Prof. Banyu: Hidupkan Kembali India Indonesia, Hubungan Budaya Kekuatan Lunak Lampaui Diplomasi antar Negara
Prof. Banyu: Hidupkan Kembali India Indonesia, Hubungan Budaya Kekuatan Lunak Lampaui Diplomasi antar Negara
Admin -
atnews
2026-06-08
Bagikan :
Prof. Anak Agung Banyu Perwita, Ph.D. (ist/Atnews)
Jakarta (Atnews) - Guru Besar Ilmu Hubungan Internasional, Universitas Pertahanan RI Prof. Anak Agung Banyu Perwita, Ph.D. mengatakan, periode 2024-2025 yang menandai peringatan 75 tahun hubungan diplomatik formal India dengan Indonesia.
Hal itu sengaja dimanfaatkan oleh kedua pemerintah untuk menghidupkan kembali dimensi simbolis hubungan tersebut.
Pemilihan Presiden Prabowo Subianto sebagai Tamu Kehormatan pada Hari Republik India ke-76 pada 26 Januari 2025 secara sadar menggemakan kehadiran Presiden Sukarno pada Hari Republik India pertama pada 26 Januari 1950.
Momen itu menggambarkan rentang peradaban selama tujuh puluh lima tahun dan menegaskan pentingnya hubungan tersebut dalam imajinasi strategis India.
"Diplomasi budaya telah memperoleh dimensi kelembagaan yang semakin meningkat," kata Prof Banyu di Jakarta, Senin (8/6).
India menawarkan berbagai beasiswa untuk mahasiswa Indonesia melalui Skema Beasiswa Umum Atal Bihari Vajpayee, Skema Beasiswa Tari dan Musik Lata Mangeshkar, dan Beasiswa AYUSH, di samping program Kerja Sama Teknik dan Ekonomi India (ITEC).
Pembentukan program Studi India di Universitas Indonesia dan lembaga-lembaga Indonesia lainnya mencerminkan meningkatnya minat akademis untuk memahami India kontemporer, melengkapi tradisi berabad-abad dalam mempelajari bahasa Sansekerta dan teks-teks klasik India di lembaga-lembaga Indonesia.
Hubungan budaya juga diekspresikan melalui pertukaran kekuatan lunak yang melampaui diplomasi antar negara.
Dengan adanya Sinema Bollywood, kuliner India, dan bentuk-bentuk tari klasik seperti Bharatanatyam dan Odissi, yang memiliki akar konseptual yang dalam dengan tradisi tari Bali dan Jawa yang berasal dari kerangka pertunjukan Sanskerta yang sama, merupakan jembatan budaya organik.
Warisan Hindu-Buddha Indonesia yang hidup, yang diekspresikan dalam lanskap artistik dan religius Bali, dalam keterlibatan tradisi wayang kulit dengan narasi Ramayana dan Mahabharata, dan dalam kompleks candi Prambanan dan Borobudur yang ikonik, berfungsi sebagai jangkar peradaban bersama yang tidak dapat ditiru oleh perjanjian bilateral apa pun.
Pada September 2024, dialog Jalur 1.5 antara Gateway House India dan Pusat Studi Strategis dan Internasional (CSIS) Indonesia diresmikan di Mumbai, dengan dialog kedua direncanakan di Jakarta pada September 2025, yang menandakan kemitraan intelektual yang semakin matang dan memperluas hubungan bilateral di luar saluran pemerintahan. (Z/ART/001)