Banner Bawah

SUMPAH

Atmadja - atnews

2020-02-04
Bagikan :
Dokumentasi dari - SUMPAH
Slider 1

Oleh Wayan Windia
 ​Sumpah adalah janji spiritual yang magis. Bobotnya setara dengan kutukan. Dalam cerita rakyat di Sumbar, tercatat Si Malin Kundang yang angkuh, bisa segera menjadi batu, karena di sumpah atau di kutuk oleh ibunya. Sehingga tidak sedikit orang yang tidak berani mengucapkan “sumpah”, dan hanya bersedia menyatakan “janji”. Sumpah yang paling magis, monumental, dan menjadi buah bibir sepanjang masa, adalah sumpah Begawan Bisma dalam Epos Maha Berata. Sumpah Bisma, yang kemudian melahirkan perang Berata Yudha. Bisma bersumpah untuk bersedia tidak menjadi Raja Astina. Bahkan juga bersumpah untuk tidak menikah, agar keturunannya tidak ada yang harus menjadi Raja. Bisma bersumpah karena kecintaannya (yang berlebihan) kepada ayahndanya Raja Sentanu. Tapi menurut Sri Kresna, bahwa Bisma sebetulnya tidak melihat kebenaran.
Dalam perang Berata Yudha, Kresna kemudian menyalahkan Bisma karena sumpah-sumpahnya itu. Sumpah itu kemudian membawanya harus berpihak kepada Korawa. Perang Berata Yudha tidak akan terjadi, kalau Bisma (dan juga Drona dan Karna) tidak memihak kepada Korawa. Ini semua terjadi, karena adanya cinta yang berlebihan. Tampaknya, apapun yang dilakukan secara berlebihan (tanpa melihat kebenaran), akibatnya akan fatal. Hal itulah yang sering kita dengar dalam wacana masyarakat awam. Bahwa banyak orang-orang, khususnya pejabat negara yang tidak melihat kebenaran. Wacana masyarakat itu muncul, karena referensi yang ada, dan masuk eksis hingga kini. Referensinya adalah Epos Maha Berata, atau kadang-kadang Epos Ramayana.
Nilai positif yang bisa menjadi pembelajaran adalah, bahwa dalam cerita itu, Bisma sangat setia pada sumpahnya. Bisma melaksanakan sumpahnya. Meski kadang-kadang Begawan Bisma harus berkonsultasi terlebih dahulu dengan ikhlas kepada Ibunya, Dewi Gangga. Akhirnya sumpah itulah yang menjadi jalan untuk mengakhiri hidupnya. Sumpah yang lain, yang lahir dari kecintaan yang lain, adalah semacam sumpah dari Begawan Drona. Ia sangat mencintai anaknya Aswatama (karena memang anaknya terwujud dari doa-doanya kepada para Dewa). Tetapi kecintaannya sangat berlebihan, dan tanpa melihat kebenaran. Begitu Drona mendengar (berita hoax) bahwa anaknya berada dalam bencana, maka ia seketika menjadi lemas. Ia kemudian dengan mudah dapat ditebas oleh Dresta Jumena di medan perang Berata Yudha.
Demikian pula Karna menjadi celaka dalam hidupnya, karena ia sangat mencintai Korawa. Juga tanpa melihat kebenaran. Dalam perang Berata Yudha, Kresna mengingatkan akan kesalahannya itu. Akhirnya ia ikhlas dibunuh oleh Arjuna. Pelajaran yang dapat dipetik adalah bahwa Bisma, Drona, dan Karna adalah pengucap sumpah yang setia. Melaksanakan sumpahnya dengan jujur dan ikhlas. Kemudian mereka juga siap untuk menerima resikonya, atas sumpah yang diucapkannya. Adapun yang “menghukum”, pada akhirnya adalah Tuhan YME, dalam per-wujudan-nya sebagai Wisnu, yang diperankan oleh Krisna. Sumpah boleh-boleh saja, tetapi kebenaran jauh lebih penting nilainya.  
SUMPAH ZAMAN MILENIAL  
Saat ini, zaman terus berubah dan kebudayaan terus mengalami proses transformasi. Zaman sekarang disebut sebagai Zaman Kaliyuga. Sumpah serapah juga banyak dilakukan orang. Khususnya tokoh politik yang disumpah sebagai pejabat negara. Inilah sumpah zaman milenial. Kalau pada zaman purba sumpah yang diucapkan, dan dengan  teguh dilaksanakan. Tetapi pada zaman milineal, sumpah-sumpah yang diucapkan oleh kaum politikus, banyak yang tidak dilaksanakan. Sumpah untuk tidak melakukan tindakan yang menyalah gunakan kewenangan dan kekuasaan, ternyata tidak sepenuhnya dilaksanakan. Maka terjadilah kasus-kasus TOT oleh KPK. Nyaris 50% dari jumlah kepala daerah di Indonesia terkana OTT, atau masuk bui. Bahkan pimpinan nasional sekelas Ketua DPR, Ketua MK, dan Ketua DPD, harus juga terkena tindakan penangkapan yang dilakukan oleh KPK.
Hal itu bermakna bahwa sumpah itu tampaknya sangat riskan. Kalau sumpah dilaksanakan dengan konsisten, maka pada saatnya maka Tuhan akan memberikan imbalannya. Meski harus mati, tetapi matinya di medan perang. Seorang kesatria yang gugur di medan perang, maka sorgaloka akan menanti kehadirannya. Sebaliknya, kalau sumpah tidak dilaksanakan, maka yang menghukum adalah dunia sekala. Mereka yang akan menghukum adalah pejabat negara, seperti KPK misalnya. Mereka pasti akan masuk bui. Harga dirinya sudah tidak ada lagi. Apa masih ada gunanya kehidupan, kalau tidak memiliki harga diri? Banyak orang yang mengatakan bahwa dalam hidup kita boleh tidak memiliki apa-apa, tetapi kita tidak boleh tidak memiliki harga diri. Kaum pelanggar sumpah, tetap saja kita lihat cengar-cengir di depan kamera TV.  Seolah-olah seperti orang yang tidak berdosa. Kalau mereka mati, tentu saja akan menemukan neraka. Karena sumpah yang tidak dilaksanakan, dilakukan dengan melakukan korupsi, yang mengakibatkan penderitaan rakyat.
Bahasan di atas, sejatinya adalah cermin bagi kehidupan manusia ke depan. Bahwa sumpah, sejatinya harus dilaksanakan dalam kehidupan keseharian manusia. Kalau berani bersumpah, maka harus konskwen berani melaksanakannya dengan konsisten. Itulah namanya satya atau kesetiaan. Setia terhadap sumpah yang telah diucapkan. Sebagai akibat dari ucapan sumpah, bisa terjadi macam-macam. Untuk itu mereka harus siap menerima resiko. Bisma, Drona, dan Karna akhirnya masuk sorga. Sedangkan Setya Novanto, Imam Gusman, dan Akil Mokhtar akhirnya masuk penjara.
Mungkin itulah sebabnya Krisna mengritik Pandawa dan tokoh-tokoh penting lainnya yang terlibat dalam perang Berata Yudha. Karena mereka terlalu banyak mengeluarkan sumpah-sumpah, yang akhirnya menimbulkan perang Berata Yudha yang sangat dahsyat. Tercatat juga dalam perang itu, sumpah yang diucapkan oleh Drupadi. Bahwa ia akan tetap akan menguraikan rambutnya, sebelum dapat melakukan keramas  dengan darah dari Dursasana. Karena Dursasana-lah yang menjambak rambutnya, dan kemudian diusahakan untuk ditelanjangi, dalam sidang Kerajaan Astina. Sumpah juga diucapkan oleh Arjuna. Bahwa ia harus dapat membunuh Jayadrata sebelum matahari tenggelam di ufuk barat. Karena Arjuna mengetahui bahwa Jayarata-lah yang ikut membunuh anaknya Arjuna yakni Bimaniyu (Abimanyu), secara beramai-ramai. Karena Takdir, maka Kresna harus turun tangan agar Jaydrata bisa terbunuh sesuai sumpah Arjuna.
Itu semuanya adalah Takdir Tuhan, dan referensi dalam kehidupan kita sebagai manusia. Tidak ada sesuatu yang “terjadi” atau “tidak terjadi”, tanpa Takdir Tuhan. Satu helai daun yang jatuh ke tanah, dari pohonnya yang lebat, adalah juga karena Takdir Tuhan. Melalui berbagai kasus dan referensi itulah kita semua  harus meneguhkan diri kita sebagai hamba Tuhan. Seorang hamba Tuhan, yang yakin sekali bahwa hanya Tuhan-lah yang Maha Kuasa.
*) Penulis, adalah Guru Besar di Univ. Udayana, dan Ketua Dewan Pembina Yayasan Made Sanggra di Sukawati.

Baca Artikel Menarik Lainnya : Bangun SDM Bali, Koster Ajak Kepala Sekolah Terapkan Kearifan Lokal

Terpopuler

Makan Siang, De Gadjah - Koster Bahas Sampah, PSEL hingga Sekolah Rakyat

Makan Siang, De Gadjah - Koster Bahas Sampah, PSEL hingga Sekolah Rakyat

Pasca Segel BTID, Bandesa Adat Pariatha Nilai Aksi Dukungan Pansus TRAP Mengatasnamakan 'Warga Serangan', Curigai Benturkan dengan Investor

Pasca Segel BTID, Bandesa Adat Pariatha Nilai Aksi Dukungan Pansus TRAP Mengatasnamakan 'Warga Serangan', Curigai Benturkan dengan Investor

Sewa Pertokoan di Dalung

Sewa Pertokoan di Dalung

Carut-Marut Sampah

Carut-Marut Sampah

Penutupan Festasada 2026, Tunjukkan Kolaborasi Seni Budaya Kearifan Lokal

Penutupan Festasada 2026, Tunjukkan Kolaborasi Seni Budaya Kearifan Lokal

Dharma Santi Nasional 2026; Hindu Indonesia Gaungkan 'Vasudhaiva Kutumbakam', Perkuat Harmoni Bangsa dan Umat Manusia

Dharma Santi Nasional 2026; Hindu Indonesia Gaungkan 'Vasudhaiva Kutumbakam', Perkuat Harmoni Bangsa dan Umat Manusia