Sira Village GOB di KEK Kura-Kura Bali, Gusde Sidharta: Tambah Daya Tarik dan Ekosistem Baru Pariwisata
Sira Village GOB di KEK Kura-Kura Bali, Gusde Sidharta: Tambah Daya Tarik dan Ekosistem Baru Pariwisata
Admin -
atnews
2026-08-03
Bagikan :
Ketua PHRI Denpasar Gusde Sidharta (ist/Atnews)
Denpasar (Atnews) – Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura Kura Bali resmi menghadirkan destinasi premium outlet pertama dan terbesar di Pulau Dewata, Sira Village Grand Outlet Bali, pada Jumat (31/7/2026).
Pusat perbelanjaan seluas 4,7 hektare bernilai investasi Rp1,5 triliun (sekitar USD 85 juta) tersebut memadukan konsep ritel modern, pengalaman budaya, kuliner, hingga kemudahan akses udara bagi para wisatawan.
Tokoh pariwisata dan Ketua PHRI Denpasar Ida Bagus Gede Sidharta Putra yang akrab disapa Gusde Sidharta, menyambut positif hadirnya fasilitas ritel modern berkonsep factory outlet ini di tengah pembenahan kawasan KEK Kura Kura Bali.
"Ini bukan sekadar mall biasa, melainkan factory outlet yang menyasar pasar besar dan segmen grup. Kehadirannya menambah fasilitas entertainment eksklusif agar Bali tidak hanya dipenuhi hotel, sekaligus membangun ekosistem pariwisata baru yang melibatkan warga lokal dan melengkapi aktivitas wisatawan, termasuk dari kawasan Sanur," kata Gusde Sidharta yang juga Ketua Yayasan Pembangunan Sanur.
Gusde menambahkan bahwa konsep Sira Village berbeda dengan pusat perbelanjaan lain seperti Icon Bali di Sanur yang lebih berfokus pada ritel keluarga. Menurutnya, skala Sira Village yang sangat luas dirancang khusus untuk mengakomodasi grup wisatawan dalam jumlah besar.
Proyek kolaborasi strategis antara Mitsubishi Estate Group dan PT Bali Turtle Island Development (BTID) ini menawarkan perbedaan utama dibanding pusat perbelanjaan biasa, yakni penawaran harga brand global yang jauh lebih terjangkau.
Mulai bulan depan, Sira Village akan meluncurkan fasilitas live flight information (informasi jadwal penerbangan langsung) serta shuttle bus gratis menuju Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai. Terobosan ini memungkinkan wisatawan menikmati pemandangan sunset, berbelanja, atau bersantap sebelum terbang meninggalkan Bali.
Pada fase soft opening, sebanyak 104 tenant dari target 130 unit usaha telah resmi beroperasi. Kawasan ini menghadirkan sejumlah debut perdana, seperti Toko buku Kinokuniya pertama di Bali, Sira Space (kurasi brand premium MAP), serta Debut merek fesyen asal AS, Hazelwood, di Indonesia.
Selain itu, deretan merek internasional seperti Coach, Kate Spade, BOSS, Adidas, Nike, dan Puma tampil berdampingan dengan produk serta kuliner UMKM lokal tepercaya, seperti Alun Alun Indonesia, Dekranasda, Uluwatu, dan Jenggala.
Kehadiran Sira Village diproyeksikan menyerap lebih dari 1.000 tenaga kerja yang didominasi warga desa sekitar, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi dan memperpanjang masa tinggal (length of stay) wisatawan. Langkah ini sejalan dengan data BPS yang mencatat konsumsi rumah tangga sebagai penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional hingga awal 2026.
Dari sisi arsitektur, Sira Village mengusung konsep Desa Bhinneka (A Village for Diverse Communities) dengan mengadaptasi elemen arsitektur tradisional Bali seperti bale dan natah. Rancang bangun kawasan difokuskan pada prinsip ramah lingkungan—memanfaatkan ventilasi alami, material daur ulang, serta pengelolaan sampah plastik menuju sertifikasi BCA Green Mark Gold.
Sebagai bentuk penguatan kearifan lokal, setiap gerai di kawasan ini diwajibkan menyantumkan papan nama beraksara Bali.
Sejak resmi beroperasi pada Jumat (31/7) hingga Minggu (2/8), Village outlet berlatar pemandangan sunset yang menawan ini telah menyedot lebih dari 60.000 pengunjung, baik dari kalangan warga lokal Bali maupun wisatawan domestik dan mancanegara.
"Melihat lebih dari 52 ribu orang datang dan menikmati Sira Village dalam tiga hari pertama ini, jujur, rasanya haru. Ini bukan cuma soal angka, tapi bukti bahwa mimpi besar kami membangun ruang yang menyatukan alam, budaya, dan masyarakat Bali akhirnya bisa dirasakan langsung oleh banyak orang khususnya warga Bali. Perjalanan menuju hari ini panjang, dan momen seperti inilah yang membuat semuanya terasa berarti," ujar Tantowi Yahya, Presiden Direktur PT Grand Outlet Bali.
Tingginya antusiasme masyarakat tersebut didorong oleh konsep Sira Village yang menawarkan pengalaman berbelanja outdoor yang hangat, yakni terintegrasi dengan panorama alam laut serta beragam ruang kreatif yang inklusif. Kemeriahan pembukaan Sira Village kian terasa lewat pertunjukan budaya, panggung musik, serta Island Bazaar yang turut menggandeng berbagai jenis Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Tak hanya itu, pengunjung disambut oleh lebih dari sekadar deretan gerai ritel — salah satu daya tarik yang turut mewarnai pengalaman mereka adalah kehadiran Indonesian Contemporary Art & Design (ICAD) 2026, eksibisi seni kontemporer yang untuk pertama kalinya digelar di ruang ritel komersial seperti Sira Village.
Di salah satu etalase, misalnya, sebuah tas modern nan stylish berdiri mencuri perhatian — desainnya kosmopolitan, tapi satu detail kecil tak pernah ditinggalkan: gantungan berbentuk Barong yang menegaskan identitas Bali di setiap sudutnya. Di sudut lain, sepasang kacamata terbuat dari papan skateboard bekas, dan sebuah tas menggembung terinspirasi dari ikan buntal, dibuat dari plastik daur ulang menggunakan teknik shibori.
Berlangsung selama dua bulan, eksibisi pop-up ini menghadirkan 37 karya lintas disiplin dari desainer, seniman rupa, hingga artisan UMKM, di mana 70% di antaranya merupakan talenta kreatif berbasis di Bali.
Mengusung tema nasional "Being Becoming", ICAD 2026 di Sira Village menegaskan bahwa keberlanjutan atau sustainability bukanlah konsep asing yang kaku, melainkan manifestasi dari kebiasaan dan etika hidup sehari-hari.
"Budaya itu pada hakikatnya adalah kebiasaan atau habit kita. Nilai budaya tidak selalu harus dihadirkan dalam bentuk pertunjukan tarian, melainkan melalui fungsi hidup sehari-hari yang beretika dan berbudaya," ungkap Diana Nazir, Founder & Artistic Director ICAD.
Semangat itu dituangkan dalam karya-karya yang dipamerkan. Koleksi Ali Charisma, Ketua Indonesian Fashion Chamber. yang berasal dari Bali, menghidupkan kembali kain-kain kuno dari berbagai daerah menjadi rangkaian busana baru. Sementara Maharani Craft memilih pendekatan berbeda — menerjemahkan budaya bukan lewat pertunjukan, tapi lewat fungsi benda sehari-hari: cara masyarakat Bali menata bunga, atau menata buah di pagi hari. Tak hanya itu, ada juga brand furnitur Second Living yang memanfaatkan kayu-kayu tua tak terpakai berstandar ekspor menjadi produk interior yang stylish.
Bagi Diana, ruang yang menaungi karya-karya tersebut pun tak kalah penting. Ia mengaku terkesan dengan suasana yang dibangun Sira Village sebagai tempat eksibisi yang menurutnya terasa berbeda dari pusat perbelanjaan serupa di belahan dunia lain karena kuat menghadirkan nuansa lokal.
"Karena judulnya outlet, kan kita juga udah pernah lah ke outlet yang dimana-mana di dunia. Ini yang saya suka, ini agak lebih warm dari (tempat berbelanja) yang lain, karena ada budayanya mungkin seperti itu. Dan ini oke banget," ujar Diana. (GAB/SUK/002)