Banner Bawah

Bali Jadi Andalan Devisa Pariwisata, Ini Penjelasan Sederhananya

Admin 2 - atnews

2026-05-01
Bagikan :
Dokumentasi dari - Bali Jadi Andalan Devisa Pariwisata, Ini Penjelasan Sederhananya
Pengurus PHRI Bali Trisno Nigroho (ist/atnews)

Denpasar (Atnews) -  Provinsi Bali kembali menegaskan perannya sebagai salah satu penyumbang utama devisa negara dari sektor pariwisata. Setiap kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Pulau Dewata tidak hanya berdampak pada sektor pariwisata, tetapi juga memberikan kontribusi nyata terhadap perekonomian nasional.

Hal itu disampaikan Pengurus PHRI Bali Trisno Nigroho yang juga Pengamat Ekonomi dan Pariwisata di Denpasar, Jumat (1/5).
 
Menurutnya, secara sederhana devisa pariwisata merupakan pemasukan berupa uang asing yang dibawa dan dibelanjakan oleh wisatawan asing selama berada di Indonesia. 

Ketika wisatawan datang ke Bali, mereka menukar mata uang asing menjadi rupiah, kemudian digunakan untuk membayar hotel, makan di restoran, transportasi, hingga berbelanja produk lokal. 

Dalam konteks itu, pariwisata bisa dipahami sebagai ekspor jasa. "Kita tidak mengirim barang ke luar negeri, tetapi justru mendatangkan orang luar ke dalam negeri, dan mereka yang membelanjakan uangnya di sini," kata Trisno yang juga Mantan Kepala Bank Indonesia (BI) Bali.
 
Bali sebagai mesin devisa, sebagai destinasi utama Indonesia, Bali menjadi pintu masuk terbesar wisatawan asing. 

Kondisi ini menjadikan Bali sebagai salah satu “mesin devisa” nasional di sektor jasa. Setiap peningkatan jumlah wisatawan secara langsung berkontribusi pada peningkatan devisa. 

Namun demikian, jumlah kunjungan bukan satu-satunya indikator. Yang tidak kalah penting adalah: rata-rata pengeluaran wisatawan, lama tinggal dan kualitas pengalaman wisata. 

Wisatawan yang tinggal lebih lama dan membelanjakan lebih banyak akan memberikan kontribusi devisa yang lebih besar dibandingkan kunjungan singkat,” jelasnya.
 
Di tingkat daerah, aktivitas wisatawan juga berdampak langsung terhadap penerimaan pajak, seperti Pajak Hotel dan Restoran (PHR). 

Namun perlu dipahami, PHR bukan termasuk devisa, melainkan penerimaan daerah yang berasal dari aktivitas ekonomi wisatawan. Devisa itu uang asing yang masuk ke negara. 

Sementara PHR adalah pajak yang dipungut pemerintah daerah dari transaksi yang dilakukan wisatawan. Jadi PHR adalah dampak lanjutan dari devisa pariwisata. 

Penerimaan PHR ini menjadi salah satu sumber utama pendapatan daerah, khususnya di Kabupaten Badung, Kabupaten Gianyar dan Kota Denpasar yang kemudian digunakan untuk membiayai pembangunan infrastruktur, pengelolaan sampah, hingga layanan publik.
 
Trisno pun mengungkapkan tantangan dan kebocoran devisa. Meski memberikan kontribusi besar, sektor pariwisata juga menghadapi tantangan berupa kebocoran devisa (leakage). 

Sebagian pengeluaran wisatawan tidak seluruhnya tinggal di dalam negeri, misalnya karena: penggunaan produk impor, kepemilikan usaha oleh pihak asing, platform digital global. Kondisi ini membuat sebagian nilai devisa kembali keluar dari Indonesia.
 
Ke depan, Bali pengembangkan pariwisata wajib diarahkan untuk tidak hanya mengejar jumlah wisatawan, tetapi juga meningkatkan kualitas pariwisata. 

Upaya yang dilakukan antara lain mendorong penggunaan produk lokal, memperkuat UMKM, mengembangkan pariwisata berbasis budaya dan lingkungan dan mengoptimalkan kebijakan seperti pungutan wisatawan asing (PWA). 

Dengan pendekatan itu, devisa yang dihasilkan diharapkan tidak hanya meningkat secara nominal, tetapi juga memberikan manfaat yang lebih luas dan berkelanjutan bagi masyarakat Bali.
 
Peran Bali dalam menghasilkan devisa pariwisata tidak dapat dipandang sebelah mata. 

Namun, tantangan ke depan bukan hanya meningkatkan angka devisa, melainkan memastikan bahwa manfaatnya dapat dirasakan secara merata dan berkelanjutan. 

Dengan strategi yang tepat, Bali tidak hanya menjadi destinasi wisata unggulan, tetapi juga contoh bagaimana sektor pariwisata dapat menjadi pilar utama ekonomi daerah dan nasional.

Disamping itu, Trisno juga menjelaskan sumber devisa negara juga bisa dihasilkan dari ekspor barang & jasa, penjualan komoditas seperti CPO, batu bara, nikel, tekstil, kopi, dan produk manufaktur ke pasar internasional.

Berikutnya, remitansi TKI/PMI, kiriman uang dari Pekerja Migran Indonesia yang bekerja di luar negeri kepada keluarga di tanah air.

Investasi Asing (FDI), penanaman modal langsung dari investor asing untuk membangun pabrik, infrastruktur, atau bisnis di Indonesia.

Jasa Transportasi & Keuangan, pendapatan dari layanan pelayaran, penerbangan internasional, dan transaksi perbankan lintas negara.

Hibah & Bantuan Internasional, dana hibah atau bantuan teknis dari lembaga seperti Bank Dunia, IMF, atau negara mitra.

Selain pariwisata, Bali juga memiliki sumber devisa ekspor tekstil, kopi, coklat, cacao dan ikan tuna.

Ditekankan kembali, soal devisa pariwisata, ketika wisatawan datang ke Bali, mereka menukar mata uang asing menjadi rupiah, kemudian digunakan untuk membayar hotel, makan di restoran, transportasi, hingga berbelanja produk lokal. (ART/002)

Baca Artikel Menarik Lainnya :  Usai Upacara Puncak Karya Ida Bhatara Turun Kabeh, Gunung Agung Erupsi 1 Menit. 47 Detik

Terpopuler

Presiden Prabowo Umumkan Serangkaian Kebijakan Perlindungan Pekerja pada May Day 2026

Presiden Prabowo Umumkan Serangkaian Kebijakan Perlindungan Pekerja pada May Day 2026

Basket di akhir Pekan, Muda dan Lansia

Basket di akhir Pekan, Muda dan Lansia

Sewa Pertokoan di Dalung

Sewa Pertokoan di Dalung

Gubernur Wayan Koster Ajak Semua Pihak Cintai Produk Lokal

Gubernur Wayan Koster Ajak Semua Pihak Cintai Produk Lokal

Hadiri HUT ke-54 STT Dharma Prawerti, Wabub Badung Bagus Alit Sucipta Dorong Generasi Muda Jaga Harmoni Banjar

Hadiri HUT ke-54 STT Dharma Prawerti, Wabub Badung Bagus Alit Sucipta Dorong Generasi Muda Jaga Harmoni Banjar

Bali Jadi Andalan Devisa Pariwisata, Ini Penjelasan Sederhananya

Bali Jadi Andalan Devisa Pariwisata, Ini Penjelasan Sederhananya