Oleh Jro Gde Sudibya
Beredar di medsos foto pengemis dan pengamen dengan pakaian dresta Bali di kota Denpasar, menjadi timbul pertanyaan, fenomena sosial apa ini?.
Patut diberikan catatan sbb.:
1. Tanda luar (external sign) dari meningkatnya jumlah orang miskin dan orang rentan menjadi miskin, setelah krisis ekonomi selama 19 bulan akibat pandemi di Bali.
2. Indikasi paket bantuan sosial yang diberikan pemerintah, seperti BLT dan yang lainnya, tidak memadai untuk memenuhi kebutuhan minimal kelompok sasaran, sehingga harus memilih " profesi " pengemis dan pengamen lengkap dengan "atribut" pakaian dresta Bali.
3. Program PEN (Pemulihan Ekonomi Nasional) yang dananya cukup besar, tampaknya progam ini belum mampu mengungkit perekomian: penciptaan kesempatan kerja dan peningkatan pendapatan, untuk mengerem laju pertambahan orang miskin dan rentan menjadi miskin.
4. Fenomena di atas, pengemis dan pengamen dengan dresta Bali, seharusnya menjadi peringatan, wake up call, bagi ekskutif dan legislatif di tingkat provinsi, kabupaten,kota untuk melakukan trobosan kebijakan penanggulan kemiskinan yang bersifat segera dan terukur. Kebijakan yang menggambarkan empati pada wong cilik, rakyat yang terpinggirkan. Sejarah Bali di masa lalu yang jauh mencatat: raja besar Bali Cri Aji Jayapangus dan kemudian Ida Dalem Waturenggong, raja yang tetap dikenang dan dihormati sampai kini, karena komitment dan pemihakannya kepada wong cilik. Cukup banyak prasasti yang mencatat narasi kepemimpinan besar Bali dari kedua raja besar nan terhormat ini.
5. Dengan menggunakan atribut dresta Bali, terbersit pertanyaan: jika sebelumnya atribut luar ini merupakan identitas, kebanggaan dan harga diri krama Bali, dengan kasus ini atribut yang dimaksud." tersungkur " ke titik nadirnya, tidakkah fenomena ini memberikan indikasi luar dari terjadinya krisis kebudayaan manusia Bali ?.
*) Jro Gde Sudibya, ekonom, pengamat ekonomi dan menulis buku tentang kebudayaan Bali.