2B, B2C, FIT dan GIT) untuk memberikan layanan terbaik dengan harga yang kompetitif.
Selain itu, pihaknya juga melayani sewa transportasi, termasuk layanan kapal cepat Ocean Speed Fastboat dari Sanur menuju Nusa Penida, Klungkung.
Cok In ikut terjun dalam pelayanan kapal cepat karena minat wisatawan ke Nusa Penida cukup besar baik domestik dan mancanegara.
Selain itu, Cok In sebagai Regional Director Putri Anak dan Putri Remaja Indonesia (RD PARI) Bali, baru saja sukses menyelenggarakan Malam Grand Final Putri Anak Indonesia Bali dan Putri Remaja Indonesia Bali 2026 yang digelar di Harris Hotel & Residences Sunset Road, Denpasar, Minggu (31/5).
Terpilih Putu Anindhita Indivara Disty Dananjaya dan Gusti Ayu Whidya Agung Candradevi sebagai Putri Remaja Indonesia Bali 2026 dan Putri Anak Indonesia Bali 2026.
Sebelumnya, Putri Anak Indonesia Bali 2025, Ida Ayu Gde Kiara Sashikirana Rai yang merupakan anak kandungnya yang juga predikat Puteri Anak Indonesia Pariwisata 2025 dan Putri Remaja Indonesia Bali 2025 Abigail Navela Winata.
Cok In mengambil amanah tersebut karena kecintaan pada anak-anak muda Bali. Hal itu dalam mendorong anak-anak menemukan bakat melangkah menuju puncak.
Tahun ini, ajang tersebut mengangkat tema ‘Berakar Budaya, Mengukir Prestasi’ sebagai bentuk ajakan kepada generasi muda agar tidak meninggalkan nilai-nilai budaya Bali di tengah derasnya arus digitalisasi dan media sosial.
Ia menjelaskan Putri Anak Indonesia dan Putri Remaja Indonesia merupakan ajang pembinaan berjenjang yang menjadi ruang awal pembentukan karakter. Anak-anak dilatih untuk mampu mempresentasikan diri, melatih public speaking, meningkatkan kepercayaan diri, hingga belajar menerima diri apa adanya.
Ajang ini berada di bawah naungan Didi Foundation dan tidak hanya sekedar kompetisi, tetapi juga wadah pembentukan karakter, mental, kepercayaan diri, serta kepedulian sosial generasi muda Bali.
Kepedulian itu semakin tumbuh dari pengalaman pribadinya dari broken home justru menjadi bagian dari motivasi untuk membuktikan bahwa setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang.
Disamping itu, pihaknya berjuang dalam melawan mafia pageant yang merugikan banyak pihak serta citra model kecantikan.
Dimana Cok In harus berjuang hidup untuk merawah dua anaknya yakni Ida Ayu Gde Kiara Sashikirana Rai (13) dan Ida Ayu Dwina Sashikirana kelas 1 SMP Tri Hita.
"Menjadi seorang ibu adalah bisnis terbesar dan terhebat saya, dan anak-anak adalah investasi masa depan yang tak pernah ada ruginya. Saya berjuang hari ini, agar langkah mereka esok lebih baik dan mimpi mereka lebih tinggi lagi," tuturnya.
Baginya, membangun bisnis seperti membesarkan seorang anak-anak disayang, dididik, dikasih waktu untuk tumbuh dan menjadi besar dan berhasil.
"Bila gagal dirangkul diberi kasih sayang diajak bicara dan dijaga sepenuh hati," imbuhnya.
Cok In membagikan motto dalam hidupnya. "Hiduplah seperti hari ini adalah hari terakhirmu di bumi, lakukan yang terbaik 100% di 24 jam waktumu, disiplin, belajar, berusaha, dan yakin pada diri sendiri dan sisanya serahkan pada kerja semesta dan Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa-red)," ungkapnya.
Hal itu yang selalu membuat Cok In selalu bangkit dari keterpurukan. Kesuksesannya saat ini bukan jatuh dari langit, tetapi melewati banyak kegagalan. "Jatuh bangun udah banyak kali," bebernya.
Dirinya pun merasakan penghinanaan, dipandang sebelah mata hanya karena miskin, tidak diajak, disepelekan.
Bahkan masih banyak lagi hinaan yang diperoleh. Namun yang menjadi dirinya bangkit karena kemauan untuk hidup lebih baik.
Bangkit dari keterpurukan dengan yakin pada karma dann kehendak semesta. Usaha tidak akan pernah menghianati hasil.
Berani berusaha dan memulai saja dulu. "Masalah hasil resiko belakangan ya g penting gas dulu aja, mulai dulu aja. Belajar sambil berjalan. Ngalir dan belajar melihat peluang, jalani saja," pungkasnya. (GAB/ART)