Galungan-Kuningan, Mayadanawa dan Pariwisata Massal
Banner Bawah

Galungan-Kuningan, Mayadanawa dan Pariwisata Massal

Admin 2 - atnews

2026-06-16
Bagikan :
Dokumentasi dari - Galungan-Kuningan, Mayadanawa dan Pariwisata Massal
Prof. I Gede Sutarya (ist/atnews)
Oleh Prof. I Gede Sutarya
 
Pada 17 Juni dan 27 Juni 2026, umat Hindu di Bali merayakan Hari Raya Galungan dan Kuningan, yang merupakan hari kemenangan Dharma melawan Adharma. Perayaan ini berdasarkan mitologi Mayadanawa yang bersumber dari Lontar Usana Bali dan Usana Jawa. Lontar-lontar ini sebenarnya mengisahkan penaklukan Bali oleh Jawa yang menjadi pusat kerajaan Nusantara.

Beberapa tafsir mengaitkan tentang kesombongan raja Bali yang mengaku Tuhan dan membuat masyarakat Bali menderita sehingga Jawa (Majapahit) memiliki legitimasi untuk menyerang Bali untuk menyelamatkan masyarakat Bali. Hal itu yang diperingati sebagai hari kemenangan Dharma melawan Adharma sehingga masyarakat Bali pegunungan tak merayakan Galungan semeriah orang-orang Bali dataran.

Perang untuk penyelamatan masyarakat adalah alasan perang dari era klasik sampai sekarang. Amerika menyerang Irak misalnya, memberikan alasan yang serupa, tetapi apakah benar demikian? Realitasnya, Amerika mencari sumber daya alam minyak ke negeri itu untuk kemakmuran negaranya.

Hal serupa juga terjadi di masa lalu, karena raja-raja Jawa juga tak ingin memiliki saingan di kepulauan Nusantara dalam menjadi pusat perdagangan rempah, yang membuat raja-raja Jawa kaya. Karena itu, Teori Dekonstruksi Derrida berlaku dalam Mitos Mayadanawa, bahwa makna suatu sastra tak pernah tunggal.

Sejarah menunjukkan, mitos Mayadanawa yang dibangun untuk raja-raja Bali benar-benar tanpa didasari pengetahuan sejarah yang baik. Raja-raja Bali ternyata telah menulis banyak prasasti yang memberikan catatan tentang perbuatan-perbuatan mulianya. Raja Jayapangus misalnya memberikan banyak catatan tentang batas-batas desa, pengaturan irigasi dan pemeliharaan kawasan-kawasan suci. 

Prasasti-prasasti ini memberikan keterangan yang sebaliknya dari kisah Mayadanawa. Karena itu, dalam realitas raja-raja Bali kuno tidaklah jahat seperti yang digambarkan dalam Usana Bali dan Usana Jawa.
Pada kenyataannya, babad-babad berkisah tentang kekacauan di Bali setelah penyerangan Majapahit.

Perlawanan orang-orang Bali Aga baru bisa diredakan pada Era Dalem Ketut Ngulesir (1384 -1459 Masehi). Penyerangan Gajah Mada ke Bali terjadi pada 1343 Masehi, sehingga perlawanan Bali Aga hampir berlangsung sekitar 50 tahun. Pada tahun 1459 - 1550 Masehi (150 tahun), babad-babad memberitakan Bali makmur di bawah pemerintahan Dalem Waturenggong (150 Tahun), tetapi Tome Pires memberitakan Bali adalah daerah yang penuh dengan perampok pada abad tersebut. Sumber informasinya barangkali dari cerita-cerita orang di Pantai Tuban, Jawa Timur.

Hal ini menunjukkan sebuah keraguan bahwa Jawa pernah membangun masa keemasan di Bali, sebab apa yang dituduhkan raja-raja Jawa terhadap raja-raja Bali dilakukan juga oleh raja-raja Jawa di Bali. Contoh adalah kultus Dewaraja atau raja adalah Tuhan.

Kultus ini juga dilakukan raja-raja Jawa di Bali, yang mengaku sebagai Dewa Agung (dewa tertinggi) sehingga harus dipanggil Ratu yang merupakan panggilan untuk para dewa di Bali. Bahkan pendeta-pendeta Jawa di Bali juga mengikuti kultus itu dengan menyebut dirinya Shiwa, guru daripada guru.

Kultus Dewa Agung dan Shiwa tak ada bedanya dengan kultus Mayadanawa yang dituduhkan kepada raja-raja Bali. Karena itu, kekuasaan Jawa di Bali adalah sesuai dengan tuduhan-tuduhan mereka terhadap raja-raja Bali.

Keturunan raja-raja Jawa ini kemudian terus berperang satu sama lainnya di Bali sampai kolonial mengamankan mereka. Karena itu, sangat disanksikan jika raja-raja Jawa itu membangun kesejahteraan dan keselamatan bagi masyarakat Bali.

Kolonial kemudian memanfaatkan kultus-kultus itu untuk menjajah Bali. Keturunan raja-raja Jawa ini dibiarkan dengan kultus Dewa Agung dan keturunan pendeta Jawa (Majapahit) dibiarkan dengan kultus Shiwa untuk mengatur masyarakat Bali sehingga menjadi penurut.

Dalam hitungan kolonial, lebih murah dari mereka untuk menggaji para bangsawan daripada melawan pemberontakan rakyat. Karena itu, kultus dipelihara untuk melestarikan budaya Bali, yang berdasarkan definisi kolonial, pelestarian budaya artinya melestarikan kebodohan dan kemiskinan rakyat.
 
Mitos Pariwisata
Post kolonial juga memiliki relasi kuat dengan era kolonial, sebab post kolonial juga berhubungan dengan investasi asing terutama dalam pembangunan pariwisata massal. Investasi asing itu berhubungan dengan mitos untuk penyelamatan rakyat Bali, tetapi realitasnya membangun ketergantungan masyarakat Bali terhadap investasi asing, sehingga sampai saat ini (2026), Bali masih memerlukan investasi asing, misalnya untuk mengembangkan KEK. Karena itu, janji investasi untuk menyelamatkan Bali adalah janji yang sulit ditagih, sebab realitasnya Bali kini telah kehilangan banyak hal, tetapi hanya mendapatkan upah yang murah.

Di tengah kondisi itu, isu-isu pelestarian budaya didengungkan terus, dalam realitas yang semakin akut untuk usaha pelestarian kebodohan dan kemiskinan. Karena pelestarian budaya dibangun untuk eksploitasi pariwisata massal, dengan lobby-lobby investasinya yang semakin menggila sedangkan usaha-usaha UMKM Bali menghadapi banyak masalah melawan gempuran-gempuran pariwisata massal. Karena itu, pariwisata merupakan mitos post kolonial untuk penyelamatan, yang ternyata hanya juga angan-angan.

Perayaan Galungan dan Kuningan ini harus menjadi momentum untuk melakukan perenungan, bahwa masyarakat Bali harus melakukan perencanaan sendiri terhadap pembangunan wilayahnya. Pembangunan wilayahnya harus bertumpu pada ekonomi masyarakat Bali.

Masyarakat Bali harus percaya diri untuk melakukan pembangunan dengan kekuatannya sendiri, dengan menghentikan sementara investasi asing. Bali hendaknya dihentikan dari usaha-usaha pelestarian kemiskinan dan kebodohan.

Galungan adalah momentum untuk usaha pemberdayaan diri, sebab ajaran Hindu menyatakan keselamatan hanya dapat dicapai melalui kesadaran diri. Kesadaran diri hanya dapatkan dilatih melalui usaha-usaha mulia (ahimsa), kejujuran (satya), tak rakus (asteya), belajar terus menerus (brahmacari) dan hidup sederhana (aparigraha).

Kehancuran Bali terjadi karena tidak menjalani hidup mulia, tidak jujur, rakus, tak mau belajar dan keinginan hidup mewah. Hal ini harus diwaspadai untuk mencapai kemenangan Dharma. Selamat hari raya Galungan dan Kuningan.
 
*) Prof.Dr. I Gede Sutarya, SST.Par.,M.Ag adalah Guru Besar Perencanaan dan Pengembangan Pariwisata Spiritual dan Religius UHN IGB Sugriwa Denpasar

Baca Artikel Menarik Lainnya : UU Tak Nabrak UUD 1945

Terpopuler

Rumah Layak untuk Pak Juli: Gotong Royong Bulan Bung Karno Wujudkan Kesejahteraan Warga Buleleng

Rumah Layak untuk Pak Juli: Gotong Royong Bulan Bung Karno Wujudkan Kesejahteraan Warga Buleleng

Penguatan Desa Budaya, Prodi Ilmu Pemerintahan FISIP Unwar Gelar PKM di Desa Sukawati 

Penguatan Desa Budaya, Prodi Ilmu Pemerintahan FISIP Unwar Gelar PKM di Desa Sukawati 

Selamat Hari Raya Galungan dan Kuningan

Selamat Hari Raya Galungan dan Kuningan

Hari Lahir Pancasila, Presiden Prabowo Tegaskan Transformasi Menuju Ekonomi Berkeadilan

Hari Lahir Pancasila, Presiden Prabowo Tegaskan Transformasi Menuju Ekonomi Berkeadilan

Senantara: Kita Butuh Investor yang Jaga Bali, Bukan Cuma Cari Untung

Senantara: Kita Butuh Investor yang Jaga Bali, Bukan Cuma Cari Untung

Kemnaker Gandeng Boga Group Perluas Akses Kerja bagi Lansia

Kemnaker Gandeng Boga Group Perluas Akses Kerja bagi Lansia