Galungan: Perjuangan Kebajikan dan Spritualitas
Banner Bawah

Galungan: Perjuangan Kebajikan dan Spritualitas

Admin 2 - atnews

2026-06-16
Bagikan :
Dokumentasi dari - Galungan: Perjuangan Kebajikan dan Spritualitas
Budawayan Putu Suasta (ist/atnews)
Denpasar (Atnews) - Budawayan Putu Suasta, Seorang Pengelana Global yang Alumni UGM dan Cornell University mengucapkan Hari Raya Suci Galungan pada Rabu (17/6) dan Kuningan, Sabtu (27/6/2026).

Perayaan ini biasanya dirayakan oleh umat Hindu di Bali dan Nusantara untuk mengingatkan kembali ajaran Dharma atau Sanatana Dharma.

Menurut lontar Purana Bali Dwipa, Hari Raya Galungan tersebut pertama kali dirayakan di Bali pada hari purnama Kapat tepat Budha Kliwon Dungulan, tanggal 15, tahun saka 804 atau 882 Masehi.

Galungan sempat mengalami masa vakum selama kurang lebih 23 tahun, kemudian dihidupkan kembali oleh Raja Sri Jayakasunu pada tahun 1126 Saka. Raja Sri Jayakasunu memulihkan tradisi ini setelah mendapatkan bisikan religius dari Dewi Durga. 

Dengan demikian, Galungan kembali menjadi bagian penting dari kehidupan spiritual dan budaya masyarakat Bali.

Menurut Suasta, Sang hari terus berputar dalam lingkaran waktu. Tidak terasa Galungan tiba kembali. Masyarakat Hindu di Bali akan “disibukkan ” lagi, setidaknya dua minggu menjelang Galungan, bahan banten (sarana upacara) seperti buah-buahan, jajan khas persembahan, janur bahan banten, daging (babi dan ayam pada umumnya), bumbu-bumbuan, kain poleng-kuning-putih, adalah bagian yang sering diperlukan dan menghiasi menjelang Galungan.  

Dan para ibu dan kaum perempuan Bali pun kembali mendapat peran sentral tak kalah dengan lelaki Bali yang mulai sibuk saat menjelang penampahan (satu dari serangkaian hari Galungan) dengan mempersiapkan penjor dan penyembelihan atau pembelian hewan babi. 

Ada sejumlah rangkaian urutan dalam pelaksanaan hari Galungan. Tiap rangkaian urutan itu mempunyai arti. Umumnya dimulai dari Sugihan Jawa, dimaknai sebagai pembersihan atau penyucian segala hal di luar diri manusia; Sugihan Bali, dimaknai sebagai pembersihan dalam diri manusia; Penyekeban, dimaknai sebagai pengekangan diri; Penyajaan, dimaknai sebagai persiapan/pembekalan diri dalam menyongsong hari Galungan; Penampahan, dimaknai sebagai persiapan yang mantap untuk menerima hari Galungan; sampai kemudian hari H tiba yang disebut sebagai Hari Galungan 

Galungan, dirayakan tiap enam bulan sekali (dengan menerapkan bulan Bali yang berumur 35 hari) dalam perjalanannya diwarnai oleh cerita kultural tentang sosok Maya Denawa sebagai simbol keangkaramurkaan keangkuhan bertempur melawan Sangkul Putih sebagai simbol kebaikan, di mana yang keluar sebagai pemenang adalah Sangkul Putih simbol Kebaikan dan kebenaran. 

Dari cerita ini kemudian dimunculkan arti dari Galungan sebagai kemenangan dharma melawan adharma; kebaikan/kesucian melawan kebatilan/keburukan. Dalam pengertian yang lain, Galungan dimaknai sebagai kemenangan umat Hindhu Bali dalam melawan dirinya sendiri selama masa enam bulan (bulan Bali). 

Dalam memengkan dharma melawan adharma, tidaklah mudah. Banyak sejarah kuno maupun purana-purana diwariskan. Bahkan tidak terjadi perang dasyat dalam membela dharma agar selalu berjalan.

Maka dalam Ramayana dan Mahabharata relevan sekali yang dapat dijadikan renungan umat Hindu dalam merayakan Hari Raya Galungan dan Kuningan. Itihasa tersebut akan relevan sepanjang zaman atau Sanatana Dharma.

Apalagi zalam zaman Kaliyuga, kemakmuran dan kekuasaan material menjadi tujuan utama, sementara kebenaran dan keadilan memudar, dan kebohongan, keserakahan, serta kekerasan merajalela. 

Karakteristik utamanya adalah kebohongan, kemunafikan, keserakahan, dan penurunan etika spiritual. 

Sedangkan, Ahimsa parodharma sebagai dharma tertinggi adalah filosofi hidup non-kekerasan di dalam Veda. Filosofi ini sering disalahpahami oleh para pengikut ajaran Veda sendiri, yang disebut penganut agama Hindu. 

Ajaran ahimsa sering dipahami setengahnya saja, setengah saja, pantang melakukan kekerasan. Akibatnya, penganut Hindu banyak yang jadi generasi lembek, penakut, termasuk takut dalam 
menegakkan kebenaran.

Ahimsa bukanlah tidak adanya kekerasan; filosofi ini juga mengajarkan kekerasan untuk mencegah ataupun melawan kekerasan demi melindungi Dharma (Kebenaran/kebajikan). 

Pesan lengkap Mahabharata, yang intisarinya dijadikan pustaka suci terindah di dunia Bhagavadgītā: “Ahimsa paramo dharma, Dharma himsa tathaiva cha”,  artinya: Non-kekerasan adalah dharma tertinggi, demikian juga kekerasan untuk menegakkan Dharma.

Dalam Mahabharata maupun kitab suci Hindu diperkenalkan bsragam senjata sakti, tidak pernah dimaksudkan untuk dipahami sebagai senjata biasa. Misalnya Chakra Sudarshan, Trishula, Vajra, Brahmastra, Pashupatastra, Narayanastra, Agneyastra.

Senjata-senjata tersebut bukan hanya instrumen perang. Namun mewakili prinsip-prinsip kosmik.

Bharat kuno (India) sering mengungkapkan kebenaran filosofis yang mendalam melalui simbol dan cerita.

Pesan yang lebih dalam bukanlah tentang kehancuran. Namun tentang tanggung jawab. Karena kekuasaan tanpa Dharma menjadi tiran. "Kekuatan yang dibimbing oleh Dharma menjadi perlindungan," ujarnya.

Maka dari itu, para prajurit terhebat dalam epik kita tidak dinilai dari seberapa kuat senjata mereka. Mereka dinilai berdasarkan apakah mereka layak menggunakannya.

Kekuatan sejati bukanlah kemampuan untuk menghancurkan. Hal itulah kebijaksanaan untuk mengetahui kapan tidak melakukannya.

Dalam Sloka Śrīmad-Bhāgavatam  10.4.46
āyuḥ śriyaṁ yaśo dharmaṁ 
lokān āśiṣa eva ca 
hanti śreyāṁsi sarvāṇi 
puṁso mahad-atikramaḥ

Wahai Raja yang terkasih, ketika seseorang menganiaya jiwa-jiwa agung, semua berkah berupa umur panjang, ketampanan, ketenaran, agama, berkat, dan kenaikan ke planet yang lebih tinggi akan hancur.

Maka dari itu, pentingnya menjaga prinsip-prinsip Dharma itu sendiri. Sebagaimana dalam sloka Bhagavadgita 4.8 dijelaskan 
paritrāṇāya sādhūnāṁ
vināśāya ca duṣkṛtām
dharma-saṁsthāpanārthāya
sambhavāmi yuge yuge 

Artinya
Untuk menyelamatkan orang-orang saleh, bijak dan mengalahkan  sifat dari orang-orang yang berbuat jahat, serta menegakkan kembali prinsip-prinsip kebenaran agama. 

Menurut Bhagavad-gītā, sādhu (orang suci) adalah orang yang memahami akan Tuhan. Seseorang mungkin kelihatannya tidak beragama, tetapi  mempunyai kualifikasi kesadaran Tuhan secara utuh dan penuh, maka ia dapat dianggap sebagai seorang sādhu.  

Dan duṣkṛtām berlaku bagi mereka yang tidak memedulikan kesadaran Tuhan. Orang-orang jahat atau duṣkṛtām tersebut digambarkan sebagai orang yang bodoh dan paling rendah di antara umat manusia, meskipun mereka mungkin telah diberi pendidikan duniawi, sedangkan orang yang seratus persen tekun dalam kesadaran Tuhan diterima sebagai sādhu , meskipun orang tersebut mungkin tidak terpelajar dan tidak berbudaya baik.  

Bagi kaum atheis, Tuhan Yang Maha Esa tidak perlu tampil sebagaimana adanya untuk membinasakan mereka, seperti yang dilakukan-Nya terhadap Rāvaṇa dan Kaṁsa. Tuhan mempunyai banyak agen yang cukup kompeten untuk mengalahkan raksasa atau orang jahat.  

Namun Tuhan secara khusus turun untuk menenangkan para pemuja-Nya yang murni, yang selalu diganggu oleh orang yang kerasukan setan. Setan mengganggu pemujanya, meskipun pemuja tersebut mungkin adalah kerabatnya.   

Dikatakan juga, Sloka Śrīmad-Bhāgavatam 3 17.3 - 3.17.16 menjelaskan ciri - ciri alam ketika akan kelahiran dua Asura Hiraṇyākṣa dan Hiraṇyakaśipu.

Pada saat kelahiran kedua Asura itu terjadilah banyak sekali gangguan alam, semuanya sangat menakutkan dan menakjubkan, di planet-planet surga, planet-planet bumi dan di antara keduanya.

Terjadi gempa bumi di sepanjang pegunungan di bumi, dan tampak ada api di mana-mana. Banyak planet yang tidak menguntungkan seperti Saturnus muncul, bersama dengan komet, meteor, dan petir.

Ketika gangguan alam terjadi di suatu planet, seseorang harus memahami bahwa setan pasti telah lahir di sana. Di zaman sekarang, jumlah orang yang kerasukan setan semakin meningkat; oleh karena itu, gangguan alam juga meningkat. Tidak ada keraguan tentang hal ini, sebagaimana dapat kita pahami dari pernyataan-pernyataan dalam Bhāgavatam.

Angin bertiup sangat kencang, mendesis berulang kali, dan menumbangkan pohon-pohon raksasa. Badai menerjang pasukan mereka dan awan debu menerjang panji-panji mereka.

Ketika terjadi gangguan alam seperti angin topan, panas berlebih atau hujan salju, dan pohon tumbang akibat badai, perlu dipahami bahwa populasi orang jahat meningkat sehingga gangguan alam juga terjadi. Ada banyak negara di dunia, bahkan saat ini, di mana semua gangguan ini terjadi. Hal ini terjadi di seluruh dunia. 

Benda-benda penerang di langit tertutupi gumpalan awan, yang terkadang memancarkan kilat seolah tertawa. Kegelapan merajalela di mana-mana, dan tak ada yang terlihat.

Lautan dengan ombaknya yang tinggi meratap lantang seolah dilanda duka, dan terjadilah kegaduhan di antara makhluk-makhluk penghuni lautan. Sungai-sungai dan danau-danau pun bergolak, dan bunga-bunga teratai pun layu.

Lingkaran kabut muncul di sekitar matahari dan bulan selama gerhana matahari dan bulan berulang kali. Gemuruh guntur terdengar bahkan tanpa awan, dan suara-suara seperti derak kereta perang muncul dari gua-gua pegunungan.

Di pedalaman desa, serigala betina berteriak-teriak dengan suara yang menakutkan, sambil menyemburkan api yang hebat dari mulutnya. Serigala dan burung hantu juga ikut berteriak bersama mereka.

Sambil menjulurkan leher, anjing-anjing itu menangis di sana sini, kadang sambil bernyanyi, kadang sambil meratap.

Keledai-keledai berlarian ke sana kemari secara berkelompok, menghantam tanah dengan kukunya yang keras dan meringkik dengan liar.

Ketakutan mendengar ringkikan keledai, burung-burung pun terbang sambil menjerit dari sarangnya, sedangkan ternak di kandang-kandang sapi maupun di hutan mengeluarkan kotoran dan air seni.

Sapi-sapi yang ketakutan mengeluarkan darah dan bukan susu, awan-awan menghujani dengan nanah, patung-patung dewa di kuil-kuil meneteskan air mata, dan pohon-pohon tumbang tanpa ada hembusan angin.

Planet-planet yang dianggap berbahaya seperti Mars dan Saturnus bersinar lebih terang dan melampaui planet-planet yang dianggap baik seperti Merkurius, Jupiter, dan Venus, serta sejumlah planet di Bulan. Dengan mengambil jalur yang tampak mundur, planet-planet tersebut saling berkonflik.

Menandai pertanda-pertanda ini dan banyak pertanda lain tentang masa-masa buruk, semua orang kecuali keempat putra bijak Brahmā, yang menyadari kejatuhan Jaya dan Vijaya dan kelahiran mereka sebagai putra Diti, diliputi rasa takut. Mereka tidak mengetahui rahasia pertanda-pertanda ini dan mengira bahwa kehancuran alam semesta sudah dekat.

Kedua iblis yang muncul di zaman kuno ini segera mulai menunjukkan ciri-ciri fisik yang tidak biasa; mereka memiliki kerangka seperti baja yang mulai tumbuh seperti dua gunung besar.

Perayaan Galungan dan Kuningan juga itu pula mengingatkan salah satu ramalan klasik yang terkenal di Nusantara yakni Ramalan Sabdo Palon, yang mulai muncul di Jawa pada masa kemunduran Kerajaan Majapahit. 

Ramalan itu tentang kebangkitan kembali Agama Buda/Budi di tanah Jawa setelah masa 500 tahun berlalu sejak perpisahan Sabdo Palon dengan Penguasa Kerajaan Majapahit.

Dialog sumpah "500 tahun balik" itu kejadiannya ketika Brawijaya V mau masuk Islam dan Majapahit akan tumbang pada tahun 1400 Saka atau 1478 Masehi.

Prabu Brawijaya V memiliki nama asli sering disebut Raden Kertabumi atau Bhre Kertabhumi.

Masa pemerintahan sekitar 1466 M - 1478 M dengan Gelar Sri Girishawardhana Wikramottungga Dewa / Prabu Brawijaya Pamungkas atau "Brawijaya terakhir.

Ketika Majapahit runtuh 1478 M, dia kalah sama pasukan Raden Patah dari Demak. Selanutnya terus moksa dan pindah ke Gunung Tidar/Prambanan. 

Suasta pun menilai sumber ajaran Sabda Palon yakni Dharma Jawa yang memiliki akar yang sama dari budaya Sanatana Dharma (Veda).
  
Sabda Palon mewariskan ajaran bersidat universal yakni kebenaran (Dharma) tatanan kosmis,  kejujuran (Satya), aturan hidup selaras alam (Tata titi tuti). Hal itu di Bali dikenal dengan filosofi Tri Hita Karana.


Sumpah Sabda Palon isinya ajaran Veda*  
Isi sumpah pamitnya: manusia bakal materialistis, lupa Tuhan, alam rusak. Terus dia janji balik "menata" pas orang Jawa kangen lagi sama Dharma. 
Konsep "zaman rusak lalu dipulihin Tuhan".

Hal tersebut itu mirip debgan ciri-ciri Kali Yuga kembali lagi ke Satya Yuga (zaman keemasan) di Veda Purana. Avatar Wisnu turun tiap yuga runtuh.

Tidak lupa Galungan ini juga sebagai momentum dalam membela dharma memberikan perlindungan kepada sapi (salah satu ibu). 

Dimana dalam memberikan perlindungan sapi erat kaitannya dengan pertanian. Maka lahan pertanian agar dijaga dengan baik, hindari alih fungsi lahan. Pemimpin dan pemerintah mestinya pro petani dan bela wong cilik secara nyata.

Jika pertanian runtuh, lahan habis terjual. Budaya Hindu, khususnya di Bali juga akan hilang. 

Sebagaimana terungkap dalam sidang terbuka ujian Doktor Nyoman Merta pada Program Studi Ilmu Komunikasi Hindu Program Pascasarjana Universitas Hindu Negeri (UHN) I Gusti Bagus Sugriwa di Denpasar, Rabu (10/6).

Dengan Disertasi "Komunikasi Sosial dalam Dinamika Budaya Subak untuk Pemertahanan Pura Ulun Suwi Subak Tegal di Perumahan Bumi Dalung Permai Badung".

Pada Sloka Śrīmad-Bhāgavatam 1.8.40
ime jana-padāḥ svṛddhāḥ
supakvauṣadhi-vīrudhaḥ
vanādri-nady-udanvanto
hy edhante tava vīkṣitaiḥ

Artinya:
Semua kota dan desa ini makmur dalam segala hal karena rempah-rempah dan pangan seperti beras ada secara berlimpah, pohon-pohon berbuah lebat, air sungai-sungai mengalir deras, bukit-bukit penuh dengan mineral dan lautan penuh dengan kekayaan laut. Ini semua karena Engkau memandang sekilas padanya.

Dijelaskan, perkembangan ekonomi manusia menjadi maju berkat pemberian alam, bukan karena industri. Usaha-usaha industri diprakarsai oleh peradaban yang tak berketuhanan, dan menghancurkan esensi tujuan kehidupan manusia. Semakin besar perindustrian, semakin besar dampak buruk yang ditimbulkannya dan menguras kian besar energi hidup manusia. Memang benar telah membuat nyaman hidup segelintir orang, namun memeras hidup mayoritas orang, yang menimbulkan keresahan di mana-mana. 

Anugerah alam seperti beras, biji-bijian, sayuran, buah-buahan, dan dari sungai dan pegunungan menghasilkan berbagai permata, logam mulia, mineral, dsb., dan dari lautan menghasilkan banyak mutiara dsb., dimana semua itu tersedia atas perintah Yang Mahakuasa. Atas kehendak-Nya-lah alam menghasilkan benda-benda berharga tersebut secara berlimpah ataupun alam membatasi persediaannya sewaktu-waktu.

Menurut hukum alam, manusia berhak memanfaatkan anugerah alam, namun wajib berterima kasih dan puas atas kemakmuran yang diberikan oleh alam, tanpa bermaksud untuk menguasai atau mengeksploitasinya sampai kering. Semakin kita serakah dan mencoba memerasnya, semakin kita terperangkap oleh reaksi keserakahan kita.

Jika sudah tersedia bahan pangan seperti beras dan biji-bijian, buah, sayur dan bumbu-bumbu yang sangat mencukupi, mengapa harus mebunuh makhluk-makhluk tak berdosa untuk dijadikan bahan pangan? Bukankah tak perlu mengonsumsi daging hewan jika sudah tersedia bahan pangan yang lebih baik seperti beras, biji-bijian dan sayuran yang sangat mencukupi. Air sungai yang melimpah membuat sawah dan ladang menjadi subur makmur sehingga hasil pertanian berhasil melampaui kebutuhan.

Dari hutan dan bebukitan yang sehat, manusia dapat mengambil bahan-bahan kimia atau mineral yang dibutuhkan, dan dari sungai dan lautan yang terjaga kebersihannya manusia dapat menikmati berbagai permata atau hasil tambang lainnya. Jika peradaban manusia terjaga dengan baik, maka bahan pangan seperti beras dan biji-bijian, zat mineral, permata, susu dsb, akan berlimpah ruah, lalu mengapa bercita-cita membangun industri raksasa yang akan merusak lingkungan serta memeras tenaga sejumlah orang yang bernasib malang? Tetapi, segala pemberian alam tersebut bergantung pada karunia Tuhan.

Karena itu, yang harus kita lakukan adalah mematuhi hukum-hukum Tuhan dan melalui jalan bhakti kita berusaha meretas kesempurnaan hidup. Petunjuk-petunjuk Kuntīdevī sangatlah tepat. Harapan Dewi Kuntī adalah agar umat manusia dapat memanfaatkan karunia Tuhan yang Tuhan limpahkan kepada mereka, dan menjaga kelestarian alam dengan baik atas karunia-Nya. (Z/002) 

Baca Artikel Menarik Lainnya : Sesepuh BPBD Dukung Keluarga Tangguh Bencana

Terpopuler

Rumah Layak untuk Pak Juli: Gotong Royong Bulan Bung Karno Wujudkan Kesejahteraan Warga Buleleng

Rumah Layak untuk Pak Juli: Gotong Royong Bulan Bung Karno Wujudkan Kesejahteraan Warga Buleleng

Penguatan Desa Budaya, Prodi Ilmu Pemerintahan FISIP Unwar Gelar PKM di Desa Sukawati 

Penguatan Desa Budaya, Prodi Ilmu Pemerintahan FISIP Unwar Gelar PKM di Desa Sukawati 

ADVERTISING JAGIR
Official Youtube Channel

#Atnews #Jagir #SegerDumunTunas

ADVERTISING JAGIR Official Youtube Channel #Atnews #Jagir #SegerDumunTunas

Hari Lahir Pancasila, Presiden Prabowo Tegaskan Transformasi Menuju Ekonomi Berkeadilan

Hari Lahir Pancasila, Presiden Prabowo Tegaskan Transformasi Menuju Ekonomi Berkeadilan

Senantara: Kita Butuh Investor yang Jaga Bali, Bukan Cuma Cari Untung

Senantara: Kita Butuh Investor yang Jaga Bali, Bukan Cuma Cari Untung

Kemnaker Gandeng Boga Group Perluas Akses Kerja bagi Lansia

Kemnaker Gandeng Boga Group Perluas Akses Kerja bagi Lansia