Oleh I Gde Sudibya
Bali yang didera sangat dalam ekonominya akibat pandemi, memerlukan pemikiran visioner untuk menjawab beberapa pertanyaan:
(1) Bagaimana perekonomian Bali mesti segera diselamatkan, dalam paket kebijakan penyelamatan yang segera, terukur, untuk menghindari risiko kebangkrutan usaha terutama di sektor patiwisata, akibat kontraksi ekonomi yg.dalam?. Tanpa paket penyelamatan ini, eksodus penjualan properti Bali dengan harga miring, tidak lagi dapat dihindarkan, dengan segala risiko yang menyertainya.
(2) Bagaimana industri pariwisata semestinya dikembangkan pasca pandemi, industri yang selama 4 dasa warsa menjadi mesin pertumbuhan perekonomian Bali?.
(3) Bagaimana model pembangunan, proses indutrialisasi diarahkan, untuk menciptakan perekonomian yangebih seimbang, berkeadilan dan tidak lagi merusak
Iingkungan, dalam artian lingkungan fisik alam dan nilai-nilai sosial kultural?.
Jawaban untuk pertanyaan-pernyataan di atas memerlukan pemikiran yg.lebih mendalam, berdemensi ke depan, berangkat dari realitas yang ada (betapapun pahitnya realitas itu), tidak cukup sebatas himbauan, maaf sambil lalu, untuk melakukan bech marking (peniruan nyaris sempurna) terhadap keberhasilan proses industrialisme di tempat lain, tanpa memahami dengan baik, realitas "besi " permasalahannya, tidak saja dalam ukuran-ukuran ekonomi, tetapi pula hambatan, tantangan sosial kultural.
Tantangan bagi krama Bali, apakah akan bangkit dari keterpurukan, atau tanda-tanda awal dari " sandya kalaning " Bali, yang kemudian " ditelan " oleh zaman?.
*) I Gde Sudibya ekonom, konsultan dan pengamat ekonomi Bali.