Klungkung, 22/12 (Atnews) - Anggota Komite II DPD Dr Made Mangku Pastika mengajak seniman Kamasan Klungkung untuk melakukan perubahan dalam menghadapi situasi global.
"Jika tidak mengikuti trend arus perubahan itu, tentu kita bisa jadi punah," kata Pastika di Klungkung, Minggu (22/12).
Hal itu disampaikan ketika kunjungan kerja dan menerima aspirasi masyarakat di Sanggar Kerja Studio and Workshop Nyoman Mandra Kamasan, Klungkung.
Trend itu agar mengikuti permintaan pasar dan pemanfaat teknologi.
Selain itu, pihaknya mendukung pembentukan organisasi para seniman Kamasan dalam memperkuat dan melestarikan lukisan tradisional Bali.
Untuk melestarikan lukisan Alm. Mandra maupun murid-muridnya yang juga memiliki pakem tersendiri yang unik dan khas.
Lukisan model itu memiliki nilai sejarah dan kesakralan yang tinggi karena sebagai sarana upacara di pura-pura.
Bahkan lukisan Kamasan dengan Tenganan diabadikan di Museum Maritim Cuttack, India Timur.
Tempat tersebut sebagai awal perjalanan Rsi Markandeya hingga ke Bali yang dikenal Kalingga Bali Yatra.
"Lukisan Kamasan, tradisi Tenganan, Nusa Penida dan Bali Aga merupakan warisan ajaran Rsi Markandeya," ungkapnya.
Sementara itu, Pewaris Karya Alm. Manda Ni Wayan Sri Wedari didampingi adiknya Komang Adi Prebawa menambahkan, ide mengumpulkan karya murid-muridnya sempat dicetuskan ketika ayahnya masih berkarya.
Namun cita-cita tersebut belum mampu diwujudkan hingga ayahnya berpulang.
Namun pihaknya akan mewujudkan berkat adanya dukungan semua pihak sehingga nantinya dapat diwariskan kepada generasi penerus.
Begitu juga tempat latihan anak-anak muda fasilitas belum memadai karena keterbatasan anggaran.
Sedangkan, Seniman Lawak I Gede Dharma Suarsana dikenal Dogler mengusulkan adanya perhatian lebih serius terhadap kesenian.
Sanggar Kanaka Art di Banjar Sangging Kamasan yang dibinanya diharapkan ada bantuan pemerintah atau pihak lain yang tertarik dalam melestarikan budaya Bali dalam arus globalisasi. (ART/02)