Oleh Bambang Suminto
Di ruang-ruang digital, di warung kopi, di meja makan keluarga, ada satu kebiasaan lama yang kita rawat dengan tekun: memahat luka pada wajah pemimpin bangsa.
Satu per satu mereka lewat. Kita sambut dengan harapan, kita lepas dengan cela.
Soekarno, yang memahat fajar kemerdekaan dengan kata dan keberanian, kita biarkan redup dalam sunyi dan penolakan.
Soeharto, yang membangun tubuh negeri dengan beton dan rencana, kita runtuhkan martabatnya dengan badai caci maki.
Habibie, yang menerbangkan akal Indonesia ke bintang, kita kerdilkan raganya, kita buat terbuang.
Gus Dur, yang memeluk semua manusia dalam tawa dan air mata, kita jadikan keterbatasannya sebagai bahan banyolan jiwa.
Megawati, yang berdiri menjaga sisa reruntuhan reformasi, kita serang kodratnya dengan kata-kata penuh keangkuhan.
SBY, yang menenun damai dengan kesantunan bahasa, kita sebut lamban, kita jadikan jenaka di ruang hampa.
Jokowi, yang berjalan menyusuri peluh dan tanah, kita lucuti kehormatannya dengan sebutan yang merendah.
Kini Prabowo, yang memegang kemudi di nahkoda, lidah kita kembali lincah, menari di atas cela pribadinya.
MENGHAKIMI TANPA CERMIN
Kita fasih menuntut mereka menjadi dewa yang sempurna. Namun kita sendiri bertingkah bak hakim yang kehilangan rasa.
Di mana kita kubur Mikul Duwur Mendem Jero yang adiluhung? Falsafah suci yang mengajarkan untuk menjunjung yang tinggi, menanam yang buruk di dasar bumi. Menjaga marwah, bukan mengumbar aib.
Mengapa kini yang tersisa hanya jemari yang gemar menghakimi? Mengapa kritik tak lagi lahir dari jernihnya kepala, melainkan dari hasrat purba untuk melihat sesama terluka?
Tanyakan pada dadamu, sebelum malam kembali larut: Inikah buah dari Pancasila yang kita sebut-sebut? Inikah karakter anak bangsa yang mewarisi darah para Ksatria?
PEMIMPIN ADALAH WAJAH KITA
Bangsa ini konon santun. Kita merajut waktu dengan benang-benang ampun. Tapi di sepanjang jalan menuju menara kuasa, kita gemar memahat luka pada wajah para pemimpin bangsa.
Padahal pemimpin adalah cermin dari wajah rakyatnya. Jika yang kita lempar setiap hari hanyalah ludah dan cela, maka runtuhlah sudah menara kebudayaan Timur kita.
Demokrasi memberi hak untuk mengawasi. Pancasila memberi panduan untuk mengadili. Tapi keduanya tidak pernah memberi lisensi untuk merobek jubah kemanusiaan seseorang.
Kritik pada kebijakan adalah vitamin bagi negara. Hujat pada pribadi adalah racun bagi bangsa.
PULANG KE RUMAH NURANI
Mari kembali pulang ke rumah nurani yang sejati. Kritiklah arah kemudi dengan akal dan hati yang murni. Persoalkan anggaran, persoalkan undang-undang, persoalkan janji yang ingkar.
Namun jangan pernah lagi merobek jubah kemanusiaan mereka. Sebab saat kita merendahkan martabat pemimpin kita, saat itu pula kita sedang mengubur harga diri bangsa.
Sejarah akan mencatat: bukan hanya apa yang dilakukan para presiden. Sejarah juga mencatat apa yang dilakukan rakyatnya kepada para presiden.
Di rahim bangsa yang santun ini, mari kita rawat warisan Mikul Duwur Mendem Jero. Menjunjung kehormatan, mengubur aib. Menjaga kata, menjaga manusia.
Karena cermin itu kini retak. Dan yang retak bukan hanya wajah mereka di sana. Yang retak adalah wajah kita di sini.
*) Bambang Suminto Mantan Wakil Ketua PWI Bali, Mantan Produser Berita TVRI, Mantan Wakil Ketua Panwas Pemilu Prov Bali