Denpasar (Atnews) - Agro Learning Center (ALC) mendapatkan apresiasi dari berbagai kalangan dalam membangun pertanian perkotaan dalam mewujudkan ketahanan pangan Bali di tengah pandemi COVID-19.
Pertanian merupakan modal utama dalam pembangunan daerah, namun belum mendapatkan respon yang signifikan dibandingkan sektor pariwisata yang memang menjadi andalan Pulau Dewata.
Untuk itu, ALC kedatangan sejumlah Seniman Mural Muda yang menyumbangkan gagasan dan karya seninya yang mengangkat sosok wanita atau seorang ibu dalam membangkit kesadaran masyarakat pentingnya menjaga keberlanjutan sektor pertanian.
Karya tersebut ditata dengan apik sehingga memiliki nilai dan pesan moral bagi masyarakat yang mencermatinya.
Hal itu disampaikan Seniman Mural I Ketut Sedana yang juga tergabung dalam Komunitas Baligrafi di Denpasar, Senin (10/8).
Ia menjelaskan, karya tersebut yang menggambarkan kondisi kekinian ibu pertiwi yang dihadapkan oleh pembangun fisik dan sebagin masyarakat masih tetap berdoa maupun berusaha agar lahan pertaniannya tetap terjaga.
Menurut kepercayaan Hindu, tanah sebagai pijakan setiap makhluk hidup merupakan salah satu ibu dari tujuh ibu yang dimiliki.
Tujuh ibu yang patut dimuliakan ibu kandung, istri guru kerohanian, istri brahmana, istri raja, sapi, perawat dan bumi.
Untuk itu, pihaknya mencoba memadukan catur warna yakni merah, kunih, hitam, putih dan sisa warna biru dalam karyanya.
"Ini sebagai simbul kedamaian dan kesuburan kehidupan," kata Sedana.
Bahkan dalam karyanya ditulis sebuah kalimat "Long Life The Farmer" untuk memberikan dukungan petani agar selalu umur panjang.
Sementara itu, Founder ALC I Nyoman Baskara menilai karya seniman mural relevan dengan kondisi kekinian.
Diharapkan memberikan sentuhan seni dalam membangun semangat bertani masyarakat khususnya pemuda Bali.
Oleh karena, lama terlena dengan sektor pariwisata, padahal budaya pertanian merupakan pondasi wisatawan tertarik datang ke Bali.
Namun, ekosistem menjadi kurang mendukung pengembangan kepariwisataan yang berkelanjutan belakangan ini akibat dampak eksplotasi budaya untuk pariwisata berinduk pada pertanian.
"Lupa potensi Pulau Dewata dimana basis pariwisata Bali adalah pertanian, ketika tahun 1930-an hanya beberapa wisatawan ke Bali karena alam dan budaya bukan karena fasilitas mewah," tegas Baskara.
Untuk itu, pentingnya membangun pertanian dalam arti luas untuk mempertahankan budaya dan alam Bali.
Apalagi lumpuhnya ekonomi dan predeksi resesi ekonomi pada kuartal ketiga maupun keempat maka ketahanan pangan menjadi semakin nyata dan mutlak diperhatikan dengan serius. (ART/001)