PKB jadi Ajang Politik Pencitraan, Menyimpang dengan Idealisme Gubernur Mantra
Banner Bawah

PKB jadi Ajang Politik Pencitraan, Menyimpang dengan Idealisme Gubernur Mantra

Admin - atnews

2026-06-14
Bagikan :
Dokumentasi dari - PKB jadi Ajang Politik Pencitraan, Menyimpang dengan Idealisme Gubernur Mantra
Jro Gde Sudibya (ist/Atnews)
Denpasar (Atnews) - Pengamat Kebudayaan Bali dan Kecenderungan Masa Depan Jro Gde Sudibya merespon pendapat Ketua Umum Partai Kebangkitan Nasional Gede Pasek Suardika soal "PKB Hanya Dibuka Gubernur Bali Koster".

Mengingat ketidakhadiran Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dalam pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Sabtu (13/6) telah menjadi perhatian publik.

Menurutnya, PKB telah menjadi ajang politik, telah menyimpang jauh dari idealisme sang penggagas Gubernur Bali periode 1978–1988 Prof. Dr. Ida Bagus Mantra (IB Mantra), puncak prestasi berkesenian di akar rumput, Banjar, Desa Pakraman. 

Prof. IB Mantra sebagai tokoh besar Bali yang pernah menjabat sebagai Direktur Jenderal (Dirjen) Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk India. 

Dimana proyek perintisan dan awal pembangunan kawasan Taman Werdhi Budaya (Art Centre) Provinsi Bali di Denpasar dimulai pada tahun 1969. 

Pembangunan tahap awal ini pada masa kepemimpinan Gubernur Bali Soekarmen. Ia sebagai Gubernur Bali ke-4 yang menjabat selama dua periode dari tahun 1967 hingga 1978. 

Kawasan Art Centre kemudian disempurnakan dan difungsikan secara penuh ketika Prof. Ida Bagus Mantra menjabat sebagai Gubernur Bali, sekaligus menjadi lokasi pusat perhelatan akbar tahunan PKB yang pertama kali diresmikan pada tahun 1979.

Panggung berkesenian yang akbar,  memberikan pesan kepada masyarakat untuk membangun keseimbangan kehidupan materialisme ekonomi dan  kerja dan prestasi berkebudayaan.

Dalam bahasa IB Mantra, PKB dikelola dari dan oleh para seniman, jangan melibatkan birokrasi terlalu banyak, sehingga idealisme PKB tidak tercapai. 

"Realitasnya sekarang bak kata pepatah 'jauh panggang dari api'," kata Jro Gde Sudibya yang juga Intelektual Hindu dan Penulis Buku di Denpasar, Minggu (14/6).

Ditambahkan, ajang politik sebagai adalah pencitraan, minus kinerja dan prestasi untuk kepentingan publik. 

Semua orang tahu, dan juga para politisi, kesenian Bali punya keunggulan komparatif dan bahkan keunggulan kompetitif yang bisa "ditunggangi" dalam politik pencitraan.

Tidak penting apakah para politisi ini paham dan telah berbuat dalam proses berkesenian masyarakat dan memahami stategi kebudayaan dalam menaikkan posisi tawar Bali di forum politik nasional. 

"Jangan-jangan hanya sebatas numpang populer dan bisa saja sekadar (maaf) 'nyongkokin tain kebo'," tegasnya.

Mungkin sulit mencari intelektual par excelence dan visi ke depan sekelas IB Mantra, dalam fenomena politik penuh kedangkalan dengan hiruk pikuk demagogi politik.

Mengingat politik sekadar umbar janji, tetapi kemudian tidak ditunaikan. Risiko dari kepemimpinan yang a historis, tidak belajar dari kepemimpinan sebelumnya, seakan-akan makhluk yang datang dari luar ruang angkasa, dan kemudian "jump" menjadi pemimpin Bali. 

Pemimpin yang tidak menghargai proses, "aji mumpung" dan ingin cepat dapat hasil, Quick Yeilding.

Selama ini biasanya pembukaan PKB dibuka langsung oleh Presiden RI. Tercatat era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pertama kali membuka Pesta Kesenian Bali (PKB) pada tahun 2005.

Presiden ke-6 RI, SBY, tercatat membuka perhelatan PKB sebanyak 10 kali selama masa kepresidenannya. Ia tidak pernah absen membuka agenda tahunan itu, dimulai dari tahun 2005 hingga 2014.

Pembukaan PKB 2015 dibuka oleh Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo bersama Menteri Pariwisata Arief Yahya.

Presiden ke-7 Joko Widodo membuka PKB pada tahun 2016. Sedangkan PKB Tahun 2017 dibuka oleh Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo.

Pada tahun 2018, 2019, dan 2021 kembali dibuka Presiden Jokowi. Namun pada tahun 2021 (PKB ke-43), Jokowi membuka pagelaran seni ini secara virtual mengingat situasi pandemi pandemi covid-19.

PKB 2022 diiwakili oleh Mendagri Tito Karnavian, PKB 2023 diwakili Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri yang juga sebagai Ketua Dewan Pengarah BPIP dan BRIN.

Selanjutnya, PKB 2024 duiwakili oleh Menteri ATR/BPN, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), PKB 2025 diwakili Menteri Kebudayaan Fadli Zon.

Terakhir, PKB 2026 dibuka Gubernur Wayan Koster didampingi Wakil Menteri Pariwisata, Ni Luh Enik Ermawati. (GAB/001)

Baca Artikel Menarik Lainnya : Kemendagri Gelar KMF Cegah Ancaman Pemilu 2019

Terpopuler

Rumah Layak untuk Pak Juli: Gotong Royong Bulan Bung Karno Wujudkan Kesejahteraan Warga Buleleng

Rumah Layak untuk Pak Juli: Gotong Royong Bulan Bung Karno Wujudkan Kesejahteraan Warga Buleleng

Penguatan Desa Budaya, Prodi Ilmu Pemerintahan FISIP Unwar Gelar PKM di Desa Sukawati 

Penguatan Desa Budaya, Prodi Ilmu Pemerintahan FISIP Unwar Gelar PKM di Desa Sukawati 

Pimpinan DPRD Badung Ucapkan Galungan dan Kuningan

Pimpinan DPRD Badung Ucapkan Galungan dan Kuningan

Hari Lahir Pancasila, Presiden Prabowo Tegaskan Transformasi Menuju Ekonomi Berkeadilan

Hari Lahir Pancasila, Presiden Prabowo Tegaskan Transformasi Menuju Ekonomi Berkeadilan

Senantara: Kita Butuh Investor yang Jaga Bali, Bukan Cuma Cari Untung

Senantara: Kita Butuh Investor yang Jaga Bali, Bukan Cuma Cari Untung

Kemnaker Gandeng Boga Group Perluas Akses Kerja bagi Lansia

Kemnaker Gandeng Boga Group Perluas Akses Kerja bagi Lansia