Denpasar (Atnews) - Praktisi Agribisnis Wayan Supadno menilai tata kelola aset tanah Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali. "Bali memang aneh. Harusnya Pemda Bali jadi teladan dalam pemberdayaan aset tanahnya," kata Supado bertepatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia.
Hal itu disampaikan dalam merespons belum terealisasi pembangunan India Cultural Center Bali (ICCB) di Renon, Denpasar, Jumat (5/6).
Keberadaan aset tanah milik Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali tersebut disebut mangkrak selama 22 tahun.
Menurutnya, nilainya triliunan tetapi banyak yang non produktif bahkan jadi "cost centre" misal PBB, pemeliharaan dan perawatan.
Padahal jika bijak cerdas kerjasama dengan pihak lain akan jadi kontrobutor pendapatan asli daerah (PAD) sangat besar.
Ia menyoroti banyak tempat tanah mangkrak milik Pemprov. dan Pemda Kabupaten/Kota se-Bali.
"Hanya mangkrak jauh dari harapan. Sangat tidak edukatif," bebernya.
Supadno mencontohkan lokasi di Baturiti luas hektaran. Pada sisi lain, Bali masih harus mendatangkan bunga pajang dalam memenuhi kebutuhan dekorasi, hotel-hotel mewah di Pulau Dewata.
"Kita impor bunga pajang di hotel-hotel, jumlah besar rutin dan jangka panjang," geramnya.
Padahal jika jadi Green House akan jadi solusi menghambat kapital terbang ke daerah lain.
Mengingat Bali rata - rata mendatangkan sekitar 1,52 juta batang bunga krisan per bulan (data 2019) sebagian dari Jawa dengan nilai ekonomi sekitar Rp2,2 miliar per bulan.
Bali masih mendapatkan krisan dari Jawa Timur dan Jawa Tengah karena produksi lokal belum mencukupi kebutuhan.(Z/002)