Banner Bawah

Bagaimana Pendapat Tokoh Soal Pernyataan Wedakarna di Bea Cukai Bandara Ngurah Rai?

Admin - atnews

2024-01-06
Bagikan :
Dokumentasi dari - Bagaimana Pendapat Tokoh Soal Pernyataan Wedakarna di Bea Cukai Bandara Ngurah Rai?
Slider 1

Denpasar (Atnews) - Dukungan kepada Arya Wedakarna mengalir dari tokoh muda Hindu. Waketum Persadha Nusantara Dr. Gede Suardana menyatakan pernyataan Arya Wedakarna tidak mengandung unsur penistaan agama.

“Pernyataan Dia tidak ada menyebutkan agama sehingga tidak bisa disebutkan penistaan agama,” kata Suardana yang juga Calon DPD RI asal Buleleng, Jumat (5/1/2024).

Pernyataan Arya Wedakarna di Bea Cukai Bandara Ngurah Rai soal pelayanan yang baik di bandara adalah benar.

“Apa yang diperjuangkan Wedakarna itu benar, hanya caranya kurang tepat. Masih ada cara lain,” ujar mantan ketua KPU Buleleng ini.

Suardana mengatakan yang diperjuangkan AWK soal pelayanan di Bandara baik Bea Cukai, itu benar. Pihak bandara harus segera berbenah.

“Tetapi soal cara sedikit offside sehingga disalah tafsirkan. Namun, kalau mendengar detail tidak ada pelecehan agama karena tidak menyebut agama manapun,” jelas Suardana.

“Hanya menyebut midlle East dan itu tempat bukan agama,” tegasnya.

“Soal penutup kepala juga bukan menyebutkan agama karena tradisi menutup kepala juga dipakai di berbagai negara termasuk India,” kata Suardana.

Sementara itu, Ketua Forum Komunikasi Alumni (Forkoma) Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Bali Emanuel Dewata Oja (Edo) mengatakan, secara substansial apa yang dinyatakan oleh AWK itu normatif.

Karena Anggota DPD RI juga punya fungsi untuk mendorong pemberdayaan tenaga kerja lokal. Setiap daerah di Indonesia juga punya kepedulian yang sama terhadap Tenaga Kerja Lokal (TKL) yang telah diatur dengan regulasi daerah yang berlaku.

Sebagaimana di Bali ada Perda No.10/2019 tentang TKL. Jelasnya aturan memprioritaskan TKL diatur dalam Pasal 37 Perda 10/2019. 

"Hanya saja narasi dan pola komunikasi AWK kurang pas dan punya tingkat sensifitas tinggi terhadap keberagaman dan kebhinekaan sebagai warga NKRI," ujarnya.

Dalam kontroversi pernyataan AWK itu, seharusnya memang pihak Bea Cukai dan Angkasa Pura melakukan evaluasi total perekrutan tenaga kerja di Bandara Ngurah Rai.

Demikian juga lembaga-lembaga outsourcing harus taat pada regulasi ketenagakerjaan di daerah.

Namun, A A Gede Agung Aryawan selaku Calon DPRD Provinsi Bali Dapil 1 Kota Denpasar Dari Partai Perindo No Urut 1 mengungkapkan viralnya video DPD RI Dapil Bali Arya Wedakarna saat rapat di Bandara Ngurah Rai terkait tutup kepala wanita dan ucapan selamat datang Namaste yang ramai dan sudah ada beberapa pihak yang melaporkan adalah sikap pribadinya.

"Kami sebagai masyarakat Bali khususnya beragama Hindu sangat menjunjung tinggi nilai-nilai Bhineka Tunggal Ika dalam Pancasila yang di kutip dari Kitab Sutasoma. Tapi ucapan selamat datang sesuai Adat Budaya Bali berdasarkan Ajaran Agama Hindu adalah Om Swastiastu yang biasa kita dengar dalam kehidupan keseharian masyarakat Bali," ujar Gung De.

Bandara Ngurah Rai sebagai pintu masuk Pariwisata Bali yang berdasarkan Pariwisata Budaya sudah sangat mencerminkan Adat Budaya Bali secara Proporsional seperti saat kedatangan Kepala Negara Peserta KTT G-20 disambut meriah dengan Tari Bali dan Kesenian Bali. Arsitektur Bali juga sangat dominan menghiasi setiap sudut Bandara Ngurah Rai, termasuk juga sambutan dari Biro Perjalanan atau Travel yang berpakaian Adat  Bali dengan kalungan bunga sudah sering terjadi di Bandara Ngurah Rai Bali.

Jadi ciri khas Bandara Ngurah Rai sebagai ikon pintu masuk wisatawan ke Pulau Dewata sudah sangat mencerminkan citra Pariwisata Budaya. Budaya Bali kita lanjutkan adalah warisan budaya leluhur kita yang sudah terbiasa hidup dengan berbagai suku, agama &
Dan ras. Jaman kerajaan sudah ada Kampung China Jalan Gajahmada Denpasar, Kampung Jawa, Kampung Arab India, Kampung Bugis, Kampung Islam Kepaon dll yang hidup damai rukun berdampingan tidak ada masalah sampai keturunannya saat ini. Kehidupan sehari-hari saling bergotong royong dan menjalin hubungan persaudaraan sesama Warga Negara Indonesia.

Jadi jangan lah terlalu berlebihan tidak boleh ada pakai tutup kepala wanita, yang terpenting semua bekerja secara profesional melayani penumpang sebagai citra Bali sebagai orang yang sangat menjunjung tinggi toleransi dan Bhineka Tunggal Ika seperti dalam Kitab Sutasoma. Jika masyarakat Bali sebagai masyarakat lokal terdampak minta porsi lebih besar itu adalah keharusan, demi menjaga kearifan lokal.

"Mari kita semua menjaga hubungan toleransi antar umat beragama di Negara Indonesia yang kita cintai, jaga sikap saling menghargai dan menghormati sesama Umat Beragama. Hal utama dalam hidup ini adalah rasa kemanusiaan antar sesama manusia untuk saling tolong menolong dalam kebaikan," tegas Gung De Aryawan. (gab/001)

Baca Artikel Menarik Lainnya : Pengetasan Kemiskinan Berbasis Pembangunan Desa di Sumsel

Terpopuler

Makan Siang, De Gadjah - Koster Bahas Sampah, PSEL hingga Sekolah Rakyat

Makan Siang, De Gadjah - Koster Bahas Sampah, PSEL hingga Sekolah Rakyat

Pasca Segel BTID, Bandesa Adat Pariatha Nilai Aksi Dukungan Pansus TRAP Mengatasnamakan 'Warga Serangan', Curigai Benturkan dengan Investor

Pasca Segel BTID, Bandesa Adat Pariatha Nilai Aksi Dukungan Pansus TRAP Mengatasnamakan 'Warga Serangan', Curigai Benturkan dengan Investor

*DPRD Badung mengucapkan Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri*

*DPRD Badung mengucapkan Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri*

Carut-Marut Sampah

Carut-Marut Sampah

Penutupan Festasada 2026, Tunjukkan Kolaborasi Seni Budaya Kearifan Lokal

Penutupan Festasada 2026, Tunjukkan Kolaborasi Seni Budaya Kearifan Lokal

Dharma Santi Nasional 2026; Hindu Indonesia Gaungkan 'Vasudhaiva Kutumbakam', Perkuat Harmoni Bangsa dan Umat Manusia

Dharma Santi Nasional 2026; Hindu Indonesia Gaungkan 'Vasudhaiva Kutumbakam', Perkuat Harmoni Bangsa dan Umat Manusia