Bangli, (Atnews)— Masyarakat Bangli sebagian besar terlibat di kerajinan bambu. Kerajinan ini didukung oleh ketersediaan bahan baku (bambu), sehingga lebih menguntungkan. Melesunya ekonomi masyarakat kini sangat berdampak terhadap kelangsungan hidup perajin bambu di Kabupaten Bangli kian menurun. Betapa tidak, sejak beberaapa pekan ini order kerajinan bambu mengalami penurunan hingga 30 persen dari sebelumnya.
Tokoh masyarakat Desa Kayubihi I Wayan Mertha Suteja saat dihubungi, Rabu (08/04) menuturkan nasib kurang beruntung kini menghinggapi para perajin bambu di desanya. Pasalnya, sejak Covid 19 merebak di dunia, order kerajinan bambu turun. “Menurut informasi yang kami dapat dari sejumlah perajin penurunan mencapai 30 sampai 50 persen,” katanya.
Lanjut disampaikan, order kerajinan bambu tidak saja untuk pasaran lokal. Perajin yang selam ini ekspor kerajinan bambu juga mengeluh lantaran terjadinya penurunan order yang sangat signifikan. “ Di desa kami selama ini ada sejumlah perajin yang mengekspor kerajinan bambu. Mereka kini juga tengah kelimpungan, karena merosotnya ekspor” ujarnya.
Sementara salah seorang perajin bambu I Nengah Purna secara terpisah mengakui belakangan ini semenjak Corona merebak di Bali maupun daerah lainnya, mengakibatkan order kerajinan bambu, khususnya jenis sokasi turun drastis. .
Dengan turunnya daya beli masyarakat, mengakibatkan perajin terpaksa menurunkan nilai jual. Dicontohkan, sokasi sebelumnya dijual Rp 140 ribu kini turun menjadi Rp 100 ribu. “Bila kondisi ini terus berlanjut kita bisa merugi,”pungkasnya (Anggi/atm)