Oleh Jro Gde Sudibya
Dalam Upanisad dinyatakan, jika keserakahan menguasai manusia, maka kecerdasan akan runtuh.
Fenomena yang dihadapi Indonesia dewasa ini, sistem meritokrasi ditinggalkan, yang terjadi mediokrasi, kompetensi tanggung plus kerusakan moral, moral hazard dalam kebijakan publik.
Ada contoh yang cukup tragis di negeri ini, Kementrian Agama yang "ngurusin" moral, etika dan keyakinan Tuhan, paling banyak menterinya yang masuk penjara.
Terjadi anomali dalam kehidupan masyarakat, individu tidak menjalankan perannya sesuai dengan etika profesinya.
Pemimpin tidak menjalankan peran keteladanan, sehingga dalam masyarakat dengan tradisi paternalistik, masyarakat "milu-milu tuwung" melanggar etika dan juga hukum.
Pendidikan karakter sarat masalah, sehingga menjadi sulit untuk lahirnya insan-insan manusia tangguh berkarakter kuat - Stitha Prajna -.
Lembaga-Lembaga agama "setali tiga uang", lemah dalam misi pelayanan untuk peningkatan kualitas SDM. Terlalu banyak "politicking" untuk membangun akses dengan kekuasaan dan mungkin untuk memperoleh "gula-gula" kekuasaan.
Kultur dan spirit melayani - the power of seva- nyaris tumpul.
Konsekuensi terjadi kesenjangan yang semakin lebar antara agama sosial (rame-rame dengan simbol), dengan agama spiritual (integritas, pelayanan dan transformasi diri).
Dalam fenomena sosial "beginian" Kita merayakan Galungan dan Kuningan.
Semestinya perayaan Kuningan, dipergunakan sebagai momentum untuk "periksa diri", ke arah mana prilaku kita bergerak. Jalan ditempat secara rokhani atau terjadi pembangkitan diri.
*) Jro Gde Sudibya, intelektual Hindu, pengamat sosial keagamaan.