Saatnya Menata Ulang MBG
Banner Bawah

Saatnya Menata Ulang MBG

Admin 2 - atnews

2026-06-10
Bagikan :
Dokumentasi dari - Saatnya Menata Ulang MBG
infografis MBG (ist/atnews)
Oleh Rahmat Mulyana

Apa yang terjadi dengan Dadan Hindayana kita lepaskan dulu soal salah benar kasus hukumnya. Lagipula sya melihatnya bukan sebagai sebuah kasus dan oknum. Ini persoalan disain. Setiap kali Makan Bergizi Gratis tersandung keracunan di sebuah sekolah, jual-beli titik dapur, anggaran yang membengkak tanpa dampak terukur kita cenderung mencari orang yang salah. Padahal yang lebih jujur, dan lebih berguna, adalah mencari disain yang salah. 

Sebab masalah MBG bukanlah tiga masalah terpisah yang kebetulan muncul bersamaan. Korupsi, keracunan, dan inefektivitas adalah tiga pancaran dari satu sumber yang sama: keputusan menjadikan SPPG dapur produksi terpusat berkapasitas besar sebagai satu-satunya cara sah menyalurkan makanan kepada puluhan juta anak.

Selama ini SPPG monolitik diperlakukan sebagai kebenaran yang tak boleh diganggu gugat. Kita memperdebatkan siapa yang mengawasinya, berapa anggarannya, siapa yang memimpinnya tetapi nyaris tidak pernah mempertanyakan apakah unit produksinya sendiri dirancang dengan benar.

Di situlah letak kekeliruan paling mahal. Sebuah dapur tunggal yang harus memasak ribuan porsi setiap hari bukanlah pilihan netral; ia adalah pilihan yang, secara struktural, memproduksi ketiga penyakit itu sekaligus.

Penyakit pertama: rente yang lahir dari kelangkaan

Mengapa "titik SPPG" bisa diperjualbelikan? Bukan semata karena ada oknum nakal. Sebuah titik menjadi barang berharga justru karena ia besar, tunggal, dan jumlahnya dijatah. Ketika satu dapur melayani ribuan porsi dan kuotanya terbatas, setiap titik otomatis bernilai ekonomi besar. Nilai itulah yang menciptakan godaan untuk memperdagangkannya.

Logikanya sederhana dan tak terhindarkan: unit yang besar dan langka menciptakan rente, bukan sekadar menjadi tempat rente terjadi. Maka memburu pelaku setelah transaksi terjadi adalah pekerjaan tanpa ujung selama unitnya tetap besar dan langka, godaannya akan terus lahir kembali, siapa pun orangnya. Memperbanyak pengawas pada model yang salah hanya menambah biaya tanpa menyentuh sumber masalah.

Penyakit kedua: bahaya yang melekat pada jarak

Keracunan massal kerap dibaca sebagai kelalaian kebersihan. Itu hanya sebagian kecil dari cerita. Penyebab yang lebih dalam bersifat geometris. Satu dapur berkapasitas ribuan porsi tidak mungkin berada di sebelah setiap sekolah yang dilayaninya; ia harus mengirim jauh.

Dan setiap kilometer perjalanan adalah waktu - waktu yang dihabiskan makanan matang di zona suhu berbahaya, tempat bakteri melipatgandakan diri setiap dua puluh menit. Makanan matang hanya aman beberapa jam pada suhu ruang; rantai distribusi yang panjang memakan jendela keamanan itu sebelum makanan sampai ke piring.

Dengan kata lain, keracunan bukanlah kecelakaan yang menimpa model yang baik. Ia adalah konsekuensi yang dapat diramalkan dari memilih unit produksi yang terlalu besar untuk geografi yang dilayaninya terutama di negara kepulauan dengan jalan dan rantai dingin yang belum merata. Dapur kecil yang dekat dengan anak nyaris tidak mengenal masalah ini, karena makanan berpindah dari wajan ke meja dalam hitungan menit, bukan jam.

Penyakit ketiga: kekakuan yang membuang sumber daya

Unit besar menuntut standardisasi: porsi yang seragam, menu yang seragam, perkiraan kebutuhan yang ditetapkan dari jauh. Tetapi kebutuhan riil di lapangan tidak seragam. Hasilnya adalah ketidakcococokan antara pasokan dan kebutuhan di satu tempat berlebih dan terbuang, di tempat lain kurang.

Pemborosan ini bukan kesalahan administratif yang bisa diperbaiki dengan formulir yang lebih baik; ia adalah ongkos bawaan dari skala besar yang dikelola dari kejauhan. Anggaran terserap, tetapi tujuannya gizi yang benar-benar sampai pada yang membutuhkan meleset.

Satu akar, maka satu penyembuhan

Bila ketiga penyakit ini berasal dari satu pilihan disain, maka memperbaikinya satu per satu adalah menambal, bukan menyembuhkan. Menambah sertifikat tidak menghapus rente. Menambah pengawas tidak memendekkan rantai suhu. Menambah aturan tidak mencairkan kekakuan. Yang menyembuhkan adalah mengganti unit produksinya.

Maka pertanyaan yang seharusnya kita ajukan bukan "bagaimana mengawasi SPPG dengan lebih ketat", melainkan "apakah dapur raksasa terpusat memang unit yang tepat sejak awal".

Jawaban yang lebih sehat tampaknya mengarah pada pembalikan morfologi: dari sedikit dapur besar yang menjadi pusat, menuju banyak dapur kecil yang dekat dengan titik konsumsi. 

Perubahan ini menyerang ketiga penyakit secara bersamaan. Ketika unit menjadi kecil dan banyak, tidak ada lagi titik langka yang bernilai jutaan untuk diperjualbelikan rente mengempis di sumbernya. Ketika dapur berada dekat sekolah, rantai suhu yang mematikan itu nyaris hilang. Dan ketika produksi bersifat lokal, ia bisa menyesuaikan diri dengan kebutuhan nyata, memangkas pemborosan.

Pembalikan ini tentu menuntut harga. Mutu yang tersebar lebih sulit dijaga keseragamannya, dan biaya per unit bisa naik. Tetapi di sinilah peran negara semestinya ditegaskan kembali: bukan menjadi pemilik dapur raksasa, melainkan menjadi penjaga standar.

Pusat menetapkan dan menegakkan baku gizi serta keamanan pangan termasuk menjadikan sertifikasi sanitasi sebagai gerbang yang harus dilewati sebelum sebuah dapur beroperasi, bukan formalitas yang menyusul setelah keracunan terjadi.

Sementara produksi, penyesuaian menu, dan sumber bahan diserahkan pada unit-unit kecil yang lebih lincah dan lebih dekat. Dapur boleh kecil dan tersebar; standar harus tunggal dan tegak.

Menimbang ulang, dengan rendah hati

Tidak ada yang meragukan niat di balik MBG. Memberi makan anak-anak bangsa adalah cita-cita yang mulia, dan ketulusan itu pantas dihormati. Justru karena cita-citanya begitu penting, ia tidak boleh dipertaruhkan pada disain yang keliru.

Niat baik bukanlah pengganti sistem yang baik; dan mempertahankan sebuah model semata karena ia sudah berjalan adalah membingungkan konsistensi dengan kebenaran.

India memerlukan dua dekade untuk mematangkan program makan sekolahnya, melewati skandal dan krisis sebelum menemukan bentuk yang lebih andal. Kita tidak harus mengulangi seluruh penderitaan itu jika mau belajar lebih awal dan pelajaran paling awal adalah ini: keandalan sebuah program ditentukan bukan oleh besarnya ambisi, melainkan oleh tepatnya disain.

Menata ulang SPPG bukanlah pengakuan kalah. Ia adalah bentuk kedewasaan kebijakan keberanian untuk bertanya, sebelum terlambat, apakah pondasi yang kita bangun memang mampu menyangga amanah sebesar itu.

*) Rahmat Mulyana, Pengamat Kebijakan Publik

Baca Artikel Menarik Lainnya : Bangun SDM Bali, Koster Ajak Kepala Sekolah Terapkan Kearifan Lokal

Terpopuler

Rumah Layak untuk Pak Juli: Gotong Royong Bulan Bung Karno Wujudkan Kesejahteraan Warga Buleleng

Rumah Layak untuk Pak Juli: Gotong Royong Bulan Bung Karno Wujudkan Kesejahteraan Warga Buleleng

Penguatan Desa Budaya, Prodi Ilmu Pemerintahan FISIP Unwar Gelar PKM di Desa Sukawati 

Penguatan Desa Budaya, Prodi Ilmu Pemerintahan FISIP Unwar Gelar PKM di Desa Sukawati 

POM MIGO KAORI

POM MIGO KAORI

Hari Lahir Pancasila, Presiden Prabowo Tegaskan Transformasi Menuju Ekonomi Berkeadilan

Hari Lahir Pancasila, Presiden Prabowo Tegaskan Transformasi Menuju Ekonomi Berkeadilan

Senantara: Kita Butuh Investor yang Jaga Bali, Bukan Cuma Cari Untung

Senantara: Kita Butuh Investor yang Jaga Bali, Bukan Cuma Cari Untung

Kemnaker Gandeng Boga Group Perluas Akses Kerja bagi Lansia

Kemnaker Gandeng Boga Group Perluas Akses Kerja bagi Lansia