Titik Nol Singaraja? Duplikasi Jogja atau rekonstruksi Sunda Kecil?
Banner Bawah

Titik Nol Singaraja? Duplikasi Jogja atau rekonstruksi Sunda Kecil?

Admin 2 - atnews

2026-06-19
Bagikan :
Dokumentasi dari - Titik Nol Singaraja? Duplikasi Jogja atau rekonstruksi Sunda Kecil?
Titik Nol Singaraja (ist/atnews)
Oleh Gede Pasek Suardika

Sebagai warga yang lahir tumbuh dan hingga saat ini masih sering ke Singaraja Saya merasa sangat senang melihat wajah areal Tugu Singa Ambara Raja yang kini disebut titik nol Singaraja ditata ulang. 

Harus diakui ide ini sangat bagus dan menambah areal kebanggaan sekaligus ruang ekspresi kebahagiaan bagi warga Singaraja khususnya maupun Buleleng pada umumnya. Tentu rasa salut saya sampaikan kepada  Bupati Sutjidra dan Wakil Bupati Supriatna atas gagasan ini. 

Sebab selain indeks pertumbuhan ekonomi dan manusia, dunia juga memilih standar indeks kebahagiaan bagi warganya. Dan penataan taman kota, sarana olahraga, tempat hiburan  ini bisa menambah indeks kebahagiaan tersebut.

Namun ada perdebatan yang menilai kalau titik nol Singaraja seperti duplikasi Jogjakarta. Terhadap penilaian ini tidak bisa disalahkan karena secara sepintas nuansa seperti itu memang tampak kuat di Jogjakarta dengan keratonnya.

Namun Saya melihat justru ini lebih pada merekonstruksi Sunda Kecil sebagai entitas historis kota Singaraja pernah menjadi ibukota Sunda Kecil. Fakta sejarah memang menyatakan ornamen gaya Belanda mempengaruhi kota Singaraja. Literatur arsitektur Buleleng memang banyak diwarnai arsitektur kolonial. Sementara Pura nya malah memiliki ukiran yang khas seperti di Pura Taman Beji, Pura Gunung Sekar, Pura Meduwe Karang dan lainnya. Memang faktanya begitu.

Tolok ukur arsitekturnya bisa melihat beberapa bangunan lama yang ada disekitarnya yang memang perpaduan nuansa bangunan kolonial. Sehingga Saya lebih melihat ide ini sebagai rekonstruksi visual perkotaan untuk mengingatkan kembali Singaraja itu pernah menjadi ibukota wilayah Bali NTB dan NTT saat wilayah itu disebut Sunda Kecil. Sehingga sudah saatnya warganya harus juga bangkit untuk menstandarkan kembali kehidupan ibukota.

Aksen Buleleng tetap dimunculkan terlihat dari adanya hiasan  ukiran paras abasan sebagai sentuhan arsitektur lokal untuk mendekatkan kekuatan historis dan geografis.

Saya masih ingat juga depan Taman Makam Pahlawan juga bangunan Pemda berarsitektur kolonial. Dan akan sangat bagus jika keseluruhan areal disana ditata dalam jangka panjang merekonstruksikan kembali ibukota Sunda Kecil. 

Tambahan usulan, biar makin kuat bahwa itu sebagai kawasan historis Sunda Kecil, ke depan penataan dilanjutkan ke Timur biar menyambung hingga Puri Buleleng, Sasana Budaya, Gedong Kertya. Bahkan Gedong Kertya bisa dikembangkan menjadi Museum Buleleng dengan menata ulang seluruh areal Sasana Budaya menjadi museum lengkap tentang Buleleng dari masa ke masa. Bahkan Pasar Buleleng bisa juga disulap penataannya agar senada arsitekturnya dan ada khad tertentu yang dijual berupa souvenir khas Buleleng

Hal ini bisa memperkuat daya tarik wisata sejarah baik wisata puri (Palace Tourism) maupun Museum Tourism yang biasanya disukai juga oleh Wisatawan Eropa dan Amerika. Betapa kuatnya rekonstruksi tersebut karena titik nol meliputi tugu dan taman indah sekitar pusat pemerintahan, ada Puri, Gedong Kertya, kediaman asal Ibu Bung Karno, hingga pusat kuliner dan pasar seni. Sehingga betul betul menjadi kawasan wisata baru.

Kemudian ke Selatan kalau memungkinkan penataan bisa dilakukan sebelum RSUD ke atas dibuatkan nuansa yang sama dan tentu melibatkan partisipasi pemilik tanah atau warga disana dengan skema saling menguntungkan. Disana bisa ditata menjadi pusat kuliner dengan nuansa Sunda Kecil juga sampai ke atas. Jika ingin menarik wisatawan pelajar dan lainnya maka  parkir yang luas diperlukan termasuk parkir Bus. Sebab banyak Bus Pariwisata balik ke Jawa lewat Singaraja dan bisa mampir sebentar disana. Ini pasar potensial. Jika nanti makin berkembang bisa jadi tujuan utama City Tour. 

Ruang ekspresi seni juga bisa dimaksimalkan di tempat khususnya yang menjadi aset Pemda. Dalam jangka panjang, pariwisata Buleleng bisa memperkuat eksistensi info wisata Sunda Kecil selengkap mungkin. Pemkab Buleleng bisa juga dalam merevitalisasi perkantoran bisa diarahkan dengan arsitektur sama, yaitu gaya Sunda Kecil dengan aksen ukiran paras abasan agar nuansa kota Singaraja memiliki konektivitas arsitektur untuk memperkuat titik nol Singaraja. 

Ya hanya saran. Tapi yang ada sekarang sudah membuat senang dan jika ke Singaraja Saya pun ingin merasakan nostalgia di ibukota Sunda Kecil. 

Sekali lagi selamat...! Singaraja makin bersolek dan ditambah keberadaan kampus Undiksha, IMP, Unipas dan lainnya akan memperkuat kota pelajar didalamnya. 

Saya yakin tugu Singa Ambara Raja (SAR) akan viral kembali dan tidak kalah dengan keterkenalan patung Manekin Pis di Belgia. Perlu segera ada souvenir khas SAR tersebut untuk memperkuatnya. 

Bagi yang masih berdebat isu meniru Jogja atau Sunda Kecil lebih baik energi dibuat santai... Yang menilai mirip Jogja ya anggap saja mereka yang berlibur ke Bali langsung dapat keduanya. Bali dan Jogja. Banyak obyek wisata melakukan itu, seperti Batu Malang. Sementara yang menganggap itu Sunda Kecil hidup kembali ya dinikmati untuk menambah kebahagiaan berfoto saat sunset atau malam hari. 

*) Gede Pasek Suardika, Ketum PKN

Baca Artikel Menarik Lainnya : Ikatan Pasemetonan Diharapkan Berorientasi Kemanusiaan

Terpopuler

Kemenangan Dharma atas Adharma Tidak Sebatas Slogan, Merta: Adat dan Budaya Bali Bisa Bertahan Sepanjang Masih Ada Tanah

Kemenangan Dharma atas Adharma Tidak Sebatas Slogan, Merta: Adat dan Budaya Bali Bisa Bertahan Sepanjang Masih Ada Tanah

Rumah Layak untuk Pak Juli: Gotong Royong Bulan Bung Karno Wujudkan Kesejahteraan Warga Buleleng

Rumah Layak untuk Pak Juli: Gotong Royong Bulan Bung Karno Wujudkan Kesejahteraan Warga Buleleng

Selamat Hari Raya Galungan dan Kuningan

Selamat Hari Raya Galungan dan Kuningan

Stan PKB 2026 Digratiskan, Putri Koster Pastikan Tidak Ada Pungli Bagi Pedagang

Stan PKB 2026 Digratiskan, Putri Koster Pastikan Tidak Ada Pungli Bagi Pedagang

Hari Lahir Pancasila, Presiden Prabowo Tegaskan Transformasi Menuju Ekonomi Berkeadilan

Hari Lahir Pancasila, Presiden Prabowo Tegaskan Transformasi Menuju Ekonomi Berkeadilan

Senantara: Kita Butuh Investor yang Jaga Bali, Bukan Cuma Cari Untung

Senantara: Kita Butuh Investor yang Jaga Bali, Bukan Cuma Cari Untung