Bilbao Spanyol, Ubah Wajah Industri jadi Kota Budaya Bersih Hijau
Bilbao Spanyol, Ubah Wajah Industri jadi Kota Budaya Bersih Hijau
Admin -
atnews
2024-10-02
Bagikan :
Putu Suasta, Seorang Pengelana Global yang Alumni UGM dan Cornell University (ist/Atnews)
Denpasar (Atnews) - Putu Suasta, Seorang Pengelana Global yang Alumni UGM dan Cornell University bersamaWakil Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional SOKSI Valentino Barusmengunjungi Bilbao, Kota kecil di Spanyol bersih hijau.
Penduduknya ramah, terkontrol pemerintahnya dengan baik dan tanggung jawab, air kran langsung dapat diminum. Transportasi pake mobil listrik termasuk taksi. "Penduduk kebanyakan pake trasportasi bus umum," kata Putu Suasta di Spanyol, Rabu (2/10).
Menurutnya, jaringan Eurocities di kota-kota metropolitan Eropa, yang mewakili 130 juta penduduk di lebih dari 200 kota di 38 negara, telah memilih ibu kota Biscay untuk menyelenggarakan Forum Pembangunan Ekonomi tahun depan.
"Bagi anggota Dewan Kota Bilbao, Xabier Ochandiano, ini adalah berita bagus yang sekali lagi menempatkan kita dalam sorotan internasional, memimpin pertemuan di mana kita dapat melihat tantangan-tantangan besar di masa depan," ujarnya.
Pada tanggal 23, 24 dan 25 Oktober 2024, Bilbao akan menjadi markas resmi Forum Pembangunan Ekonomi jaringan Eurocities, yang akan mempertemukan walikota dan pemimpin kota-kota utama Eropa, serta sejumlah besar pengambil keputusan pejabat dari Uni Eropa, untuk mengatasi berbagai masalah terkait inovasi dan peran kota dalam mengatasi tantangan besar global.
Transformasi Bilbao, menjadi kota Peradaban yang bersih dan Ekologis Bilbao, sebuah kota "kecil" di sebelah barat Spanyol.
Landscape-nya indah tertata dan saat ini dikenal sebagai salah satu kota budaya yang peduli terhadap pembangunan berkelanjutan dan berwawasan lingkungan.
Putu Suasta di tengah penat dan letih setelah penerbangan panjang Jakarta-Paris, pihaknya berlima bersama Valentino, Putu, Milda, Ary, dan Sapto), bersua Eduardo dan Unay di terminal 3 bandara internasional Paris Charles de Gaulle (CDG).
"Keduanya ramah dan banyak menjawab kebingungan kami, di tengah mayoritas masyarakat Prancis yang tidak berbahasa Inggris," ujarnya.
Apalagi Eduardo dan Unay pernah berlibur dua kali ke Indonesia, dan tentu saja juga ke Bali. Namun, keduanya mengernyit ketika ditanya kapan akan ke Indonesia lagi. Terlalu banyak perubahan akibat pembangunan dahsyat. Modernisasi telah merubah wajah Indonesia," kata Unay. Ke depan mungkin akan ke Korea Selatan atau Jepang, yang relative mahal. "Tapi tunggu nabung dulu" kata mereka serentak.
Kebetulan sekali Eduardo dan Unay sedang balik ke Bilbao, kota dimana mereka berasal dan bekerja pada saat ini.
Pihaknya pun berkesempatan memperkaya pengetahuan yang sangat minim tentang kota ini. Kemudian pihaknya sampai pada kesimpulan bahwa Unay dan Eduardo adalah representasi masyarakat Bilbao yang ramah dan terbuka, sebagaimana tercermin dari karakter arsitektur museum Guggenheim Bilbao.
Dulu Bilbao adalah kota industri yang dipenuhi banyak pabrik. Kota ini sangat kotor dan polutif. Namun, kepemimpinan dan masyarakat kota sepakat untuk merubah wajah kota.
Berbagai pabrik di geser, di lokalisir ke luar kota. Dan kota ini ditata menjadi kota budaya dengan pembangunan gedung berarsitektur Spanyol barat.
Selain itu masyarakat dan dewan kota serius mendorong peningkatan kualitas pendidikan dan penelitian di universitas Deusto sehingga menempatkan universitas ini sebagai salah satu lembaga pendidikan terdepan di Spanyol.
Bilbao kemudian bertransformasi menjadi kota budaya dan kota pendidikan. Semacam posisi Yogyakarta di masa lalu.
Sesungguhnya nama Bilbao cukup terkenal karena kerap muncul di layar TV tanah air. Tetapi itu lebih karena penampilan kesebelasan sepak bolanya, bukan tentang kotanya.
Dengan wajah berseri, Unay bercerita tentang kesebelasan kebanggaan kota ini. Dibandingkan dengan kesebelasan lain, seperti Real Madrid, Barca, dan banyak lainnya, prestasi kesebelasan Atletico Bilbao terlihat biasa saja. Tapi saat ini, Atletico Bilbao merupakan satu-satunya kesebelasan tersisa yang meng "haramkan" pemain dari luar Bilbao masuk dan bergabung, kata Unay bersemangat.
Seolah hendak mengatakan bahwa melalui sepak bola mereka bertekad mengangkat harkat dan martabat masyarakat nya.
Dengan mengutamakan "local wisdom" mereka mengelola manejemen persepakbolaan kota itu. Ada baik dan buruknya, tetapi masyarakat Bilbao saat ini boleh berbangga sebagai satu satunya kesebelasan yang 100 persen pemainnya orang lokal.
Menjadi kebanggaan bersama bagi warga kota, sebagaimana mereka bangga dengan status kota mereka saat ini, kota budaya dan kota pendidikan.
Jaringan Eurocities, jaringan kota-kota metropolitan Eropa, yang mewakili 130 juta penduduk di lebih dari 200 kota di 38 negara, telah memilih Bilbao untuk menyelenggarakan Forum Pembangunan Ekonomi untuk melihat tantangan-tantangan besar di masa depan.
Forum yang mempertemukan para walikota dan pejabat Uni Eropa, untuk mengatasi berbagai masalah terkait inovasi dan peran kota dalam mengatasi tantangan besar global. Kepercayaan tersebut menunjukkan betapa Bilbao telah menempatkan diri sebagai model pembangunan berkelanjutan dan berwawasan lingkungan.
Dan ditengah maraknya ego sektoral, lokal dan parsial yang semakin memperbesar ancaman pemanasan global dan kekeringan, Bilbao tampil dengan kesadaran "think Globally, act locally".
"Bilbao bukanlah tujuan kami. Kota ini merupakan awal dari perjalanan panjang menuju Santiago de Compostella, Fatima (Portugal), Roma, Lourdes (Prancis), dan Paris," ujarnya.
Namun, dua hari menjelajahi kota ini ternyata lebih dari cukup membuat hati kami tertambat dan berharap. Semoga, pembangunan kota-kota di tanah air bisa menimba pengalaman panjang pemimpin dan masyarakat Bilbao dalam menyongsong pembangunan hijau ke depan. "Adios masyarakat Bilbao, ke kota mu kami kan kembali," pungkasnya (GAB/001).