Agro Bela Negara di Monumen Perjuangan Bangsal Jadi Pusat Pembibitan dan Edukasi
Di tengah gempuran beton dan alih fungsi lahan, sekelompok pegiat lingkungan memilih jalan sunyi: menanam. Yayasan Jati Nusa Lestari atau Jati Nusantara bersilaturahmi ke Puri Puncak Bangsal, Badung, Sabtu 13 Juni 2026, untuk menjajaki kolaborasi pelestarian lingkungan dalam rangka Hari Lingkungan Hidup Sedunia.
Pertemuan bernuansa kekeluargaan itu menghasilkan satu kata kunci: jati merah. Pohon endemik bernilai ekologis dan ekonomis tinggi itu akan dibibitkan secara berkelanjutan di Agro Bela Negara Gunung Ayu, kawasan Monumen Perjuangan Bangsal.
Ketua Umum Jati Nusantara, Novi Dwi Jayanti, yang hadir bersama jajaran pengurus menjelaskan, Agro Bela Negara akan menjadi salah satu simpul pembibitan jati merah di Bali. “Bukan sekadar menanam. Kami ingin tempat ini jadi ruang edukasi sejak dini bagi pelajar dan komunitas peduli lingkungan, tidak hanya di Badung, tapi juga Tabanan, Gianyar, Klungkung, dan Karangasem,” ujar Novi.
200 Tanaman Langka di Lahan 2 Hektar
Agro Bela Negara sendiri bukan lahan kosong. Kawasan seluas hampir 2 hektar di Monumen Perjuangan Bangsal itu telah ditanami sekitar 200 tanaman langka. Koleksinya beragam, mulai dari pohon buah lokal, tanaman obat, hingga jenis kayu endemik Bali yang mulai jarang ditemui. Kehadiran pembibitan jati merah akan memperkuat fungsi kawasan tersebut sebagai laboratorium alam bela negara.
Ketua DHD 45 Provinsi Bali, Bagus Ngurah Rai, menyambut baik rencana itu. Menurut dia, program Jati Nusantara selaras dengan semangat JSN 45 dan Gugus Kebangsaan Provinsi Bali. “Bela negara hari ini bukan hanya angkat senjata. Menjaga pohon, merawat tanah, itu juga bela negara,” kata Bagus Ngurah Raiyang Juga Ketua Pelaksana MPB
Gugus Kebangsaan Bali selama ini aktif menjalankan Program Pendidikan Pendahuluan Bela Negara melalui Korps Menwa Indonesia Provinsi Bali. Sejak 2015, program itu telah mencetak 15.000 kader bela negara dari tingkat TK hingga SMA/SMK.
Dikemas untuk Gen Z dan Alfa
Ketua Monumen Menwa Ugracena, Heldy Ardiansyah, yang turut mendampingi pertemuan, menekankan pentingnya pendekatan baru. “Pelestarian lingkungan harus dikemas menarik sesuai karakteristik Generasi Z dan Alfa. Jangan kaku. Harus ada pengalaman, ada cerita, ada makna,” ujarnya.
Heldy mencontohkan PPBN yang dilaksanakan di kabupaten/kota di Bali pada 2026 ini. Materinya tidak lagi sekadar baris-berbaris, tetapi menyentuh isu lingkungan, ketahanan pangan, dan krisis iklim. “Menanam jati merah sambil belajar sejarah perjuangan Bangsal. Itu bela negara yang kontekstual,” tambahnya.
Pesan untuk Masa Depan
Di akhir pertemuan, Jati Nusantara mengajak seluruh komunitas untuk bahu-membahu menyebarkan informasi positif tentang kepedulian lingkungan. Bukan dengan jargon, melainkan dengan aksi nyata: menanam sejak dini.
Satu pohon jati merah butuh puluhan tahun untuk dipanen. Menanamnya hari ini berarti menitipkan oksigen, air tanah, dan harapan bagi generasi yang belum lahir. Seperti kata Bagus Ngurah Rai, “Kalau bukan kita yang menanam, siapa lagi. Kalau tidak sekarang, kapan lagi.”
Di Agro Bela Negara Gunung Ayu, benih itu sedang disemai. Bukan hanya benih jati merah. Tetapi benih cinta tanah air yang tumbuh dari tanah, air, dan kesadaran. (*)